sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Gairah konsumsi dalam bayang pandemi

Tren peningkatan konsumsi saat Ramadan 2020 akan terganggu wabah Corona.

Syah Deva Ammurabi
Syah Deva Ammurabi Selasa, 24 Mar 2020 18:15 WIB
Gairah konsumsi dalam bayang pandemi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 252923
Dirawat 58788
Meninggal 9837
Sembuh 184298

Bulan Ramadan menjadi momen yang ditunggu seluruh umat muslim di dunia. Di Indonesia, momen ini juga ditandai dengan melesatnya konsumsi masyarakat. Tak hanya berlomba meraih pahala Ilahi, adanya kucuran Tunjangan Hari Raya (THR) juga mendorong masyarakat berbelanja. Keinginan untuk menyantap hidangan sahur dan buka puasa dengan makanan dan minuman terbaik serta kegiatan buka puasa bersama kerap mewarnai momen bulan suci. Belum lagi berbagai aktivitas belanja menjelang hari raya yang turut mengerek inflasi.

Tren belanja yang meningkat saat Ramadan tercermin dalam Survei Penjualan Eceran yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI). Pada Mei 2019 lalu, hasil survei tersebut menunjukkan adanya peningkatan Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar 8,9%. Pada bulan yang bertepatan dengan bulan Ramadan ini ada peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan ini ditopang oleh penjualan subkelompok sandang, kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok suku cadang dan aksesori. Gairah konsumsi masyarakat juga tercermin dari laju inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi Mei 2019 lalu sebesar 0,68%. Angka ini melonjak dibandingkan April 2019 yang sebesar 0,44%.

Namun, masuknya coronavirus baru atau dikenal Covid-19 yang terdeteksi ada di Indonesia sejak 2 Maret lalu diperkirakan akan mengubah tren tersebut. Tim peneliti yang beranggotakan Iqbal Elyazat dari Eijkman-Oxford Clinical Research Unit/EOCRU, Sudirman Nasir dari Fakultas Kesehatan Universitas Hasanuddin, dan Suharyo Sumowidagdo dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia memprediksi, jumlah korban Covid-19 di Indonesia dapat mencapai 11.000-71.000 orang pada akhir April.

Tim peneliti menilai tingginya angka tersebut bisa terjadi jika penanganan Covid-19 masih dengan pola yang dilakukan saat ini. Menurut mereka, kasus di Indonesia kini sudah tumbuh secara eksponensial. Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga telah menetapkan status keadaan darurat wabah coronavirus hingga 29 Mei 2020 mendatang. 

Di tengah pandemi Covid-19, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menjamin stok kebutuhan pokok aman hingga Lebaran yang jatuh pada bulan Mei. Namun, pihaknya memberi perhatian khusus pada ketersediaan bawang putih, bawang bombay, dan gula pasir berhubung stoknya yang terbatas. Harga bawang putih sendiri sempat menyentuh angka tertinggi di kisaran Rp55.000 per kilogram. Sementara gula pasir harganya naik hingga Rp20.000 per kilogram di beberapa wilayah.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok jelang Lebaran, pihaknya berencana melakukan impor gula kristal mentah (GKM) sebesar 550.000 ton untuk diolah menjadi gula kristal putih (GKP) siap konsumsi. Aksi ini berdasarkan arahan Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Menteri Koordinator Perekonomian serta menerbitkan Permendag No.27 Tahun 2020 yang membebaskan Persetujuan Impor (SPI) dan Laporan Surveyor (LS) bagi bawang putih dan bawang bombay hingga 31 Mei.

“Dengan situasi ini, kita menyederhanakan bagaimana proses impor itu simple, khususnya komoditas-komoditas yang dalam pantauan harganya tidak stabil,” ujarnya dalam video conference di kantornya, Rabu (20/3).

Sponsored

Dia menambahkan pihaknya bekerja sama dengan Satuan Tugas Pangan Polri untuk melakukan tindakan hukum apabila ada oknum pelaku usaha yang melakukan penimbunan barang kebutuhan pokok. Tak hanya itu, pihaknya juga telah mengeluarkan Permendag No.23 Tahun 2020 yang melarang sementara ekspor antiseptik, bahan baku masker, masker jadi, dan alat pelindung. Kemudian, Kemendag juga akan mempermudah proses impor alat-alat kesehatan apabila produksi dalam negeri tidak mencukupi. 

“Menyikapi perkembangan Covid-19 yang saat ini mengganggu perkembangan perdagangan dan ekonomi Indonesia, sekali lagi pemerintah mengharapkan peran serta masyarakat tetap tenang dan tidak panic buying,” katanya.

Kemendag juga akan memberikan edaran protokol kepada para peritel terkait protokol penanganan Covid-19 yang didasarkan oleh petunjuk dari Kementerian Kesehatan. “Nanti ada edarannya bagaimana ritel menangani, tindakan preventifnya bagaimana dan sebagainya,” tuturnya.

