sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Garuda Indonesia cetak laba Rp1,7 triliun di kuartal III-2019

Pendapatan dan laba bersih PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) tumbuh positif akibat kenaikan penerbangan berjadwal.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 31 Okt 2019 20:10 WIB
Garuda Indonesia cetak laba Rp1,7 triliun di kuartal III-2019
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 70736
Dirawat 34668
Meninggal 3417
Sembuh 32651

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) membukukan laba bersih senilai US$122,42 juta atau setara dengan Rp1,7 triliun pada kuartal III-2019 (kurs Rp14.000). Laba bersih tersebut naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, di mana Garuda mencatatkan kerugian sebesar US$114,08 juta.

Seiring dengan peningkatan laba bersih perseroan, maskapai penerbangan pelat merah ini juga mencatatkan kenaikan pendapatan usaha sebesar 9,95%, menjadi US$3,54 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar US$3,21 miliar secara tahunan (year on year/yoy).

Direktur Utama Garuda Indonesia I GN Ashkara Danadiputra, dalam laporan keuangan diunggah keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (31/10), mengatakan kenaikan pendapatan usaha tersebut disumbang oleh kenaikan penerbangan berjadwal 8,90%.

"Pendapatan penerbangan berjadwal mengalami kenaikan 8,90% menjadi US$2,79 miliar, dari US$2,56 miliar yoy," kata pria yang akrab disapa Ari tersebut.

Apabila dirinci, pendapatan dari segmen penerbangan berjadwal tersebut meliputi pendapatan dari penumpang, kargo, kelebihan bagasi, serta surat dan dokumen.

Pendapatan dari penumpang menjadi penyumbang terbesar dari total pendapatan penerbangan berjadwal sebesar 90,8%. Pendapatan usaha dari penumpang tercatat mengalami kenaikan 7,01% menjadi US$2,53 miliar, dari US$2,37 miliar yoy. Kemudian, pendapatan usaha dari kargo tercatat juga mengalami peningkatan 33,08% menjadi US$236,2 juta dari US$177,5 juta (yoy).

Sementara itu, pendapatan Garuda Indonesia dari segmen penerbangan tidak berjadwal mengalami penurunan 1,9%. Meski mengalami penurunan, penerbangan haji yang masuk ke dalam segmen ini mencatatkan kenaikan sebesar 16,55% menjadi US$240,16 juta, dari US$206,06 juta (yoy).

Kemudian, beban usaha perseroan tercatat mengalami penurunan 1,96% menjadi US$3,28 miliar hingga kuartal III-2019 ini, dari US$3,35 miliar (yoy). Garuda Indonesia berhasil menekan beban operasional penerbangan mereka pada kuartal III-2019 ini sebesar 4,49% menjadi US$1,93 miliar, dari US$2,02 miliar yoy.

Sponsored

"Perseroan berhasil menekan beban bahan bakar 10,89% menjadi US$908 juta dari US$1,01 miliar," ujar Ari.

Sejalan dengan peningkatan pendapatan tersebut, aset perseroan juga mengalami peningkatan sebesar 5,97% menjadi US$4,41 miliar per 30 September 2019, dari US$4,16 per 31 Desember 2018 (year-to-date/ytd).

Dengan keluarnya laporan keuangan Garuda Indonesia ini, saham emiten berkode GIAA ini ditutup tak bergerak di level Rp590 per lembar saham pada perdagangan Kamis (31/10). Berdasarkan data RTI Infokom, Garuda Indonesia memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp15,27 triliun.

Berita Lainnya