sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Faisal Basri: Pemahaman Menko Airlangga soal resesi nol besar

Pemerintah sebaiknya mengubah fokus dari menghindari resesi pada kuartal III-2020, menjadi membenahi virus hingga September 2020

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 31 Agst 2020 15:40 WIB
Faisal Basri: Pemahaman Menko Airlangga soal resesi nol besar
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 389.712
Dirawat 62.649
Meninggal 13.299
Sembuh 313.764

Ekonom senior Universitas Indonesia Faisal Basri menyebutkan, pemahaman Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengenai resesi nol besar.

Penilaian Faisal tersebut lantaran Airlangga menyebut apabila pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 minus namun angkanya lebih kecil dari kontraksi di kuartal sebelumnya, maka negara itu tidak mengalami resesi.

"Kata Menko Airlangga kalau triwulan III-2020 minus 5 itu tidak resesi karena minusnya turun. Ngeri enggak pak? Komandan ekonominya tidak mengerti resesi itu apa," kata Faisal dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi VI DPR RI, Jakarta, Senin (31/8).

Airlangga Hartarto menjelaskan, jika pertumbuhan ekonomi Indonesia minus di kuartal III 2020 dengan angka minus lebih kecil dari kontraksi kuartal sebelumnya, maka tidak akan ada resesi. 

"Indonesia di kuartal II-2020 pertumbuhan ekonominya -5,3 persen. Secara teori masuk ke arena resesi kalau pertumbuhan ekonomi 2 kuartal berturut-turut semakin turun. Tapi kalau ada perbaikan dari -5,3 persen ke angka lebih rendah, itu technically bukan resesi,” kata Airlangga di Jakarta, Minggu (30/8) kemarin.

Ia mengatakan, pemerintah tengah berupaya membuat catatan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih dari kuartal sebelumnya. "Kita melihat sampai di akhir tahun range-nya antara 0-0,25 persen. Untuk kuartal III-2020 ini pemerintah berharap akan ada perbaikan dari -5,3 persen menjadi agak lebih baik. Range-nya lagi dimonitor terus," jelas Airlangga.

Faisal Basri menjelaskan, resesi adalah kondisi ketika level of output untuk produk domestik bruto (PDB) turun selama beberapa waktu tertentu. Waktu tersebut bisa dalam hitungan bulan hingga tahun. Namun, sesuai konsensus umum di media, resesi terjadi apabila pertumbuhan ekonomi secara dua triwulan berturut-turut mengalami kontraksi.

Dia pun menyarankan pemerintah untuk mengubah fokus dari menghindari resesi pada kuartal III-2020 menjadi membenahi virus hingga September 2020. Faisal menyebut untuk membiarkan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 menjadi minus.

Sponsored

"Triwulan III-2020 biarkan minus, kalau minus so what? Kalau skenario yang bapak-bapak bayangkan, barangkali ekonomi cepat pulih, tetapi virusnya meningkat lagi. Pemulihannya jadi huruf W nanti kita, bukan huruf V. Huruf W ini lebih ngeri, seperti Iran masuk gelombang ketiga," ujarnya.

Adapun untuk kuartal III-2020 ini, Faisal memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami kontraksi 3%. Perkiraan tersebut lebih dalam dibandingkan dengan perkiraan Kementerian Keuangan dalam konferensi pers nota keuangan, yaitu -1,1% sampai 0,2%.

Berita Lainnya