sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Harga cetak rekor, demam emas masih berlanjut?

Harga emas dunia telah naik 37% dalam setahun terakhir.

Syah Deva Ammurabi
Syah Deva Ammurabi Sabtu, 08 Agst 2020 17:30 WIB
Harga cetak rekor, demam emas masih berlanjut?
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Pandemi virus korona baru telah memukul perekonomian dunia. Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia akan minus 4,9% pada 2020. Bahkan, beberapa negara telah jatuh ke jurang resesi seperti Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Italia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Filipina, dan lainnya.

Di sisi lain, harga emas terus meningkat sepanjang tahun. Menurut data yang dihimpun dari goldprice.org per Sabtu (8/8) pukul 17.15 WIB, harga emas telah mencapai US$2.035,21/troy ounce (Rp29,95 juta/oz), setara dengan US$66,43/gram (Rp962.801/g) atau naik sebesar 35,69% selama setahun terakhir. Pada Kamis (6/8), harga emas dunia telah mencapai rekor tertingginya yaitu US$2.070,05/oz (Rp30,03 juta) atau US$66,5/g (Rp965.435/g).

Tingginya harga emas ini tak menyurutkan langkah Qonita (24) untuk membeli emas. Dia menyisihkan Rp100.000 sampai Rp300.000 per bulannya ke rekening tabungan emas Pegadaian selama setahun terakhir. Tabungan emas ini memungkinkannya untuk memiliki emas meski dengan kocek yang terbatas.

“Harga emas kan stabil, enggak kayak reksadana dan saham yang naik turun. Bahkan, saat saham dan reksadana turun, emas malah naik. Kalau mau jual ya enggak apa-apa. Selama ini aku agak takut di saham karena aku enggak begitu paham,” katanya kepada Alinea.id, Selasa (4/8).

Melihat tren kenaikan harga emas, dia mengaku tertarik menguangkan tabungan emas miliknya. Namun, Qonita akhirnya mengurungkan niat tersebut. Emas digital miliknya sengaja disimpan untuk membiayai pendidikan dan kesehatan keempat adiknya. 

“Iya, belum pernah kejual karena aku buat nabung jangka panjang. Aku target baru dicairin lima tahunan. Dalam keadaan apapun kalau enggak kepepet banget, enggak akan kucairin sampai lima tahun,” kata warga Pancoran, Jakarta Selatan tersebut. 

Ilustrasi emas batangan. Foto Reuters.

Karyawati swasta ini memandang emas sebagai instrumen investasi yang aman dalam jangka panjang. Hingga kini, ia masih mencicil uang untuk membeli saham fisik. Namun dia mengaku masih bimbang antara berinvestasi emas murni atau perhiasan emas.

Sponsored

Sementara itu, Yolanda (50) lebih memilih emas perhiasan dibandingkan emas batangan maupun digital. Ia telah menjadi pelanggan tetap sebuah toko emas di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Motif dan kadar emas menjadi pertimbangannya dalam memilih perhiasan emas.

“Pertama, saya suka (memakai) emas. Kedua, buat simpanan, kalau ada perlu uang bisa jual lagi,” ungkapnya ketika berbincang kepada Alinea.id, Rabu (5/8).

Warga Jakarta ini baru menjual emas ketika ada keperluan darurat maupun urusan lain yang memerlukan dana besar. Sayangnya, gara-gara pagebluk Yolanda lebih jarang membeli perhiasan emas lantaran tengah mengencangkan ikat pinggang pengeluarannya.

“Orang kan masih tertarik sama emas walaupun harga tinggi. Kalau emas Antam memang tinggi ya, kalau enggak salah sampai Rp1 juta. Tadi ada yang jual juga. Cuma kalau peminatnya (emas) masih banyak kan, masih pada nyari-nyari,” tuturnya.

Nasib toko emas

Di tengah pandemi, deretan toko emas di Pasar Blok M, Jakarta Selatan terlihat sepi pengunjung. Sesekali segerombolan pengunjung mendatangi sebuah toko, sedangkan toko lainnya relatif lengang. Para pedagang lebih banyak duduk menatap layar ponselnya, saling bercengkrama, atau menatap jalanan ibu kota.

Seorang pedagang, Sari (22) mengungkapkan lesunya ekonomi akibat pandemi berdampak pada toko emasnya. Ia melihat lebih banyak pelanggan yang menjual emas mereka dibandingkan membeli di tokonya.