Jasa antar

Terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey memastikan 50.000 toko ritel yang berada di bawah naungannya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia hingga bulan Ramadan. Dia memprediksi adanya peningkatan penjualan bahan kebutuhan pokok di ritel modern sebesar 10% hingga 15% selama bulan Ramadan. 

Dia pun meminta masyarakat berbelanja hanya sesuai kebutuhannya. "Kami menginginkan masyarakat yang terus mengunjungi toko-toko peritel modern kami. Stok akan kami atur bersama produsen dan konsumen, sehingga kebutuhan konsumen terpenuhi,” ujarnya pada Alinea.id, Rabu (18/3).

Ilustrasi supermarket. Foto: Pixabay.

Sekretaris Jenderal Aprindo Solihin menambahkan, sejauh ini pasokan dari supplier masih lancar, kecuali masker dan pembersih tangan (hand sanitizer) yang tengah mengalami kelangkaan akibat keterlambatan distribusi. 

Solihin mengungkapkan, para peritel biasanya menyiapkan stok barang untuk penjualan untuk dua minggu dalam keadaan normal. Untuk mengantisipasi berlanjutnya pandemi coronavirus hingga Ramadan, pihaknya juga mengandalkan platform e-commerce dan mal daring untuk melakukan pengiriman barang.

“Peritel sudah siap jika keinginan orang untuk keluar sulit, maka kami siap mengantar dengan menyajikan data-data gerai per kelurahan,” tuturnya di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Kamis (20/3). 

Untuk produk-produk musiman bulan Ramadan seperti kurma, dia mengklaim para pelaku ritel telah melakukan pemesanan sejak setahun yang lalu. Namun, jumlahnya tidak sebanyak biasanya karena terganggunya pengiriman akibat Covid-19.

“Kami ganti dengan kebutuhan-kebutuhan pokok yang dibutuhkan sekarang ini. Dengan kesiapan peritel, kami harap masyarakat tidak khawatir mengenai stok peritel,” lanjutnya.

Namun, Solihin berharap pemerintah segera mengeluarkan insentif mengingat Ramadan tinggal sebulan lagi. Meskipun pemerintah telah mengeluarkan paket stimulus berupa pengurangan pajak penghasilan (PPh) 21, 22, dan 25, namun insentif tersebut lebih difokuskan ke sektor hulu. “Yang penting sekarang pemerintah sepakat menjaga daya beli masyarakat, agar ekonomi tetap bergulir,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Dewan Penasihat Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia Tutum Rahanta mengungkapkan, pihaknya mengusulkan adanya stimulus berupa keringanan PPh 21, 22, dan 25 kepada pemerintah pusat seperti yang dilakukan kepada sektor hulu. “Kemudian, pajak untuk orang belanja PB1 (Pajak Pembangunan 1). Kami ajukan juga ke pemerintah daerah,” lanjutnya.

Corporate Communication Manager Alfamart Budi Santoso mengatakan sudah melakukan persiapan stok barang untuk menghadapi bulan Ramadan. Dia membenarkan adanya peningkatan penjualan selama bulan Ramadan, terutama produk makanan dan minuman. “Seperti yang dilakukan beberapa tahun terakhir, kami lakukan beberapa promo agar bisa jual lebih murah,” ungkapnya kepada Alinea.id melalui sambungan telepon, Kamis (19/3).

Budi hanya berharap agar Covid-19 tidak berlangsung hingga Lebaran. Dia pun mengapresiasi langkah pemerintah terkait social distancing dan karantina diri selama 14 hari untuk memutus rantai  pandemi. Dia mengaku hingga saat ini ritel dengan corak logo merah ini belum terdampak Covid-19. "Kami masih normal saja karena masyarakat memahami kebutuhan bahan pokok,” katanya.

 

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung mengungkapkan, peningkatan transaksi e-commerce selama bulan Ramadan dapat melebihi 100%. Adapun produk yang paling diburu biasanya fesyen, elektronik, kosmetik, dan makanan. Namun, peningkatan penjualan para peritel online ini tak bisa dipukul rata.

“Setiap pemain beda-beda. Ada yang 200%, ada yang di bawah. Tergantung seberapa mereka agresif,” katanya kepada Alinea.id melalui sambungan telepon pada Rabu (21/3).

Menanggapi pandemi coronavirus yang kemungkinan masih berlanjut hingga Ramadan, dirinya enggan berkomentar mengenai langkah yang akan diambil para pelaku e-commerce.

“Wah belum bisa ngomong soal Ramadan. Situasinya lagi kayak gini, enggak yakin para pemain sudah siap-siap ke Ramadan,” ungkapnya.

Untung mengatakan, para pemain tak memerlukan insentif khusus lantaran bisnis e-commerce di Indonesia sudah relatif mapan. “Karena industrinya sudah hampir sepuluh tahun booming-nya. Harusnya fasenya sudah lebih stabil,” katanya.

Buntung karena coronavirus

Berkah Ramadan yang mendorong peningkatan keuntungan turut dirasakan industri restoran. Salah satunya berasal dari kegiatan buka bersama yang kerap dilakukan di restoran maupun kafe. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Bidang Restoran Sudrajat mengatakan, pihaknya siap untuk melayani kebutuhan konsumen di bulan Ramadan lantaran logistik yang memadai.

