sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Ipsos: GoPay pimpin pasar dompet digital tanpa bakar uang

Sebanyak 54% pengguna GoPay menyatakan tidak akan beralih meskipun tidak ada promo.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Rabu, 12 Feb 2020 18:05 WIB
Ipsos: GoPay pimpin pasar dompet digital tanpa bakar uang
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 291182
Dirawat 61839
Meninggal 10856
Sembuh 218487

Perusahaan riset global asal Prancis Ipsos menyebutkan GoPay mampu menjadi pemimpin pasar (market leader) dompet digital di Indonesia meski tidak ada promo atau "bakar uang". Research Director Customer Experience Ipsos Indonesia, Olivia Samosir memaparkan sebanyak 54% generasi muda sebagai partisipan riset menyatakan akan terus menggunakan GoPay meski tidak ada promo.

"Penelitian ini unik karena pertama kalinya kami menanyakan ke konsumen generasi muda tentang kesediaan mereka untuk tetap menggunakan dompet digital tanpa promo. Kategori konsumen ini bisa disebut sebagai pengguna organik," kata Olivia Samosir, saat memaparkan hasil penelitian Evolusi Dompet Digital: Strategi Menang Tanpa Bakar Uang di Jakarta, Rabu (12/2).

Menurut dia, pengguna organik merupakan tulang punggung bisnis dompet digital yang dapat membuat bisnis menjadi berkesinambungan. Dari hasil penelitian Ipsos, GoPay memiliki pengguna organik dalam jumlah dominan. Dari seluruh pengguna organik, sebesar 29% akan tetap menggunakan OVO, sebesar 11% tetap menggunakan Dana, dan 6% menggunakan LinkAja.

"Hasil temuan kami menemukan bahwa loyalitas konsumen untuk tetap menggunakan dompet digital tanpa promo tergantung pada kualitas layanan," ujar Olivia.

Olivia menuturkan survei yang dilakukan dengan metode random sampling dan tatap muka itu, GoPay unggul di mayoritas parameter kualitas layanan dompet digital, di antaranya aspek keamanan (76%), kepraktisan (77%), inovasi (72%), layanan pelanggan (73%), dan dapat diterima atau bisa digunakan di mana-mana (76%).

Responden berjumlah 500 orang tersebar di lima kota besar yakni Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Palembang, dan Manado. Mayoritas adalah milenial (kelahiran 1980-1996) dan generasi (gen) Z (kelahiran 1997-2002).

"Fokusnya ke generasi muda karena Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Kelas produktif itu didominasi milenial," ucapnya.

Inovasi jadi kunci

Sponsored

Dalam kesempatan itu, Business Development Advisor Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Hotradero menilai GoPay bisa terus bertumbuh seperti sekarang karena memberikan solusi atas kebutuhan masyarakat.

"Dia bisa melakukan apa yang sejauh ini bank tidak bisa lakukan. Bukan berarti menggantikan bank. Dan tentu saja karena ada ekosistem yang terbentuk di Gojek," katanya.

Poltak menegaskan, inovasi menjadi kunci utama dalam persaingan dompet digital saat ini. Bukan lagi semata jualan promo.

"Ya seperti contoh GoPay saja yang awalnya sederhana, menolong untuk kebutuhan sehari-hari. Setelah itu harus mendengar apa yang konsumen butuhkan dan lakukan inovasi," paparnya.

Managing Director GoPay Budi Gandasoebrata mengatakan promo akan tetap ada tapi hanya bersifat taktikal dan sesuai target seperti dilakukan industri lain dan termasuk kartu kredit perbankan. Namun, bukan yang bersifat terus-menerus.

"Kalau di GoPay fokusnya dari awal adalah sustainability dan profitability. Dan seperti kalian tahu, dari awal kan promo GoPay ya paling jelek lah. Biasa saja tidak sampai besar. Tapi paling banyak penggunanya karena kita tingkatkan di layanan," ujarnya. (Ant)

Berita Lainnya

, : WIB

, : WIB

, : WIB