“Karena harganya tinggi banget ya. Itu satu. Kedua, sekarang juga susah cari kerjaan jadi banyak yang jual emas,” katanya ketika ditemui di tokonya, Rabu (5/8).

Wanita berkerudung ini melihat kondisi toko lebih sepi dibandingkan sebelum pandemi. Pengunjung baru lebih ramai kala akhir pekan. Para pelanggannya itu lebih banyak membeli perhiasan emas dibandingkan emas batangan murni. 

“Kadang kita layani tiga-tujuh orang (tiap penjaga). Kalau ini (Rabu siang) kan cuma dua orang. Biasanya kan dia bawa saudara atau anak-anak. Sebelumnya kalau lagi normal ada lima orangan,” ungkapnya.

Suasana serupa juga terlihat di toko-toko emas yang berlokasi di dalam Mal Blok M Square, Jakarta Selatan. Deco (38), salah seorang pedagang mengaku penjualannya relatif stabil meskipun harga emas tengah melambung tinggi.

“Stabil aja sih. Walaupun turun (dibanding sebelum pandemi), ada saja (pembeli) lah,” ujar pria yang telah berjualan emas sejak Blok M Square masih berupa Pasar Melawai di kawasan Jakarta Selatan.
 Suasana toko emas di Pasar Blok M, Jakarta Selatan, Jumat (7/8). Alinea.id/Syah Deva Ammurabi.
Selain berjualan di toko, ia juga berjualan secara daring melalui platform e-commerce. Menurutnya, proporsi penjualan daring maupun luring (offline) jumlahnya hampir sama.

Deco melihat logam mulia kini lebih diminati dibanding perhiasan emas lantaran semakin banyak orang yang menyimpan emas kala pandemi. Emas Antam merupakan produk yang paling banyak dicari oleh pelanggannya.

Adapun untuk perhiasan, emas dengan kadar 75% paling diminati oleh pembeli lantaran harganya tidak terlalu mahal dan warnanya tak semengilap emas 24 karat.

Dia menyebut harga emas 24 karat per gram di pasaran sekitar Rp980 ribu, 23 karat sekitar Rp900 ribu, kadar 75% sebesar Rp800 ribu, dan kadar 70% sebesar Rp700 ribu.

“Indonesia enggak ada krisis lah. Enggak ada pengaruh corona. Pengaruh paling pedagang pakaian dan makanan. Emas kan enggak ada basinya juga. Kalau makanan kan ada basinya, lewat sehari saja basi. Emas kalau disimpan nilainya lebih baik,” jelasnya.

Makin bersinar

Harga emas yang melambung berdampak positif pada kinerja PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. Perusahaan pelat merah ini mencatatkan laba segmen usaha Logam Mulia dan Pemurnian sebanyak Rp495,16 miliar pada Semester I 2020 atau tumbuh 111% dibandingkan Semester I 2019 yang mencapai Rp234,94 miliar. Di sisi lain, volume penjualan emas turun dari 15.741 kg menjadi 7.915 kg selama periode yang sama.

Senior Vice President Corporate Secretary PT Antam Tbk. Kunto Hendrapawoko mengatakan kenaikan laba tersebut disebabkan oleh penguatan harga rerata emas dunia sebesar 26% selama semester satu dan strategi efisiensi biaya produksi yang optimal. Dengan nilai penjualan sebesar Rp6,41 triliun, emas berkontribusi 69% terhadap penjualan semester I 2020. 

Seiring dengan meningkatnya permintaan emas dalam negeri, pihaknya memperkuat basis pelanggan produk Logam Mulia di pasar domestik. Pihaknya menerapkan pembelian emas secara daring melalui logammulia.com serta mekanisme pemesanan dan transaksi buyback melalui aplikasi Whatsapp.

“Ada peningkatan yang cukup signifikan dari lini transaksi penjualan online Logam Mulia pada periode April-Juni ini dibandingkan sebelumnya. Hal ini merupakan bentuk adaptasi pelanggan dan perusahaan pada situasi saat ini,” ujarnya kepada Alinea.id, Kamis (6/8). 

Perseroan juga terus melakukan inovasi produk emas seperti emas batangan standar, produk emas klasik, produk emas custom, dan produk-produk khusus lainnya seperti Emas Seri Batik Indonesia, Koin Dinar dan Dirham serta produk Emas Bezzel.

