sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

IHSG diprediksi tembus ke level 6.400 di akhir tahun

PMN Investment Management menyatakan kinerja Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak terlalu buruk dibandingkan bursa Malaysia dan Hong Kong.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 04 Okt 2019 13:55 WIB
IHSG diprediksi tembus ke level 6.400 di akhir tahun
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 23165
Dirawat 15870
Meninggal 1418
Sembuh 5877

PT Permodalan Nasional Madani (PMN) Investment Management memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan menyentuh level Rp6.400 hingga akhir tahun.

Senior Analyst PNM Investment Management Usman Hidayat mengatakan memang ada kontraksi IHSG di 2019, akan tetapi hal tersebut berangsur membaik. 

"September ke Desember perkiraan kami IHSG naik 4%. IHSG bisa ditutup di level 6.400," kata Usman, di Jakarta, Jumat (4/10).

Usman mengamati, sejak Maret 2019, bursa saham global telah melemah sejak Maret 2019. Pelemahan tersebut disebabkan sebagian besar oleh risiko ketidakpastian global, konsolidasi tensi perang dagang dan geopolitik global. 

Usman melanjutkan, kinerja Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak terlalu buruk dibandingkan dengan Indeks milik Malaysia, Kuala Lumpur Composite Index dan indeks Hong Kong, Hang Seng. 

"Bursa kita punya potensi tinggi pada awal tahun. Tapi tergerus lagi, karena tendensi global dan penurunan subung," ujar Usman.

Sementara untuk aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp588,83 triliun year-to-date berdasarkan data dari RTI Infokom, Usman mengatakan investor asing tak sepenuhnya keluar dari pasar Indonesia. 

"Asing jual bersih, tapi belum tentu keluar, bisa jadi mereka beralih ke obligasi," tutur Usman.

Sponsored

Usman menilai investor asing akan sangat mungkin kembali ke pasar modal Indonesia karena pasar modal Indonesia merupakan pasar yang tengah bertumbuh. Usman pun memperkirakan investor asing cenderung akan kembali ke pasar modal dengan membeli saham-saham emiten yang memiliki kapitalisasi pasar besar (big cap).

Usman juga memperkirakan saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar besar tersebut akan mendorong kenaikan indeks hingga akhir tahun.

Sementara, untuk pasar obligasi, Usman menyarankan investor untuk berinvestasi di Surat Berharga Negara (SBN) daripada obligasi korporasi karena melihat suku bunga acuan yang terus turun. 

"Ketika BI rate naik, kita pilih corporate bonds atau korporasi dengan tenor pendek. Kita salah satu negara dengan probabilitas default corporate bond yang tinggi, jadi saran kita untuk saat ini adalah SBN," ujar Usman.

Berita Lainnya