sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kazakhstan, Kenya, dan Tanzania berpotensi serap ekspor Indonesia

Kazakhstan, Kenya, dan Tanzania disebut memiliki kondisi perekonomian yang cukup stabil.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Rabu, 13 Jan 2021 20:50 WIB
Kazakhstan, Kenya, dan Tanzania berpotensi serap ekspor Indonesia
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai Indonesia harus memanfaatkan perjanjian perdagangan internasional, terutama yang sudah berlangsung, untuk meningkatkan volume dan nilai ekspor Indonesia. 

Peneliti CIPS Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan, hal itu dilakukan untuk mendapatkan pangsa pasar baru.

"Selain itu, Indonesia juga akan memperoleh penghapusan atau pengurangan tarif impor untuk beberapa produk yang selama ini sudah tercantum dalam kemitraan ekonomi komprehensif regional (RCEP) maupun kemitraan bilateral seperti dengan Australia," ujar Pingkan dalam keterangan tertulis, Rabu (13/1).

Tak hanya itu, untuk menggenjot ekspor Indonesia juga perlu mempertimbangkan negara-negara non-tradisional yang berpotensi besar menyerap produk-produk ekspor. Hal itu dilakukan dengan cara dengan menganalisis seputar keuntungan yang selama ini telah diperoleh dari transaksi perdagangan Internasional dengan negara non-tradisional.

“Indonesia sebaiknya tidak hanya mengandalkan ekspor ke negara tradisional, tetapi juga harus melebarkan sayap ekspor ke negara non-tradisional. Perlu adanya upaya untuk membentuk segmen pasar dalam negeri yang mampu menyediakan kebutuhan-kebutuhan negara non-tradisional,” kata 

Pingkan menguraikan, perlu adanya diversifikasi negara tujuan ekspor di luar negara-negara tradisional untuk menciptakan pasar baru di tengah pandemi Covid-19. Apalagi, negara tradisional ekspor Indonesia juga terkena dampak parah dari pandemi.

Indonesia, katanya, dapat menyasar negara yang membutuhkan barang-barang seperti pangan olahan. Selain itu juga bisa menyasar negara tujuan yang memiliki potensi pertumbuhan ekonomi yang bagus, yang akan memberikan peluang untuk surplus perdagangan Indonesia.

"Negara-negara seperti Kazakhstan, Kenya, dan Tanzania memiliki peluang yang bagus menjadi tujuan ekspor karena ketiga negara ini diprediksi akan mengalami pertumbuhan jumlah penduduk kelas menengah dan juga memiliki kondisi perekonomian yang cukup stabil dalam beberapa tahun ke belakang," ujarnya.

Sponsored

Belum lagi untuk negara di kawasan Afrika yang tengah mengalami pertumbuhan penduduk cepat sehingga diprediksi kebutuhan akan produk-produk tertentu pun akan meningkat.

Di samping itu, pemerintah juga perlu meningkatkan kerjasama bilateral dengan negara-negara non-tradisional lewat kerangka seperti Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dan Free Trade Agreement (FTA) yang dapat memberikan keuntungan dalam perdagangan seperti penghapusan dan hambatan bea masuk.

Adapun, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020 nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok menempati posisi teratas dibandingkan dengan negara mitra dagang lainnya dengan nilai mencapai US$26,6 miliar. Posisi kedua dan ketiga ditempati oleh Amerika Serikat (AS) dengan US$16,7 miliar dan Jepang dengan US$11,6 miliar.

Kenaikan tren ekspor juga dialami oleh negara tujuan non-tradisional dalam lima tahun terakhir seperti Tanzania dari sebesar US$214 juta di 2015 menjadi US$262,9 juta di 2020; Kenya US$187,7 juta di 2015 menjadi US$220,6 juta di 2020; dan Kazakhstan US$3,2 juta di 2015 menjadi US$207,1 juta di 2020.

"Kondisi Ini menjelaskan produk Indonesia diterima dengan baik oleh negara-negara non-tradisional," terangnya.

Berita Lainnya