Antam telah mengembangkan jasa depositori emas Logam Mulia “Brankas” sejak 2016 guna meningkatkan kemudahan akses para pelanggan dalam menginvestasikan emas fisik secara mudah dan aman. 

Selain itu, perusahaan ini juga memiliki Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia  (UBPP LM) Antam sebagai satu-satunya pabrik pemurnian emas di Indonesia yang memiliki akreditasi Good Delivery List Refiner di London Bullion Market Association (LBMA). Sertifikasi ini menjamin produk emas bebas dari penambangan ilegal, pencucian uang, terorisme, pelanggaran hak asasi manusia dan perdagangan manusia.

“Respon positif atas komoditas emas ini tidak dapat dipungkiri disebabkan oleh emas yang bersifat safe haven, sehingga menjadi salah satu instrumen investasi yang paling diminati masyarakat,” tuturnya.

Untuk menjamin keaslian emas batangan Antam, pihaknya memanfaatkan teknologi CertiEye. Teknologi ini memanfaatkan pemindaian barcode (CertiCode) pada emas batangan Antam yang terkoneksi dengan aplikasi “CertiEye” berbasis internet di ponsel pintar.

Transaksi emas digital nampaknya juga mengalami kenaikan. PT Pegadaian (Persero) mencatat adanya peningkatan transaksi tabungan emas dari 274,775 gram pada Mei 2020 menjadi 368,101 gram pada Juli 2020 atau meningkat sebesar 33,96%.

Kemudian, jumlah nasabah tabungan emas juga meningkat dari 4,6 juta nasabah pada akhir Desember 2019 menjadi 5,8 juta nasabah pada akhir Juni 2020 atau meningkat sebesar 26,09%.

Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan Pegadaian Basuki Tri Andayani mengatakan kenaikan transaksi dan jumlah nasabah tabungan emas menunjukkan adanya peningkatan minat masyarakat untuk berinvestasi emas seiring dengan adanya pagebluk korona baru. Adapun rekening tabungan emas Pegadaian dapat dibuka melalui gerai Pegadaian, agen Pegadaian, maupun aplikasi Pegadaian Digital. 

“Pandemi Covid-19 menginspirasi orang akan manfaat investasi emas sebagai penjaga ketahanan ekonomi (safe haven) di masa krisis. Emas terbukti mampu menjaga nilai aset di masa krisis, oleh karena itu minat masyarakat terhadap tabungan emas/investasi emas semakin tinggi,” jelasnya secara tertulis, Sabtu (8/8).

Di sisi lain, Basuki melihat transaksi gadai emas relatif stabil di masa pandemi karena sebagian nasabah ada yang memilih menggadaikan emasnya dan sebagian lain lebih memilih menjual emasnya di tengah tren kenaikan harga emas.

Saat ini, emas berkontribusi terhadap lebih dari 80% nilai barang jaminan di Pegadaian. Kenaikan harga emas sangat berpengaruh terhadap nilai emas yang digadaikan di Pegadaian. Akan tetapi kenaikan harga emas tidak serta merta meningkatkan kinerja gadai Pegadaian, agen Pegadaian, maupun aplikasi Pegadaian Digital. 

“Kenaikan harga emas sangat berpengaruh terhadap nilai emas yang digadaikan di Pegadaian. Akan tetapi kenaikan harga emas tidak serta merta meningkatkan kinerja gadai emas, karena tidak semua nasabah menambah plafon pinjaman yang disebabkan kenaikan harga emas yang digadaikan,” terangnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh platform Tokopedia. Tercatat, transaksi tabungan emas melalui “Tokopedia Emas” mengalami kenaikan 30 kali lipat selama Januari 2019 – Juni 2020. Dalam operasionalnya, Tokopedia bekerja sama dengan Pegadaian yang sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Vice President Financial Technology Tokopedia Vira Widiyasari mengatakan perningkatan transaksi terjadi karena meningkatnya kesadaran untuk mempersiapkan dana darurat dan berinvestasi di tengah krisis korona baru.

“Kita lihat di masa pandemi pertumbuhannya sangat positif. Contohnya untuk emas, Q2 (kuartal dua) kemarin kalau kita bandingkan dengan Q2 tahun lalu kita growth tiga setengah kali lipat. Jadi cukup menjanjikan lah,” ungkapnya melalui telekonferensi, Rabu (22/7) silam.

