sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Gubernur BI optimistis investasi AS ke Indonesia bisa capai US$19,1 miliar

Indonesia merupakan salah satu tujuan utama investasi portofolio global.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Kamis, 21 Jan 2021 17:35 WIB
Gubernur BI optimistis investasi AS ke Indonesia bisa capai US$19,1 miliar

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan, Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) akan membawa angin segar bagi investasi dalam negeri.

Dia berkeyakinan, aliran investasi portofolio Amerika Serikat ke Indonesia akan meningkat di tahun ini hingga mencapai US$19,1 miliar, atau lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang sebesar US$11 miliar.

"Kami perkirakan aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi portofolio ke negara berkembang termasuk Indonesia akan meningkat. Kami perkirakan untuk Indonesia, tahun ini aliran modal asing investasi portofolio meningkat menjadi US$19,1 miliar," katanya dalam video conference, Kamis (21/1). 

Indonesia merupakan salah satu tujuan utama investasi portofolio global, jadi tidak heran jika aliran investasi dari negeri Paman Sam akan mengalir deras ke dalam negeri.

"Kami optimistis kondisi pasar keuangan global akan terus kondusif dan aliran modal asing ke negara berkembang terus meningkat dan Indonesia patut bersyukur karena menjadi salah satu tujuan utama investasi," ucapnya.

Dengan resminya pelantikan Presiden Joe Biden, akan turut membawa ketenangan bagi pasar keuangan global. Apalagi dalam sambutannya, Biden mengatakan AS akan menurunkan yield US treasury.

"Joe Biden tegaskan yield US treasury alami penurunan dan kondisi pasar keuangan global juga semakin baik. Ini sejalan dengan perkiraan kami dengan perbaikan ekonomi global," ujarnya.

Selain itu, dengan terus membaiknya stimulus kebijakan fiskal dan moneter di banyak negara, baik di negara maju maupun negara berkembang akan menciptakan peningkatan likuiditas di pasar keuangan.

Sponsored

"Berlanjutnya kebijakan moneter akomodatif bahkan suku bunga yang rendah dan ekspansi moneter di banyak negara, menyebabkan kondisi likuiditas meningkat," tuturnya.

Berita Lainnya