sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Faisal Basri harap pembentukan holding UMKM dibatalkan

Jika tujuan pembentukan holding UMKM tersebut untuk memperdalam sektor keuangan, hal tersebut tidak akan terjadi.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Rabu, 13 Jan 2021 17:32 WIB
Faisal Basri harap pembentukan holding UMKM dibatalkan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Pemerintah berencana membentuk holding Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang terdiri dari tiga perusahaan pelat merah, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero), dengan perusahaan induk BRI.

Menanggapi rencana ini, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri, menyebutkan hal itu adalah sesat pikir dan harus dibatalkan, karena berbeda karakteristik, sejarah, tujuan, dan segmentasi dari masing-masing perusahaan. 

"Mari kita upayakan, kita dorong kesadaran bahwa inisiatif ini kalau bisa dibatalkan karena memang sesat pikir sekali," katanya dalam webinar, Rabu (13/1).

Jika tujuan pembentukan holding UMKM tersebut untuk memperdalam sektor keuangan, hal tersebut tidak akan terjadi. Karena, financial development index (FDI) sektor keuangan Indonesia hanya berada di posisi rendah dengan level 0,37, sementara negara tetangga seperti Singapura berada di level 0,75, Thailand 0,7, dan Malaysia 0,68.

"Jadi kita tuh kedalamanya yang paling cetek. Kalau lembaga keuangan luar negeri itu mainnya di samudera, kita diselokan. Memang kita enggak pernah tenggelam, namanya juga di selokan," ujarnya.

Lagipula, usaha menggabungkan BRI dengan berbagai perusahaan yang berbeda jenisnya dalam satu wadah, tidak akan memperbesar BRI sebagai holding dari UMKM tersebut.

Menurutnya, yang harus dilakukan untuk memperbesar BRI adalah dengan membeli perusahaan-perusahaan perbankan kecil seperti Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Syariah Baitul Mal wa Tamwil (BMT) yang sakit, sehingga menjadi sehat dan semakin besar. Jadi bukan mengakuisisi perusahaan sehat yang berbeda jenisnya.

"Cara untuk memperbesar BRI adalah beli itu BPR, BMT, sesama bank atau bank-bank lain yang tidak kuat untuk mengembangkan diri. Sehingga terjadilah konsolidasi perbankan tadi untuk meningkatkan finansial," ucapnya.

Sponsored

Dari sisi aset, sektor perbankan di Indonesia merupakan yang terendah dibandingkan negara-negara lain sekawasan. Aset perbankan di Indonesia hanya sebesar 55%, sedangkan Malaysia mencapai 184%, Singapura 272%, Thailand 125%, dan Philipina 87%. 

"Bank di Indonesia itu jago kandang. Kalau mau bermain di pasar global mbok ya konsolidasi memperkuat bisnis inti. Kemudian merger di antara bank-bank milik pemerintah atau membeli bank lain supaya prosesnya lebih cepat," ujarnya.

Penggabungan BRI dengan Pegadaian, dan PNM menurutnya bukan pilihan tepat, dan akan menghancurkan segmentasi masing-masing perusahaan. 

Pasalnya, PNM dibutuhkan oleh pengusaha yang baru memulai usaha dan belum mendapatkan akses pinjaman dari bank, serta butuh pendampingan manajemen. Sedangkan, pegadaian menjangkau 30% masyarakat miskin produktif yang tidak tersentuh BRI.

"Kalau digabung tidak akan memperdalam sektor keuangan. Atau boleh jadi PNM dan Pegadaian jadi subordinasi dari fungsi yang pertama ini (BRI)," tegasnya.

 

Berita Lainnya