sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Indonesia baru manfaatkan 2,15% dari potensi EBT

Indonesia menggandeng Inggris dalam upaya mewujudkan EBT 23% pada 2025

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Kamis, 30 Jul 2020 17:45 WIB
Indonesia baru manfaatkan 2,15% dari potensi EBT
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 404.048
Dirawat 60.569
Meninggal 13.701
Sembuh 329.778

Indonesia disebut memiliki potensi energi terbarukan (EBT) terbesar di dunia, yaitu sebesar 442 gigawatt (GW) atau 6,5 kali kapasitas pembangkit yang telah beroperasi saat ini. Namun, secara persentase yang baru dihasilkan hanya sebesar 2,15%.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ego Syahrial mengatakan, menyadari potensi tersebut pemerintah telah menetapkan target EBT sebesar 23% hingga 2025. Dan salah satu upaya untuk mewujudkannya adalah dengan menggandeng Inggris.

"Saat ini, Indonesia baru menggunakan 2,15% dari kapasitas tersebut sehingga peluangnya masih sangat besar. Kami meluncurkan program Mentari, Program Kemitraan Energi Rendah Karbon Inggris-Indonesia guna mendukung upaya pemulihan ekonomi yang ramah lingkungan," katanya dalam video conference, Kamis (30/7).

Program Mentari, lanjutnya, bertujuan untuk membawa pengalaman Inggris dalam mengembangkan sektor energi, serta membenahi kerangka kerja regulasi terkait energi terbarukan yang akan menciptakan iklim usaha yang lebih baik.

Selain itu, mendorong investasi swasta pada proyek energi terbarukan, baik untuk sistem penyediaan listrik melalui jaringan PLN (on-grid) maupun di luar jaringan PLN (off-grid). 

"Program ini akan beroperasi secara nasional namun akan fokus pada pengembangan EBT di Indonesia bagian Timur. Peralihan ke energi bersih menguntungkan semua pihak," ujarnya.

Tidak saja mengurangi emisi berbahaya dan melindungi kelestarian lingkungan, namun pendekatan yang ramah lingkungan. Juga akan meningkatkan ketahanan energi dan membantu menyediakan listrik yang andal dan berbiaya rendah bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ego menuturkan alasan menggandeng Inggris dalam upaya mewujudkan EBT 23% tersebut, karena pengalaman negara Ratu Elizabeth tersebut dalam mewujudkan sumber energi yang rendah emisi, dengan penurunan penggunaan baru bara dan pemanfaatan teknologi kincir angin sebagai sumber pembangkit listrik.

Sponsored

Awal Juli ini, Inggris juga mengumumkan paket stimulus untuk perekonomian domestik senilai Rp73 triliun, untuk pemulihan ekonomi yang ramah lingkungan, bukti lain dari komitmennya terhadap pemulihan ekonomi yang hijau.

"Inggris telah memperlihatkan bahwa memperjuangkan energi yang lebih ramah lingkungan sangat mungkin dilakukan bersamaan dengan menciptakan lapangan kerja dan mendorong perekonomian," ucapnya.

Sementara itu, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Owen Jenkins mengatakan, Indonesia berpeluang menjadi negara adidaya di sektor energi terbarukan, dan terdepan dalam menurunkan emisi karbon dengan semua potensi yang dimilikinya.

“Indonesia berpotensi menjadi negara adidaya di sektor energi terbarukan. Di saat kita menghadapi tantangan pemulihan ekonomi global yang lebih ramah lingkungan dan memasuki dekade kritis dalam mengatasi perubahan iklim, saya senang Inggris dapat menjalin kemitraan dengan Indonesia guna mendukung transisi energi yang rendah emisi," ucapnya.

Berita Lainnya