sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Ifishdeco cari dana segar tingkatkan produksi bijih nikel

PT Ifishdeco Tbk. (IFSH) mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 05 Des 2019 12:05 WIB
Ifishdeco cari dana segar tingkatkan produksi bijih nikel
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 72347
Dirawat 35349
Meninggal 3469
Sembuh 33529

PT Ifishdeco Tbk. (IFSH) mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, Kamis (5/12). Emiten yang bergerak di bidang pertambangan bijih nikel ini menjadi perusahaan tercatat ke-50 yang melantai di bursa pada 2019.

Perseroan melepas sebanyak 425 juta lembar saham atau setara dengan 20% modal disetor dan ditempatkan perseroan. Pada pembukaan perdagangan hari ini, saham Ifishdeco dibuka naik 50% ke level Rp660 dari harga penawaran Rp440. Saham Ifishdeco ditransaksikan sebanyak 85 kali dengan volume 8.515 lot dengan nilai Rp557,78 juta.

Presiden Direktur Ifishdeco Oei Harry Fong Jaya mengatakan dari proses IPO ini perseroan memperoleh dana segar sebanyak Rp187 miliar. Rencananya, dana perolehan IPO ini sebesar 83,78% akan digunakan untuk mengembangkan usaha anak, yaitu PT Bintang Smelter Indonesia (PT BSI).

"Nanti PT BSI akan menggunakan dana itu untuk down payment pembelian dua line mesin Rotary Klin-Electric Furnace (RKEF)," kata Oei di gedung BEI, Jakarta, Kamis (5/12).

Oei menjelaskan RKEF yang akan dibeli oleh PT BSI adalah RKEF 36 MW atau 36.000 KVA. Mesin RKEF tersebut akan digunakan sebagai mesin pengolahan dan pemurnian bijih nikel untuk menghasilkan produk feronikel (FeNi). Kapasitas produksi mesin RKEF ini adalah 60.000 Ton FeNi/tahun atau sebesar 120.000 Ton FeNi/tahun untuk 2 (dua) Mesin RKEF.

"Peluang ke depan, kami sudah memiliki failitas pemurnian dengan kapasitas 50.000 ton per tahun. Dengan penambahan dua kapasitas ini, kami bisa memproduksi 120.000 ton lagi," tutur Oei.

Sementara, sisa dana IPO sebesar 16,22% akan digunakan untuk modal kerja perseroan seperti penyewaan alat berat untuk kegiatan pertambangan.

Selain itu, untuk tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan hingga Rp1,2 triliun. Oei mengatakan hingga kuartal III-2019, perseroan telah mencapai 50% dari target tersebut.

Sponsored

"Untuk laba kotor, kami menargetkan Rp180 miliar hingga akhir tahun. Hingga saat ini sudah tercapai 60% dari target," ujar Oei.

Sebagai informasi, berdasarkan prospektus perseroan, dari laporan laba rugi per 31 Mei 2019, laba kotor perseroan tercatat sebesar Rp117 miliar, menurun 32,75% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan demikian, perseroan memproyeksi turun laba mereka di tahun depan mencapai Rp134 miliar. Penurunan proyeksi laba perseroan ini disebabkan adanya kebijakan pemerintah yang melarang ekspor bijih nikel. Seharusnya, kebijakan larangan ekspor bijih nikel tersebut diterapkan Januari 2022, namun dipercepat menjadi 2020.

"Sehingga kami mengubah proyeksi menjadi konservatif dan mengakibatkan ada penurunan profit. Namun, jika pemerintah tetap mengikuti kebijakan sebelumnya, kita peningkatan profit 7%," kata Oei. 

Berita Lainnya