logo alinea.id logo alinea.id

Jaga inflasi Ramadan, pemerintah harus jaga harga makanan dan transportasi

Kelangkaan suplai pangan dihadapkan dengan lonjakan permintaan berpotensi mendorong inflasi.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Minggu, 05 Mei 2019 13:58 WIB
Jaga inflasi Ramadan, pemerintah harus jaga harga makanan dan transportasi

Pemerintah diharapkan dapat menjaga harga komoditas bahan pangan dan produk makanan jadi pada Ramadan 1440 Hijriah yang jatuh pada Mei hingga Juni 2019, agar inflasi tetap terjaga. Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah meyakini, momentum Ramadan dan lebaran dapat memicu inflasi lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. 

Selain produk pangan, komoditas produk sandang seperti kendaraan bermotor dan tiket transportasi, juga berpotensi mengalami kenaikan harga. 

"Kelangkaan suplai pangan dihadapkan dengan lonjakan permintaan. Jadi, potensial sekali mendorong kenaikan harga atau inflasi," ujarnya kepada jurnalis Alinea.id di Jakarta, Minggu (5/5).

Piter memprediksi inflasi pada bulan Mei akan berada pada kisaran 0,45% sampai 0,55% (month to month/ mtm). 

Piter menyarankan agar pemerintah perlu menjaga pasokan produk bahan makanan, khususnya yang sudah mengalami kenaikan harga, seperti bawang merah, bawang putih, daging ayam dan sapi, serta cabai. 

Menurut dia, operasi pasar sangat ampuh untuk menahan kenaikan harga. 

"Pendekatan operasi pasar misal dengan adanya pasar pertanian, selama ini efektif menahan kenaikan harga. Perlu lebih ditingkatkan," katanya. 

Terpisah, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, pemerintah perlu mengantisipasi berkurangnya ketersediaan bawang merah di pasar. 

Sponsored

Cuaca yang tidak menentu seperti yang saat ini terjadi, bisa mengakibatkan stok berkurang drastis sehingga membuat bawang merah menjadi langka dan harga melonjak signifikan. 

Senada dengan Piter, Bhima memprediksi inflasi bulan Mei juga akan disumbang oleh tingginya harga transportasi, terutama tiket pesawat. 

"Kondisi produksi pangan di daerah yang rawan bencana, juga berpengaruh terhadap kenaikan harga. Di sisi lain, sumbangan harga tiket pesawat ke inflasi, konsisten dirasakan sejak awal tahun (2019)," ujarnya. 

Secara global, pemerintah juga disarankan untuk memperhatikan harga minyak mentah yang fluktuatif di atas US$70 per barel. Hal  ini dapat berimbas kepada kenaikan harga BBM non subsidi seperti Pertamax dan Pertalite. 

"Jadi tekanan inflasi harga yang diatur pemerintah masih membayangi sepanjang tahun. Target pemerintah menjaga inflasi dilevel 3,5% perlu disiasati dengan manajemen pasokan dan pengendalian pola distribusi," kata Bhima menuturkan.

Sebelumnya, Menteri Koodinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memastikan bahwa impor bawang putih sudah terealisasi pada bulan ini. Saat ini, pemerintah sedang mencari cara guna menahan kenaikan harga pada bawang putih dan cabai, apabila tidak ada panen dalam waktu dekat.

"Bawang ini harus ada jalan lain yang mesti dilakukan (apabila tidak ada penen). Kalau dibiarkan aja, harganya jatuh," kata Darmin di kantornya, Jumat (3/5). 

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengumumkan inflasi sepanjang April 2019 sebesar 0,44%. Inflasi terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 1,45%; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,19%; serta kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,12%.

Duka lara para pencari suaka

Duka lara para pencari suaka

Jumat, 19 Jul 2019 08:00 WIB
Membaca peluang Garbi menjadi partai politik

Membaca peluang Garbi menjadi partai politik

Rabu, 17 Jul 2019 20:50 WIB