Dia menambahkan peningkatan penjualan selama bulan Ramadan bisa mencapai 60% sejak hari ke-5 bulan Ramadan. “Tinggi sekali orang mengantri, kadang-kadang sampai malam juga,” tuturnya kepada Alinea.id, Kamis (19/3).

Sayangnya, ia mengkhawatirkan pandemi Covid-19 yang kini makin banyak memakan korban. Hal ini menurutnya akan membuat pengunjung enggan untuk datang ke restoran. Kondisi ini bahkan sudah terasa sejak sekarang.

“Kalau restoran dalam kondisi sekarang tinggal sepertiga, seperempatnya saja, sangat drastis,” keluhnya.

Ia mengakui masih ada harapan dari peningkatan pemesanan secara daring (online). Namun, peningkatan tersebut masih belum menutupi laju penurunan penjualan. Menurutnya, pemesanan daring hanya berkontribusi 10% hingga 20% dari penjualan. Bahkan, dia menyebutkan beberapa restoran sudah tutup maupun mengurangi jam operasionalnya sesuai anjuran masing-masing pemerintah daerah.

“Kami tetap buka memenuhi kebutuhan masyarakat, meskipun mengurangi jam kerja. Kalau pemerintah menghendaki adanya lockdown, kami akan mengikuti juga untuk tidak jualan,” katanya.

Ilustrasi restoran. Foto Pixabay.

Di sisi lain, Direktur PT Fast Food Indonesia Tbk. Justinus Dalimin Juwono mengaku tidak ada persiapan khusus menjelang Ramadan. Pihaknya hanya menambah bahan baku lebih banyak dari biasanya lantaran banyak pabrik-pabrik yang meliburkan karyawannya. “Peningkatannya (penjualan) antara 10% hingga 15% ketika Ramadan hingga Lebaran,” ungkapnya melalui sambungan telepon, Kamis (21/3).

Justinus tetap optimistis penjualan akan meningkat di bulan Ramadan. “Tetap positif, percaya bahwa ini semuanya akan berakhir dengan baik dan Ramadan bisa dirayakan dengan baik,” ujar pengelola waralaba Kentucky Fried Chicken di Indonesia ini.

Dia belum merinci dampak pandemi coronavirus terhadap penjualan, namun dia memprediksi adanya penurunan di atas 10%. Menurutnya, penurunan pengunjung sudah mulai terasa di luar Jabodetabek. “Penjualan secara online mulai meningkat lagi karena orang lebih memilih online,” tambahnya.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra P. G. Talattov berpendapat, tren kenaikan permintaan yang selama ini terjadi di bulan Ramadan akan terganggu dengan mewabahnya coronavirus. Ini seiring dengan imbauan pemerintah untuk melakukan social distancing dan melakukan segala kegiatan dari rumah.

“Kalau misalkan skenarionya masih memburuk dan puncaknya di bulan puasa, masyarakat akan banyak di rumah. Masyarakat buka puasa di rumah, sehingga mal dan restoran akan sepi,” ujarnya. 

Menurutnya, pemerintah kemungkinan akan mengimbau masyarakat untuk tidak mudik apabila skenario terburuk terjadi. Tentunya, hal ini akan mengerem penjualan pakaian, makanan dan minum, serta memukul sektor akomodasi.

Abra memprediksi, pertumbuhan industri ritel modern pada kuartal II yang terjadi di bulan Ramadan hanya 4,5% hingga 4,8%, lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 8%. “Permintaan online pasti sangat besar karena semua bergeser (dari offline),” ungkapnya. 

Dia menilai perusahaan e-commerce akan sangat bergantung terhadap pasokan barang domestik. Pasalnya, pandemi corona juga telah berimbas pada kinerja impor. Utamanya pada impor barang konsumsi yang telah mengalami penurunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), penurunan ini sudah terlihat pada bulan Februari yang mencapai 40%.

Untuk itu, dia memperingatkan pemerintah harus mampu memberi ketenangan kepada masyarakat untuk mengurangi kepanikan massa. Kepanikan inilah yang dimanfaatkan sebagian oknum untuk menimbun barang dan menaikkan harga.

“Paling penting untuk disiapkan pemerintah adalah memastikan kebutuhan pokok. Itu enggak bisa ditawar-tawar lagi seperti beras, minyak goreng, dan telur,” tegasnya.

Abra juga menyarankan adanya karantina wilayah secara parsial, baik wilayah maupun sektoral untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 di Indonesia. Menurutnya,  masalah kesehatan adalah hal yang tidak bisa ditolerir.

“Sektor yang mau enggak mau buka seperti kebutuhan pokok bisa tetap buka. Pabrik-pabrik yang strategis seperti industri kesehatan dan farmasi harus dibuka. Garmen dan otomotif bisa sebagian dibuka atau shift antar pegawai. Intinya meminimalisir perkumpulan,” terangnya. 

Sejumlah bisnis meraup untung di bulan Ramadan. Alinea.id/Oky Diaz.

Berita Lainnya
×
img