Tokopedia mulai merambah lini bisnis investasi digital mengingat akses layanan investasi dan literasi keuangan yang masih rendah. Pengguna Tokopedia dapat menabung emas dengan minimal pembelian sebesar Rp5.000 baik secara langsung melalui fitur “Tokopedia Emas”.

Selain itu, pengguna dapat menabung tiap kali transaksi melalui marketplace dengan fitur pembulatan transaksi minimal Rp500. Pihaknya juga menyediakan sekitar 50 saluran pembayaran yang terdiri dari transfer bank, dompet digital, dan akun virtual untuk melakukan pembayaran emas digital. 

“Kita lagi ingin ajak user-user (para pengguna) Tokopedia bisa tiap bulan sisihin jumlah tertentu supaya nabungnya bisa rutin dan investasi itu enggak perlu banyak duit dulu,” katanya. 

 Aktivitas perdagangan emas di Pasar Blok M, Jakarta Selatan, Rabu (5/8). Alinea.id/Syah Deva Ammurabi.

Investasi sesuai kebutuhan dan kemampuan

Sebagian orang memang makin ragu menyimpan emas lantaran harganya sudah melambung demikian tinggi. Namun sebagian lainnya tetap yakin dengan keandalan instrumen emas. Apakah emas masih layak menjadi instrumen investasi? Apakah saat ini sudah terlambat untuk membeli emas? 

“Pertama, namanya investasi kan ada risiko (harga turun). Kedua, investasinya mau berapa lama? Karena investasi untuk jangka panjang. Kalau ditanya harga emas ketinggian atau enggak harganya, saya balikin lagi investasinya buat berapa lama?” kata Presiden IARFC (International Association of Registered Financial Consultants) Aidil Akbar Madjid melalui sambungan telepon, Rabu (5/8).  

Bila melihat pergerakan harga emas secara historis, kata Aidil, harga emas masih berpeluang naik kembali lantaran trennya yang terus meningkat dalam jangka panjang. Tetapi, harga emas bisa jadi kemahalan bila hanya disimpan dalam jangka satu tahun. 

Ia melihat kenaikan harga emas yang terjadi sekarang disebabkan oleh meningkatnya permintaan emas akibat pandemi, resesi di berbagai negara, dan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China.

“Kalau Covid beres berarti ekonomi balik normal dan resesi hilang. Resesi hilang berarti pertumbuhan ekonomi bagus lagi, bisa jadi emas turun. Kalau perang dagang enggak seheboh diberitakan atau Donald Trump kalah dan ganti presiden baru bisa jadi turun. Jadi komponennya banyak, tidak bisa diharapkan jangka pendek,” tuturnya.

Menurutnya, emas fisik merupakan instrumen investasi terbaik lantaran harga jualnya lebih tinggi. Kini, sudah ada kepingan emas dengan pecahan di bawah satu gram yang harganya lebih terjangkau bagi masyarakat. Lalu, ada fasilitas cicil emas yang semakin memudahkan masyarakat untuk membeli emas dengan kocek terbatas.

Opsi lain yang dapat dipilih adalah menabung emas dengan menyetorkan sejumlah uang ke rekening emas. Uang tersebut dikonversi menjadi emas senilai uang yang disetorkan. Emas digital tersebut dapat diuangkan atau dijual maupun dicetak dengan membayar ongkos cetak dan kirim. Dibandingkan dengan emas fisik, harga jual dan harga beli emas digital lebih rendah.

Menurut Aidil, perhiasan emas kurang cocok dijadikan instrumen investasi. Dia beralasan  harga jualnya tak memperhitungkan model perhiasan dan hanya ditentukan oleh kadar dan berat emas. Di sisi lain, pernak-pernik perhiasan amat menentukan komponen harga perhiasan emas. 

Pria yang juga menjadi Founder dan Chairman dari Moneesa dan Rizkanna menyarankan agar masyarakat membeli emas sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Selain itu, diversifikasi aset investasi juga perlu dilakukan.

“Kita harus selalu mengamati pergerakan harga emas supaya tahu kapan mengambil posisinya hati-hati dan investasi lebih besar. Ketika harga tinggi lebih hati-hati dan belinya lebih sedikit. Kalau harga rendah bisa beli lebih banyak lagi,” pungkasnya.

Berita Lainnya