sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Garap infrastruktur Jokowi, laba BUMN Waskita Karya ambruk

Mendapatkan penugasan infrastruktur Presiden Joko Widodo (Jokowi), laba emiten BUMN PT Waskita Karya (Persero) Tbk. ambruk.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 01 Agst 2019 21:52 WIB
Garap infrastruktur Jokowi, laba BUMN Waskita Karya ambruk

Mendapatkan penugasan infrastruktur Presiden Joko Widodo (Jokowi), laba emiten BUMN PT Waskita Karya (Persero) Tbk. ambruk.

Emiten bersandi saham WSKT itu harus mengalami penurunan laba bersih pada paruh pertama tahun ini sebesar 66,65% jika dibandingkan dengan semester I-2018. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk Waskita pada semester I-2019 mencapai Rp997 miliar, lebih rendah dari Rp2,99 triliun.

Ambruknya perolehan laba bersih itu terjadi lantaran pendapatan Waskita juga melorot. Waskita meraup pendapatan Rp14,79 triliun pada semester I-2019, turun 35,39% year-on-year (yoy) dari Rp22,89 triliun.

Dalam laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (1/8), penurunan pendapatan berdampak pada koreksi laba kotor sebesar 38,38%. Laba kotor WSKT mencapai Rp2,91 triliun, turun dari Rp4,72 triliun.

Manajemen WSKT menyebutkan, penurunan pendapatan usaha Waskita ini ditekan oleh sektor jasa konstruksi yang melorot 59,85%. Tercatat pada semester I-2019, pendapatan jasa konstruksi menjadi Rp13,7 triliun, turun Rp8,2 triliun dari Rp21,9 triliun pada paruh pertama 2018. 

Sebaliknya, pendapatan Waskita dari sektor jalan tol melesat 727,3% menjadi Rp220,9 miliar pada paruh pertama tahun ini, dari Rp26,7 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Pada penutupan perdagangan Kamis (1/8), saham WSKT ditutup ambruk 5,85% sebesar 120 poin ke level Rp1.930 per lembar saham. Waskita Karya memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp26,198 triliun.

Rating obligasi tetap idA-

Sponsored

Sementara itu, lembaga pemeringkat rating PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) kembali menegaskan peringkat “idA-” kepada Waskita atas Obligasi Berkelanjutan I tahun 2015, Obligasi Berkelanjutan II tahun 2016, dan Obligasi Berkelanjutan II tahun 2017. Prospek untuk peringkat Perusahaan adalah “stabil”.

"Tanda kurang (-) menunjukkan bahwa peringkat yang diberikan relatif lemah dan di bawah rata-rata kategori yang bersangkutan," tulis Pefindo dalam keterangan tertulis, Rabu (31/7).

Pefindo mengatakan peringkat tersebut mencerminkan posisi pasar Waskita yang kuat di industri konstruksi domestik, marjin keuntungan yang baik karena segmen proyek yang beragam, dan keuntungan sebagai perusahaan konstruksi milik Negara. 

Namun, lanjut Pefindo, peringkat tersebut dibatasi oleh tingginya leverage keuangan WSKT, lingkungan bisnis yang cukup fluktuatif pada industri konstruksi, dan risiko yang berkaitan dengan ekspansi agresif Waskita di bisnis jalan tol dan rencana divestasi.

Pefindo mengatakan peringkat Waskita dapat dinaikkan jika WSKT berhasil melakukan divestasi aset jalan tolnya tepat waktu sesuai kisaran harga yang diharapkan. Selain itu, Waskita juga harus memperbaiki profil kreditnya sampai pada tingkat yang setara dengan peringkat idA, secara berkelanjutan. 

"Ini juga harus diiringi dengan profitabilitas yang baik di atas peer untuk mengkompensasi risiko yang lebih tinggi dari proyek turnkey yang dikerjakan oleh Waskita," kata Pefindo. 

Pefindo dapat menurunkan lagi peringkat Waskita jika gagal meraih target pendapatannya dan jika nilai tambahan utang melebihi dari yang diproyeksikan, yang mengakibatkan pemburukan pada profil kredit. 

"Peringkat juga dapat diturunkan bila investasi di jalan tol berkinerja lebih buruk dari yang diharapkan, termasuk rencana untuk melakukan divestasi tidak terealisasi, dan mengakibatkan pemburukan pada profil kredit," ujar Pefindo.

Per 30 Juni 2019, liabilitas jangka pendek Waskita mencapai Rp56,61 triliun, relatif stagnan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp56,79 triliun.

Utang bank berelasi jangka pendek yang jatuh tempo dalam setahun terakhir mencapai Rp18,97 triliun. Sedangkan utang bank dari pihak ketiga mencapai Rp15,45 triliun.

Tidak hanya itu, utang bank jangka panjang yang jatuh tempo setahun mencapai Rp416,5 miliar. Sedangkan, surat utang jangka menengah dan pendek sebesar Rp829,6 miliar, serta obligasi yang jatuh tempo Rp747 miliar.

Adapun, utang bank jangka panjang dari pihak berelasi mencapai Rp14,76 triliun, dan dari pihak ketiga Rp11,94 triliun. Sedangkan utang obligasi jangka panjang mencapai Rp12,94 triliun dan utang jangka menengah panjang mencapai Rp300 miliar.

Secara keseluruhan, total liabilitas jangka panjang Waskita mencapai Rp47,1 triliun, lebih tinggi dari akhir Desember 2018 sebesar Rp38,7 triliun. Total liabilitas Waskita mencapai Rp103,7 triliun, meningkat dari Rp95,5 triliun pada Desember 2018.