logo alinea.id logo alinea.id

Industri TPT sakit, Ikatsi minta pemerintah hentikan impor

Kinerja perdagangan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional masih melempem di semester I-2019.

Ardiansyah Fadli
Ardiansyah Fadli Senin, 09 Sep 2019 16:22 WIB
Industri TPT sakit, Ikatsi minta pemerintah hentikan impor

lkatan Ahli Tekstil Indonesia (Ikatsi) mengajukan sejumlah usulan untuk memperbaiki industri produk tekstil dan produk tekstil (TPT). Salah satunya, meminta pemerintah menghentikan impor TPT sementara selama enam bulan serta merevisi Peraturan Menteri Perdagangan nomor 64 tahun 2017.

Langkah itu dilakukan untuk memperbaiki angka defisit neraca perdagangan industri TPT. Kinerja perdagangan industri TPT nasional masih melempem di semester I-2019 lantaran tertekan tingginya pertumbuhan impor.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, rata-rata pertumbuhan ekspor dalam 10 tahun terakhir hanya berkisar 3%, sedangkan pertumbuhan impor mencapai 10,4%. 

 

Ketua Umum IKATSI Suharno Rusdi mengatakan pukulan terhadap industri TPT terutama terjadi pada sektor produksi serat, benang, dan kain. Pada semester I 2019, defisit neraca perdagangan pada sektor produksi serat mencapai US$510 juta. Demikian juga dengan industri benang pintal dan filament yang defisit US$810 juta pada periode yang sama. Adapun industri kain, minus US$2,08 miliar. 

”Kami telah mengirimkan surat kepada Presiden dan beberapa kementerian terkait untuk memperbaiki keadaan ini. Selain merevisi peraturan, kami juga meminta pemerintah menghentikan izin impor TPT kecuali untuk kepentingan ekspor melalui Kawasan Berikat (KB) dan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE)," kata Rusdi, di Gedung Kadin Jakarta, Senin (9/9). 

Pembenahan sektor TPT dinilai dapat menjadi Iangkah strategis bagi pemerintah untuk mengerek neraca perdagangan agar kembali positif. Selain itu, menurut Rusdi, juga dapat mencegah dampak buruk dari kondisi ekonomi makro lainnya.

Sponsored

”Kalau sektor ini sakit, sektor perbankan akan terdampak, setoran BPJS dan pembayaran listrik juga terdampak. Karena itu, harus segera diperbaiki sebelum terlambat," ujarnya

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia (Apsyfi) Redma Gita Wiraswasta mengatakan neraca perdagangan industri TPT terus melorot. 

"Banyak industri tekstil yang tutup, bahkan terjadi PHK (pemutusan hubungan kerja) massal," ujarnya.