sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Hari pertama PSBB DKI, IHSG menguat 2,89%

Masih beroperasinya pusat perbelanjaan dan diperbolehkannya work form office, dapat melegakan pasar.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 14 Sep 2020 16:54 WIB
Hari pertama PSBB DKI, IHSG menguat  2,89%
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 291182
Dirawat 61839
Meninggal 10856
Sembuh 218487

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 2,89% ke level 5.161 pada perdagangan Senin (14/9). Sektor properti yang naik 6,47% dan sektor industri dasar yang naik 4,29% menjadi pendorong penguatan IHSG hari ini.

Tercatat sebanyak 14,2 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp9,7 triliun. Investor asing tercatat membukukan penjualan bersih senilai Rp648 miliar.

Saham-saham seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), PT Uni-Charm Indonesia Tbk. (UCID), dan PT Galva Technologies Tbk. (GLVA) menjadi saham yang paling banyak dibeli investor asing. Sementara saham-saham seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Astra International Tbk. (ASII), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), dan PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNCN) menjadi saham-saham yang paling banyak dijual oleh investor asing.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan penguatan IHSG seiring kabar dari AstraZeneca yang melanjutkan uji coba kembali vaksin Covid-19. 

Seperti diketahui, pekan lalu AstraZeneca akan menghentikan uji coba vaksin Covid-19. Namun menjelang akhir pekan lalu, otoritas kesehatan dan obat Inggris mengatakan uji coba aman, sehingga AstraZeneca melanjutkan uji coba fase tiga vaksin eksperimentalnya.

Sementara dari dalam negeri, sentimen hari ini datang dari diberlakukannya kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di DKI Jakarta. Keputusan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang tidak menerapkan PSBB secara total, dapat melegakan pasar. Keputusan ini memberikan harapan terhadap tetap berjalannya roda perekonomian di Indonesia. 

"Sebelumnya pemberlakukan PSBB total dikhawatirkan membuat kegiatan perekonomian di ibu kota terhenti secara keseluruhan seperti kebijakan pembatasan sebelumnya," ujarnya.

Selain itu, masih beroperasinya pusat perbelanjaan, diperbolehkannya work form office dengan kapasitas dibatasi hanya 50%, dan juga tidak boleh makan langsung di tempat, menunjukkan perekonomian ibu kota tidak berhenti. Dengan demikian, PSBB tidak memperburuk keadaan ekonomi dalam negeri. Kendati demikian, menurut Nico, masih ada potensi resesi ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020. 

Sponsored
Berita Lainnya

, : WIB

, : WIB

, : WIB