sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Gapensi keluhkan keberadaan baja impor tak berlabel SNI

Perlu ada ketegasan pemerintah untuk menutup keran impor baja.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 09 Jul 2020 17:42 WIB
Gapensi keluhkan keberadaan baja impor tak berlabel SNI
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 410.088
Dirawat 58.418
Meninggal 13.869
Sembuh 337.801

Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional (Gapensi) mengeluhkan banyaknya baja impor tak berlabel Standar Nasional Indonesia (SNI) yang beredar di Indonesia. Menurut Gapensi hal tersebut bisa membahayakan industri baja nasional.

Sekretaris Jenderal Gapensi Andi Rukman Karumpa mencermati, Indonesia asyik membangun infrastruktur, tetapi lalai membangung industri baja dan terlambat meningkatkan kualitas industri baja.

"Hampir semua teman-teman di daerah mengeluh dengan kondisi yang menimpa mereka, yakni beredarnya produksi baja yang tak berlabel SNI," kata Andi dalam webinar Hipmi, Kamis (9/7).

Oleh karena itu, Andi meminta ketegasan pemerintah untuk menutup keran impor baja tersebut, untuk memproteksi pemain baja nasional.  

"Harapan kami ada tindakan afirmatif dari pemerintah untuk menutup keran impor. Besarkan industri kita dan jadi tuan rumah di negeri sendiri," ujarnya.

Selama ini kebutuhan Indonesia ke industri baja sebesar 15 juta metrik ton hingga 21 juta mt per tahun. Industri baja Indonesia mampu memenuhi kebutuhan tersebut, asalkan pemerintah memberikan proteksi ke pemain baja nasional.

Selain itu, kualitas baja produksi Indonesia jauh lebih baik dibandingkan negara lain seperti China, Thailand, dan Vietnam. Hanya saja, baja-baja dari negara tersebut memang memiliki harga yang lebih murah daripada baja Indonesia.

"Kita punya Krakatau Steel yang saya pikir cukup luar biasa. Tetapi kenapa kebijakan impor ini masih dibuka? Ini menjadi persoalan," tuturnya.

Sponsored

Namun, Andi mengaku impor masih diperlukan untuk produk-produk tertentu yang belum bisa diproduksi dalam negeri.

"Memang ada produk yang butuh impor seperti rel KA, kemudian pipa tanpa las. Tetapi yang lain, saya pikir bisa kita produksi. Krakatau Steel mampu," ucap Andi. 

Berita Lainnya