logo alinea.id logo alinea.id

Faisal Basri: Rupiah akan melemah sepanjang 2019

Tekanan utama terhadap rupiah berasal dari defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

Soraya Novika
Soraya Novika Kamis, 14 Feb 2019 09:55 WIB
Faisal Basri: Rupiah akan melemah sepanjang 2019

Nilai tukar rupiah sepanjang 2019 diprediksi melemah meski sempat menguat hingga Rp13.000 pada awal tahun.

"Rupiah tidak menguat secara signifikan, masih akan naik turun. Secara psikologis dan historis rupiah masih akan melemah," ujar Pengamat Ekonomi Faisal Basri di Jakarta, Rabu (13/2).

Menurut Faisal, tekanan utama terhadap rupiah berasal dari defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Bank Indonesia mencatat, CAD pada kuartal IV-2018 mencapai US$9,1 miliar atau 3,57% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka itu diketahui naik dari kuartal III-2018, yang hanya sebesar 3,37% terhadap PDB.

"Kalau current account ini defisit ya rupiah melemah," paparnya.

Faisal mengatakan, penting bagi pemerintah untuk menurunkan CAD agar rupiah bisa menguat dan stabil sepanjang 2019 ini. Menurut dia, upaya menurunkan CAD tersebut bisa digenjot dari arus modal asing yang masuk ke Indonesia.

"Jadi resep rupiah menguat itu sepanjang current account membaik defisitnya, dan diimbangi juga dengan modal asing yang masuk banyak, termasuk foreign direct investment (FDI)," imbaunya.

Namun, Faisal mengatakan pemerintah selama ini tidak terlalu atraktif dalam menarik FDI. Upaya itu masih kalah dengan negara-negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand dalam menarik investasi asing masuk ke negaranya.

"Tapi syukur stock market kita bisa bertahan dan tidak menurun tajam. Investor domestik kian berperan dan membuat stock market makin tahan banting, dan tidak ada alasan tidak naik terus," terangnya.

Sponsored

Guna memperbaiki kondisi tersebut, Faisal menegaskan, cara cepat yang dapat dilakukan pemerintah saat ini adalah dengan meningkatkan ekspor barang terutama di sektor non-migas.

"Ekspor-impor sebetulnya suatu hal yang lumrah dilakukan oleh suatu negara. Kalau kita tidak bisa membuat suatu produk, ya terpaksa impor. Tapi kita juga harus jual produk kita ke pasar negara lain, supaya seimbang," tutupnya.

Rupiah terus mengalami penurunan dalam dua hari ini. Dilansir dari Antara, Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (14/2) pagi ini, bergerak melemah 34 poin menjadi Rp14.093 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.059 per dolar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu (13/2) sore melemah 49 poin menjadi Rp14.019 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.068 per dolar karena memanfaatkan pengoreksian dolar AS.