logo alinea.id logo alinea.id

Fintech P2P lending salurkan kredit Rp25,92 T pada Januari

Penyaluran kredit ini meningkat 14,36% dari periode yang sama tahun lalu.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Rabu, 27 Feb 2019 14:47 WIB
Fintech P2P lending salurkan kredit Rp25,92 T pada Januari

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan jumlah penyaluran kredit lewat aplikasi pinjaman berbasis online atau fintech peer to peer (P2P) lending mencapai Rp25,92 triliun pada Januari 2019. Angka ini meningkat 14,36% dari periode yang sama tahun lalu.

Kepala Perizinan dan Pengawasan Fintech Direktorat Kelembagaan dan Produk Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Alvin Taulu menyebutkan tren peningkatan jumlah penyaluran dana dari pemberi pinjaman (lender) kepada peminjam (borrower) ini terjadi setiap tahun.

Mengutip data OJK, penyaluran pinjaman dari fintech P2P lending sepanjang 2018 mencapai Rp22,67 triliun. Angka tersebut meningkat 785,5% dari tahun sebelumnya yang hanya menyalurkan senilai Rp2,56 triliun. 

"Yang bisa saya dapat pastikan adalah sampai detik ini total transaksi fintech P2P lending telah mencapai Rp25,9 triliun dan borrowernya ada 17 juta kali transaksi," kata Alvin di Jakarta, Rabu (27/2).

Meski demikian, Alvin mengatakan jumlah itu masih sangat kecil untuk menutupi gap kebutuhan pendanaan di Indonesia yang mencapai Rp1.000 triliun. Secara rinci, dia menyebutkan total kebutuhan pendanaan di Indonesia mencapai Rp1.900 triliun. Sementara dari perusahaan keuangan yang ada di Indonesia seperti perbankan hingga multifinance hanya bisa menutupi sekitar Rp900 triliun.

“Jadi potensi fintech di Indonesia masih sangat besar,” ujarnya.

OJK menilai hadirnya fintech bisa mengisi kebutuhan pendanaan dari masyarakat yang tidak memenuhi syarat perbankan. Untuk itu, pihaknya tengah mengatur sambil menjaga pertumbuhan fintech di Indonesia.

"Saat ini sudah ada 99 perusahaan fintech yang terdaftar di OJK. Bisnisnya macam-macam, ada khusus pertanian, perumahan, UMKM. Bahkan ada yang khusus pulsa, khusus logistik. Berbagai macam dengan segmentasi market yang berbeda," ujar Alvin.

Sponsored

Mengutip data OJK, dari 99 fintech yang terdaftar ada 96 fintech konvensional dan 3 fintech syariah. Adapun domisili fintech mayoritas berdomisili Jabodetabek sebanyak 95 fintech. Bandung 1, Lampung 1 dan Surabaya 2 fintech.

Sementara, hingga 3 Februari 2019, OJK telah mengantongi 46 perusahaan dalam proses pendaftaran, 33 perusahaan yang minat mendaftar serta 66 perusahaan yang permohonan pendaftarannya dikembalikan.

Alvin juga menegaskan, OJK akan memperketat pengawasan terhadap fintech ilegal. Pihaknya sudah bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika hingga Tim Cyber Bareskrim untuk menyisir fintech ilegal. 

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Direktur Pengaturan Penelitian dan Pengembangan Fintech Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Munawar Kasan mengatakan, per Januari 2019 jumlah lender sudah ada 267.496 entitas yang memberikan pinjaman. Sementara, borrower sudah ada 5,16 juta entitas yang meminjam. 

"Hal ini menunjukkan adanya pemanfaatan berulang dari fintech lending oleh masyarakat. Jadi orang sudah manfaatkan fintech meminjam uang dan berhasil kembaliin dan pinjam lagi," tambah Munawar Kasan. 

Munawar menambahkan OJK tidak memandang fintech lending sebagai kompetitor industri perbankan. Pasalnya keduanya memiliki segmen yang berbeda. fintech lending hadir bagi masyarakat tidak bankable dan berikan layanan cepat yang belum bisa dilayani perbankan. 

Adapun nilai Non Performing Lending Ratio per Januari 2019 adalah 1,68%. Dengan rata-rata nilai pinjaman yang disalurkan mencapai Rp86,79 juta.