sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Industri manufaktur semakin membaik

Industri manufaktur yang mengalami pertumbuhan produksi tertinggi pada triwulan II-2018 terhadap triwulan II-2017 adalah industri kulit.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Kamis, 02 Agst 2018 09:47 WIB
Industri manufaktur semakin membaik

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II-2018 naik sebesar 1,49% (q-to-q) terhadap triwulan I-2018. Industri yang mengalami kenaikan produksi tertinggi adalah industri pengolahan tembakau, yaitu naik 10,31%. Sedangkan industri yang mengalami penurunan terbesar adalah industri barang galian bukan logam, yaitu turun 8,47%.

Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan II-2018 (q-to-q) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Aceh, yaitu naik 30,07%. Sedangkan provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan adalah Provinsi Sulawesi Tenggara, yaitu turun 22,85%.

Jika dilihat dari year on year (y-on-y), jelas Kepala BPS Suharyanto, pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang pada triwulan II-2018 mengalami kenaikan sebesar 4,36% terhadap triwulan II-2017.

"Industri manufaktur yang mengalami pertumbuhan produksi (y-on-y) tertinggi pada triwulan II-2018 terhadap triwulan II-2017 adalah industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, naik 27,73%. Industri karet, barang dari karet dan plastik, naik 17,28%. Industri minuman, naik 15,41%. Industri pakaian jadi, naik 14,63%. Industri alat angkutan lainnya, naik 12,34%," terang dia kepada wartawan, Selasa (2/8) di Jakarta.

Sementara pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan II-2018 naik sebesar 1,34% (q-to-q) terhadap triwulan I-2018. Industri yang mengalami kenaikan pertumbuhan produksi tertinggi adalah industri pakaian jadi, naik 6,90%. Sedangkan industri yang mengalami penurunan terbesar adalah industri pengolahan tembakau turun 13,63%.

Sementara jika dilihat dari year on year, pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan II-2018 naik sebesar 4,93% terhadap triwulan II-2017. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, naik 25,55%. Sedangkan industri yang mengalami penurunan pertumbuhan produksi terbesar adalah industri pengolahan tembakau, turun 57,28%. 

Di kesempatan terpisah, Ekonom Senior Center of Reform on Economics (CORE), Ina Primiana, mengatakan, industri manufaktur memang mengalami pertumbuhan, meskipun masih jauh dari target yang ditetapkan pada Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) di 2015, yaitu 6,8%. 

Ina pun memandang sebaiknya ada pemersatu antara industri manufaktur besar dan sedang serta industri manufaktur mikro dan kecil. Apalagi pasar industri manufaktur mikro dan kecil sangat terbatas. 

Sponsored

"Kalau sekarang tidak inline antara industri manufaktur besar dan sedang dan industri manufaktur mikro dan kecil . Untuk menggerakkan itu semua, pemerintah harus membuat industri subtitusi impor untuk memenuhi ini semua. Tetapi harganya harus berdaya saing, dan kualitas tidak kalah dengan impor," jelas Ina. 

Caranya untuk menyatukan mereka, kata dia, harus ada intervensi dari pemerintah agar harga produk dalam negeri bisa bersaing. Pemerintah sebaiknya jangan membiarkan IMK tumbuh sendiri, dimana mereka bisa dibina agar bisa menghasilkan produk yang sesuai dengan yang dibutuhkan IBS.