sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Indonesia kejar potensi ekspor porang dari produk hilirisasi

Jika Indonesia mampu menggenjot produksi hilir porang nilai tambah yang didapat akan melonjak hingga 230%.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Rabu, 23 Jun 2021 16:27 WIB
Indonesia kejar potensi ekspor porang dari produk hilirisasi

Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan, Kementerian Perindustrian Supriadi mengungkapkan, potensi ekspor porang Indonesia masih terbuka lebar, mengingat kualitas porang yang dihasilkan di dalam negeri cukup baik.

Hanya saja, Indonesia masih mengekspor produk olahan porang dalam bentuk chips atau produk setengah jadi. Padahal, jika Indonesia mampu menggenjot produksi hilir porang nilai tambah yang didapat akan melonjak hingga 230% dari ekspor saat ini.

"Ke depan mungkin kita bekerja sama dengan melakukan pengembangan industri hilir porang sehingga nilai tambahnya ada di dalam negeri," katanya dalam webinar, Rabu (23/6).

Dia menjelaskan, harga umbi porang di pasaran berada di kisaran Rp7.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Sementara dalam bentuk chips harganya mencapai Rp74.000 hingga Rp82.000 per kilogram.

Jika diolah kembali menjadi konjac gum dan konjac powder atau gepung glukomanan harganya di pasaran dapat melambung hingga Rp300.000 per kilogram.

"Kemenperin arahnya sekarang mengembangkan industri pengolahan, agar nilai tambahnya ada di dalam negeri dan juga sebagai program substitusi impor dan program kemitraan antara industri pengolahan porang," ujarnya.

Dia pun menuturkan, permintaan porang dunia sangat besar. Terutama di China dan Jepang. Negara-negara tersebut bahkan membutuhkan tepung glukomanan hingga 500 ton per tahun. Potensi inilah yang dibidik pemerintah.

Namun, selama ini Indonesia baru mampu menyuplai produk setengah jadi dalam bentuk chips, dan mengimpor tepung konjac gum atau konjac powder dari negara lain. Ke depan ditargetkan Indonesia mampu memproduksi konjac powder dan konjac gum sendiri.

Sponsored

Supriadi menjelaskan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Porang Indonesia (P4I) Universitas Brawijaya, telah memiliki mesin yang mengolah umbi porang menjadi tepung konjac gum dan konjac powder dengan hasil yang lebih baik.

"Mesin pengolahan P4I sudah bisa menghasilkan konjac gum dan powder dengan kualitas yang sangat bagus. Tinggal kapasitas diperbesar sedikit," ucapnya.

P4I telah memiliki mesin yang mampu mengolah konjac powder 100kg per jam dengan rendemen 4% dengan fix cost Rp15.000. Sedangkan, untuk konjac gum 50kg per jam dengan fix cost Rp50.000.

Bahkan, P4I sudah bisa melakukan uji laboratorium untuk melihat kandungan glukomanan pada konjac powder dan konjac gum. Di mana hasil kandungan glukomanannya rata-rata lebih tinggi dari produk konjac powder impor yang sebesar 50%-57%.

"Sementara di P4I sudah bisa produksi konjac gum glukomanan sekitar 70%. Jadi kalau lihat seperti itu mestinya sudah bisa diproduksi di dalam negeri," ujar dia.

Adapun sepanjang 2020 nilai ekspor porang Indonesia mencapai US$19,8 juta dengan total ekspor sebesar 7.575 ton. Sementara impor Indonesia dalam bentuk tepung glukomanan sebesar 229 ton atau senilai US$510,9 ribu/ton.

Berita Lainnya