sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Hari terakhir Kabinet Kerja, IHSG ditutup menguat

IHSG menyentuh level 6.191 pada penutupan perdagangan hari ini (18/10).

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 18 Okt 2019 17:45 WIB
Hari terakhir Kabinet Kerja, IHSG ditutup menguat

Masa kabinet kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla akan memasuki akhir hari ini, Jumat (18/10). Pada penutupan hari ini, IHSG menyentuh level 6.191 atau naik 24,54% dibandingkan lima tahun lalu. Lima tahun yang lalu di hari ini, IHSG berada di level 4.946. 

Dalam lima tahun ke belakang, IHSG sempat berada di level tertinggi menyentuh level 6.694 di awal 2018. sementara, titik terendah IHSG dalam lima tahun terakhir berada pada level 4.072 pada akhir 2015.

Ada beberapa saham yang menjadi top gainers secara persentase selama lima tahun masa pemerintahan Jokowi. Berdasarkan data dari RTI Infokom, Emiten PT Kresna Graha Investama Tbk. menjadi emiten dengan kenaikan persentase teetinggi sebesar 524,36%, dengan turnover Rp34,1 triliun. 

Emiten dengan persentase kenaikan terbesar kedua adalah PT Mas Murni Indonesia Tbk. dengan kenaikan 203,16% dengan turnover Rp8,02 triliun dalam lima tahun. Lalu PT Smartfren Telecom Tbk. naik 181,03% dalam lima tahun dengan turnover Rp10,16 triliun. 

Emiten selnjutnya adalah PT Bank Central Asia Tbk. dengan kenaikan 174%, dengan turnover Rp372,25 triliun. Kemudian PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. naik sebesar 99,51% dengan turnover Rp444,72 triliun. 

Selain top gainers, ada juga lima saham yang menjadi top losers. Emiten pertama yang menjadi top losers adalah PT Logindo Samudramakmur Tbk yang sahamnya turun 92,98%. Saat ini saham berkode LEAD tersebut berada pada level Rp50 per saham. 

Kemudian, saham top losers kedua adalah milik PT Energi Mega Persada Tbk. yang turun 92,17%. Saham berkode ENRG ini bergerak volatil dan ditutup terakhir pada level Rp57 per lembar saham. 

Saham top losers ketiga adalah milik PT Global Mediacom Tbk. yang turun 81,99% dalam lima tahun terakhir. Saham ini berada pada level Rp386 per lembar saham pada penutupan perdagangan Jumat. 

Sponsored

Kemudian, saham top losers selanjutnya adalah milik PT Eagle High Plantation Tbk. yang turun 77,36%. Saham ini ditutup turun ke level Rp117 per lembar saham. 

Saham top losers selanjutnya adalah saham milik PT Bumi Resources Minerals Tbk. yang turun 76,82% dalam lima tahun terakhir. Saham ini ditutup pada level Rp85 per lembat saham. 

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai IHSG masih akan cenderung bergerak positif hingga akhir tahun. 

"Setiap kali ada pemilu IHSG selalu bergerak positif, tapi khusus tahun ini saja IHSG bergerak negatif. Kami melihat tensi politik dan keamanan nasional menjadi salah satu faktor tahun ini yang membuat IHSG melempem," kata Nico ketika dihubungi, Jumat (18/10). 

Namun, lanjut Nico, dirinya masih berharap ada 'Jokowi effect' tahap kedua nanti pada saat pelantikan yang bisa membuat market naik pekan depan.

Nico pun melihat dalam lima tahun terakhir ini, puncak sentimen negatif IHSG terjadi pada saat perang dagang, yang ditambah dengan ketegangan politik yang kian memanas dari dalam negeri. 

Sedangkan untuk sentimen positif IHSG hingga akhir tahun, Nico melihat kesepakatan dagang pertama antara China dan Amerika Serikat akan menjadi dorongan positif IHSG. 

Nico pun merevisi target IHSG hingga akhir tahun dari level 6.950 menjadi level 6.750. Seburuk-buruknya, lanjut Nico, ia masih berharap IHSG bisa berada di level 6.550.