sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jatuh, BI prediksi pertumbuhan ekonomi 2020 hanya 0,9%

Pada 2021 perekonomian nasional diramal bangkit dari keterpurukannya usai dihajar pandemi Covid-19 di 2020.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Kamis, 18 Jun 2020 17:04 WIB
Jatuh, BI prediksi pertumbuhan ekonomi 2020 hanya 0,9%
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 557.877
Dirawat 77.969
Meninggal 17.355
Sembuh 462.553

Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2020 hanya akan berada di kisaran 0,9% hingga 1,9%. Prediksi itu atau jauh lebih rendah dari skenario berat yang dibuat pemerintah yaitu sebesar 2,3%.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan menurun dan berada pada kisaran 0,9% hingga 1,9% pada 2020," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam video conference, Kamis (18/6).

Meski demikian, dia optimistis pada 2021 perekonomian nasional akan kembali bangkit dari keterpurukannya usai dihajar pandemi Covid-19 di 2020. Tak tanggung-tanggung, dia memperkirakan laju perekonomian akan tumbuh 5,0% hingga 6,0% di 2021.

"Meningkatnya pertumbuhan ekonomi didorong dampak perbaikan ekonomi global dan stimulus kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia," ujarnya.

Dia menuturkan, untuk mewujudkan angka pertumbuhan ekonomi tersebut, BI bakal memperkuat sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait agar berbagai kebijakan yang ditempuh dapat semakin efektif dalam mendorong pemulihan ekonomi pasca-Covid-19.

Perry mengatakan, perbaikan ekonomi ke depan dapat didorong oleh perbaikan indikator ekonomi yang ditopang oleh menyempitnya defisit transaksi berjalan (CAD) karena semakin membaiknya prospek neraca perdagangan. 

Hal ini terlihat dari surplus neraca perdagangan bulan Mei sebesar US$2,09 miliar atau membaik dari posisi April yang mengalami defisit sebesar US$372,1 juta. Bahkan, lanjut Perry, defisit transaksi berjalan diperkirakan akan lebih rendah dan bisa berada di sekitar 1,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2020 atau jauh di bawah prediksi semula 2,5%-3,0% dari PDB. 

"Demikian pula defisit transaksi berjalan pada 2021 diprediksi akan berada di bawah 2,5%-3,0% PDB," ucapnya.

Sponsored

Selain itu, inflasi juga terus terjaga rendah, terlihat dari posisi Mei yang berada di kisaran 0,07% (month to month/mtm) atau sebesar 2,19% (year on year/yoy). Masih berada di bawah target sebesar 3%.

Keyakinan juga didorong oleh meredanya kepanikan di pasar keuangan global sehingga membuat aliran modal asing masuk atau capital inflow mulai terjadi. Hingga 15 Juni 2020 aliran modal asing masuk mencapai US$7,3 miliar dan membuat menguatnya nilai tukar rupiah.

Penguatan rupiah juga mendorong meningkatnya cadangan devisa nasional. BI mencatat cadangan devisa pada akhir Mei 2020 meningkat menjadi US$130,5 miliar atau setara pembiayaan 8,3 bulan impor atau 8,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. 

Berita Lainnya