sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

IPO ditunda, Nara Hotel kembalikan uang investor 100%

BEI maupun OJK belum menyampaikan sikap terbaru atas listing PT Nara Hotel Internasional.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 14 Feb 2020 20:20 WIB
IPO ditunda, Nara Hotel kembalikan uang investor 100%
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

PT Nara Hotel Internasional akan mengembalikan 100% dana yang sudah disetor investor akibat tertundanya pencatatan saham perdana perusahaan.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama Magenta Kapital Sekuritas Indonesia Hoksan Sinaga selaku penjamin efek Nara Hotel Internasional. Adapun jumlah dana initial public offering (IPO) yang akan dikembalikan ke investor mencapai Rp202 miliar.

"Melalui pengumuman ini kami memberitahukan bahwa dana hasil penawaran umum perdana saham perseroan akan dikembalikan seluruhnya ke investor pada hari Senin, tanggal 17 Februari 2020," kata Hoksan dalam keterangan resminya.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna mengatakan pihaknya bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara intens telah melakukan joint audit untuk memastikan proses penawaran umum. Termasuk, penyampaian keterbukaan informasi kepada publik telah sesuai dengan ketentuan.

"Pemeriksaan kami lakukan terhadap underwriter dan emiten secara mendalam," ujar Nyoman melalui pesan instan, Kamis (13/2).

Nyoman melanjutkan, melalui pemeriksaan ini, otoritas berharap mendapatkan informasi yang komprehensif. Sehingga, dapat mengambil keputusan secara fair dan obyektif.

Namun, hingga Jumat (14/2), baik BEI maupun OJK belum menyampaikan sikap terbaru mereka, apakah listing Nara Hotel tetap dilanjutkan atau dibatalkan.

Sebelumnya, pada Jumat (7/2), Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan pencatatan perdana saham Nara Hotel Internasional sementara ditunda, tidak dibatalkan.

Sponsored

"Ada yang komplain dari para nasabah yang mungkin kita mesti hati-hati melihatnya. Yang saya tahu terkait pooling atau penawaran umum. Selain itu ada dugaan mark-up asset yang sedang kami telusuri," kata Inarno.

Berita Lainnya