sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jokowi: Hati-hati yang senang impor migas, saya ikuti kamu!

Presiden Jokowi meminta agar tidak ada pihak-pihak yang menghalangi pengembangan produk substitusi migas.

Nanda Aria Putra Khudori
Nanda Aria Putra | Khudori Senin, 16 Des 2019 14:55 WIB
Jokowi: Hati-hati yang senang impor migas, saya ikuti kamu!
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 128776
Dirawat 39082
Meninggal 5824
Sembuh 83710

Presiden Joko Widodo kembali meluapkan kegusarannya atas besarnya impor minyak dan gas (migas). Akibat doyan mengimpor migas itu membuat transformasi ekonomi di Indonesia tidak berjalan atau mandek.

Jokowi meminta agar tidak ada pihak-pihak yang menghalangi pengembangan produk substitusi gas dan bahan bakar minyak impor. Dia menilai, mafia migas telah bermain dan menghisap keuntungan dari impor BBM dan gas itu.

"Saya cari. Sudah ketemu siapa yang senang impor dan saya mengerti. Hanya perlu saya ingatkan bolak-balik, hati-hati kamu, hati-hati! Saya ikuti kamu. Jangan menghalangi orang ingin membikin batu bara menjadi gas. Gara-gara kamu senang impor gas," kata Jokowi saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional RPJMN 2020-2024 di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/12).

Jokowi menjelaskan, batu bara bisa diolah menjadi gas. Apabila ini dilakukan, Indonesia tidak perlu lagi impor gas. Hal serupa juga berlaku untuk avtur, bahan bakar pesawat. Ada bahan baku yang dimiliki Indonesia dan bisa diolah jadi avtur.

"Tidak bener ini, avtur masih impor. Padahal, CPO atau 'crude palm oil' itu bisa juga dipindah menjadi avtur. Kok kita senang impor avtur ya? Karena ada yang hobinya impor. Karena apa? Untungnya gede," kata Jokowi.

Menurut dia, impor migas maupun petrokimia nilainya amat besar. Ini membuat defisit neraca berjalan. Juga defisit neraca perdagangan.

Jokowi kembali mengulangi arahannya agar dikembangkan pengganti migas impor berbasiskan sumber daya alam. Misalnya, CPO diolah menjadi biodiesel dan avtur. Batu bara dilah menjadi gas.

Presiden juga meminta industri pertambangan agar tidak mengekspor barang tambang mentah. Barang mentah itu sebaiknya diolah dan dieskpor minimal dalam bentuk barang setengah jadi. Hal itu akan meningkatkan nilai tambah atas produk dan mendorong lapangan kerja.

Migas kembali biang defisit

Data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, migas masih menjadi penyumbang impor terbesar Indonesia pada November 2019. Tercatat, impor migas pada November meningkat drastis 21,60% menjadi US$2,134 juta dibandingkan Oktober sebesar US$1,755 juta.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, kenaikan impor migas dipicu oleh naiknya seluruh komponen migas, yaitu minyak mentah sebesar 84,15%, menjadi US$661,3 juta dibandingkan Oktober yang hanya US$359,1 juta.

Lalu hasil minyak yang meningkat sebesar 5,82% menjadi US$1,250 juta di November dibandingkan Oktober yang hanya sebesar US$1,181 juta. Kemudian gas sebesar 3,81% menjadi US$223 juta dibandingkan bulan lalu yang hanya US$215 juta.

Sponsored

"Penyebab utama defisit masih terjadi karena impor migas, meskipun secara tahunan impor migas menurun dan impor non migas masih mengalami surplus," katanya di Kantor BPS, Jakarta, Senin (16/12). (Ant)

Berita Lainnya