sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Faisal Basri: Ekonomi Indonesia akan jatuh hingga -2,5%

Faisal Basri mengkritik prediksi pertumbuhan ekonomi yang dibuat International Monetary Fund (IMF).

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Jumat, 24 Apr 2020 17:15 WIB
Faisal Basri: Ekonomi Indonesia akan jatuh hingga -2,5%
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 389.712
Dirawat 62.649
Meninggal 13.299
Sembuh 313.764

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri menilai bahwa prediksi pertumbuhan ekonomi yang dibuat International Monetary Fund (IMF) untuk Indonesia janggal.

IMF sebelumnya memprediksi bahwa pada 2021 ekonomi Indonesia akan mengalami V-shape atau pertumbuhan menanjak setelah terpukul pandemi Covid-19 di 2020.

IMF bahkan memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 8,2% di 2021 atau melonjak tajam dibandingkan dengan asumsi 2020 yang hanya sebesar 0,5%.

"Ada yang aneh dari prediksi IMF soal rebound di 2021 yang tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Seolah-olah Covid-19 ini akan hilang tiba-tiba dan hidup normal kembali," katanya dalam video conference, Jumat (24/4).

Untuk itu, dia pun memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 hanya akan tumbuh 0,5% di skenario terbaiknya, dan tumbuh minus antara 2% hingga 2,5% di skenario terburuk.

"Oleh karena itu saya menduga, ekonomi Indonesia akan tumbuh hanya 0,5% optimis dan pesimisnya ya -2% sampai -2,5%," ujarnya.

Menurutnya, kondisi perekonomian global dan Indonesia akan mengalami situasi yang lebih buruk dari yang dibayangkan oleh IMF. Dia pun menuturkan pascapandemi Covid-19 dunia akan mengalami normal yang baru.

"Rasanya dunia akan mengalami new normal recovery. Oleh karena itu saya lihat prediksi IMF masih konservatif dan dunia saya rasa akan lebih buruk dari prediksi IMF dan 2021 tidak akan secepat itu recovery," ujarnya.

Sponsored

Dia menjelaskan kondisi normal yang baru tersebut akan membuat perusahaan melakukan penyelarasan atau adjustment

Di sisi lain, kata Faisal, doktrin ekonomi akan berubah. Pemimpin dunia akan lebih fokus kepada dampak perubahan iklim dan juga ekonomi didorong untuk mengandalkan kepada penguatan sumber daya manusia.

"Selain itu social safety nett akan diperkuat, isu universal income akan lebih mengemuka," ucapnya.

Untuk Indonesia, dia mengatakan sulit membayangkan bahwa perbaikan akan berjalan dengan cepat. Hal itu disebabkan buruknya penanganan Covid-19 di Tanah Air, yang kebijakannya serba terlambat.

"Mudik sudah jutaan keluar baru dilarang, PSBB di Jakarta enggak karuan. Jadi kita tidak pernah bisa tahu kapan puncaknya dan ongkosnya semakin besar," tuturnya.

Berita Lainnya