sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

GoTo bisa ubah peta persaingan industri digital Indonesia, hambat pemain baru?

GoTo, merger Tokopedia dan Gojek, tak selamanya berbuah manis.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Rabu, 19 Mei 2021 06:38 WIB
GoTo bisa ubah peta persaingan industri digital Indonesia, hambat pemain baru?

Dua perusahaan teknologi besar Indonesia, Gojek dan Tokopedia, baru saja mengumumkan kesepakatan merger menjadi GoTo. Tercatat, dengan merger ini, Grup GoTo akan memiliki total Gross Transaction Value (GTV) lebih dari US$22 miliar pada 2020, dengan lebih dari 1,8 miliar transaksi pada 2020.

Memandang aksi merger ini, Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menuturkan, merger antara dua raksasa teknologi Indonesia ini menjadi momen bersejarah integrasi yang bersifat horizontal.

"Integrasinya sifatnya horizontal dan ini jadi momentum meningkatkan pangsa pasar (market share) dari Tokopedia dan Gojek secara signifikan," ujar Bhima kepada Alinea.id, Selasa (18/5).

Bhima mengungkapkan dirinya memiliki beberapa catatan mengenai integrasi ini. Menurutnya integrasi ini dilakukan kedua perusahaan untuk meningkatkan valuasi sebelum melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Dus, ketika terjadi pelepasan saham ke publik, maka pendanaan dari publik akan semakin besar.

Sebagaimana diketahui, kedua perusahaan ini santer dikabarkan akan melantai di pasar modal dua tahun belakangan ini. Sebelum resmi melakukan merger, beberapa kabar skema IPO kedua perusahaan sempat mencuat ke publik.

Seperti misalnya pada 2020 lalu, Gojek diisukan akan merger dengan perusahaan ride hailing lainnya, yaitu Grab. Kabar tersebut hampir menjadi kenyataan di akhir 2020, tetapi, akhirnya urung dilakukan kedua belah pihak.

Hingga akhirnya pada pekan pertama 2021, muncul kabar merger antara Tokopedia dengan Gojek. Kabarnya, setelah merger dilakukan, kedua perusahaan akan mencatatkan sahamnya ke bursa.

Sebelumnya, Gojek dan Tokopedia telah berencana untuk melakukan dual listing di Amerika Serikat (AS) dan Indonesia. Masing-masing perusahaan ini juga telah mempertimbangkan potensi merger sejak 2018, yang belum sempat terealisasi hingga Januari. Dual listing ini pun diperkirakan akan melalui perusahaan cek kosong atau special purpose acquisition company (SPAC).

Sponsored

Sementara dikonfirmasi pada Selasa ini (18/5), Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna mengatakan, belum menerima dokumen permohonan pencatatan, baik dari Gojek, Tokopedia, maupun entitas gabungan GoTo.

"Kami menyambut baik pengumuman merger antara Gojek dan Tokopedia, dengan harapan hal tersebut akan memberikan manfaat yang luas, baik kepada perusahaan dan industri, baik pada tingkat nasional maupun global," ujar Nyoman.


Menurut Nyoman, jika resmi melakukan IPO, GoTo akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap ukuran kapitalisasi pasar modal Indonesia. Dia menilai hal ini dapat meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia di tingkat global.

Selain itu, Nyoman menyebut tercatatnya GoTo di pasar modal juga dapat bermanfaat bagi peningkatan kinerja perusahaan, melalui perolehan tambahan pendanaan. Di sisi lain, dengan pencatatan GoTo di pasar modal Indonesia, bursa berharap dapat memberikan peningkatan yang signifikan dari sisi coverage investor, melalui cakupan mitra driver, mitra penjual, serta pengguna aktif yang dapat ikut serta menjadi investor perusahaan. 

Adapun menurut Bhima, pendanaan publik yang akan didapatkan GoTo akan digunakan perusahaan untuk memikirkan ulang model bisnisnya. Apabila IPO jadi dilakukan, investor publik akan menuntut profitabilitas dari perusahaan.

"Kalau arah pengembangannya digital, seperti digital wallet, digital lending, maka diskon maupun promo di ride apps-nya untuk antar jemput penumpang akan semakin berkurang karena berorientasi profit. Apakah konsumen akan tetap loyal? Kita akan lihat beberapa bulan atau tahun ke depan." ucapnya.

Pahit manis merger GoTo

Manajemen GoTo menyampaikan, pembentukan Grup GoTo ini akan mengombinasikan layanan e-commerce, pengiriman barang dan makanan, transportasi, serta keuangan. Penggabungan ini akan menciptakan platform konsumen digital terbesar di Indonesia, yang melayani sebagian besar kebutuhan konsumsi rumah tangga.

Bhima memperkirakan, tujuan utama dari integrasi ini adalah menggabungkan pengiriman logistik Gojek, yang terintegrasi dengan lokapasar milik Tokopedia. Di samping itu, menurutnya, pengembangan yang paling seksi adalah dompet digital dan fintech lending milik perusahaan.

Dengan pengembangan ini, ke depan sangat mungkin bagi konsumen yang membeli barang dari Tokopedia, menggunakan skema dompet digital milik Gojek, yaitu GoPay.

Seorang pengemudi Gojek mengendarai sepeda motor di sebuah jalan di Jakarta, Indonesia, 15 Desember 2017. Foto REUTERS/Beawiharta.

Setelah integrasi ini, Bhima memandang GoTo akan siap bersaing head-to-head dengan Shopee. Pasalnya, saat ini Shopee merupakan lokapasar yang memiliki ekosistem yang cukup lengkap, dibanding Tokopedia sebelumnya.

Apalagi, kini Shopee mulai bermain di bidang pengantaran makanan dan terintegrasi pembayaran dengan dompet digital, ShopeePay. Induk Shopee, Sea Group juga sudah mencaplok bank di Indonesia, yakni PT Bank Kesejahteraan Ekonomi (Bank BKE) yang sekarang telah berganti nama menjadi PT Bank Seabank Indonesia (SeaBank) .

 
Meski demikian, penggabungan kedua entitas usaha ini, menurut Bhima, tak selamanya berbuah manis. Jumlah pemain digital ke depannya disebut akan terkonsentrasi ke segelintir pemain, yang akan menciptakan skema pasar oligopoli di antara super apps.

"Ini bisa memancing, mungkin juga nanti game changers-nya adalah Shopee dan Grab akan merger sebagai penanding," kata dia.

Dia khawatir merger ini mengulang kasus di China, yang menghambat inovasi pemain baru. Dengan merger pemain teknologi besar, pemain kecil yang akan masuk ke industri ride hailing app dan lokapasar akan susah bersaing.

Pasalnya, perusahaan teknologi besar telah melakukan integrasi dan membuat switching cost alias biaya yang harus dirogoh untuk menggaet konsumen, menjadi mahal dan sulit. 

Ditambah lagi, berdasarkan klaim, duo perusahaan jumbo besutan Nadiem Makarim dan William Tanuwijaya ini, memiliki lebih dari dua juta mitra driver yang terdaftar per Desember 2020, lebih dari 11 juta mitra usaha (merchant) per Desember 2020, dan lebih dari 100 juta pengguna aktif bulanan (monthly active user/MAU). Perusahaan juga mengklaim memiliki kontribusi sebesar 2% kepada total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

"Ini menjadi salah satu masalah antitrust terkait monopoli pasar digital yang jadi fokus. Efeknya menghambat inovasi pemain baru," tutur alumni UGM ini.

Berita Lainnya