logo alinea.id logo alinea.id

Jonan: DME bisa gantikan LPG

Dengan menggunakan dimethyl ether (DME), impor LPG dapat dikurangi.

Hermansah
Hermansah Senin, 04 Mar 2019 03:44 WIB
Jonan: DME bisa gantikan LPG

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan bersama Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Minggu (3/3), mencanangkan industri hilirisasi batu bara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) di Tanjung Enim, Sumatra Selatan.

Industri hilirisasi batu bara yang akan dibangun adalah pabrik gasifikasi batu bara kalori rendah menjadi syngas, pabrik pengolahan syngas menjadi dimethyl ether (DME), pabrik pengolahan syngas menjadi urea untuk menghasilkan pupuk, dan pabrik pengolahan syngas menjadi polypropylene yang digunakan untuk bahan baku plastik.

Jika industri hilirisasi sudah berjalan, salah satu produknya, yakni DME, bisa menggantikan LPG. Selain itu, dengan menggunakan DME, impor LPG dapat dikurangi. Apalagi dalam setahun, impor LPG Indonesia sekitar 4,5-4,7 juta ton.

"Ini penting sekali bawa DME ini bisa menggantikan LPG, supaya impor LPG kita bisa berkurang," imbuh Jonan dalam keterangan tertulisnya, Minggu (4/3).

Lebih lanjut, Jonan menjelaskan bahwa uang yang dikeluarkan untuk melakukan impor LPG tidak sedikit, yaitu mencapai sekitar Rp40 triliun per tahun. Untuk itu, Jonan meminta kepada PTBA untuk memanfaatkan peluang untuk memaksimalkan produksi DME dengan skala besar.

"Gini deh, coba yang gampang, bikin target satu juta ton mengurangi impor LPG, bisa di mix (campur) juga dengan LPG, mungkin 25% DME atau 50% nantinya," pungkasnya.

Sebagai informasi, pencanangan industri hilirisasi batubara ini merupakan kelanjutan dari Head of Agreement (HoA) antara PTBA, Pertamina, Pupuk Indonesia, dan Chandra Asri Petrochemical untuk pembangunan Coal to Chemical pada 8 Desember 2017. Dengan nilai investasi sebesar US$ 3,1 miliar, target proyek tersebut rampung dalam waktu tiga tahun ke depan atau pada 2022.

Sementara Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri hilirisasi batubara agar dapat menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dan substistusi impor seperti urea, Dimethyl Ether (DME), serta polypropylene. Langkah strategis ini dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan baku pembuatan pupuk, bahan bakar, dan plastik yang akan digunakan di dalam negeri hingga mengisi permintaan pasar ekspor.

Sponsored

“Sektor industri inilah yang sekarang diperlukan sesuai dengan arahan Presiden, karena merupakan substitusi impor dan dapat memperkuat cadangan devisa kita. Maka itu, klaster Tanjung Enim dengan luas 300 hektare ini akan menjadi kawasan industri baru yang terintegrasi,” tutur Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto..

Industri hilirisasi batu bara ini sangat penting untuk memperkuat struktur industri dan optimalisasi perolehan nilai tambah dalam rangka peningkatan daya saing sektor manufaktur, termasuk dalam penguatan kemandirian industri petrokimia di Indonesia.

“Adanya keterkaitan yang luas dengan sektor industri lain tak pelak menjadikan sektor industri petrokimia sebagai tolok ukur tingkat kemajuan suatu negara, selain industri baja. Tak heran jika keberadaan industri petrokimia sering menjadi backbone dari sebagian besar sektor industri di dunia,” terangnya.

Berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri kimia merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang sedang mendapat prioritas pengembangan dan akan menjadi pionir dalam penerapan industri 4.0.