sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bahana TCW: Kebijakan pemerintah efektif pacu pemulihan ekonomi

Bahana TCW Investment Management mencermati tiga hal untuk mengukur efektivitas stimulus, salah satunya pertumbuhan M1.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 03 Nov 2020 19:28 WIB
Bahana TCW: Kebijakan pemerintah efektif pacu pemulihan ekonomi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 939.948
Dirawat 149.388
Meninggal 26.857
Sembuh 763.703

PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) menilai beragam kebijakan pemerintah, Bank Indonesia, dan OJK untuk memacu pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19 mulai menunjukkan hasil positif.

Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi Bahana TCW Budi Hikmat mengatakan, ada tiga hal yang dicermati untuk mengukur efektivitas stimulus. Pertama, mencermati pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) sebagai ukuran daya beli.

Dalam hal tersebut, pertumbuhan M1 tercatat melonjak 19,3% per Agustus dibanding setahun lalu.

Indikator kedua yang dicermati adalah kembalinya investor asing ke dalam surat berharga negara (SBN) untuk memperkuat posisi rupiah.

"Ada isyarat baik, selama Oktober investor asing terus masuk," kata Budi dalam keterangan persnya, Selasa (3/11).

Lalu, indikator ketiga, penyaluran kredit oleh perbankan yang telah memiliki likuiditas. Dalam hal ini, kata Budi, walau secara tahunan masih mengecewakan, namun angka bulanan pertumbuhan kredit sudah menunjukkan perbaikan.

Tunggu Pilpres AS

Sementara itu secara umum, Budi memperkirakan aliran modal asing masih tertahan untuk masuk ke negara-negara berkembang seperti Indonesia, menunggu hasil pilpres di Amerika Serikat (AS).

Sponsored

Budi menilai kemenangan Biden cenderung positif bagi negara berkembang, termasuk Indonesia. Pasalnya, kebijakan Presiden Donald Trump yang menurut Budi ‘cenderung ultra-populis selama ini membuat perekonomian dunia kurang imbang dan berisiko memicu gejolak yang lebih kompleks di masa yang akan datang.

Stimulus masif defisit fiskal, terutama pemotongan pajak korporasi yang lebih berpihak kepada kelompok ekonomi atas, telah menyebabkan perekonomian AS relatif paling kuat dibandingkan negara lain. Di sisi lain, stimulus moneter berupa penurunan suku bunga dan penggelontoran likuiditas telah memicu kenaikan harga saham di AS. Hal ini menyebabkan investor enggan masuk ke negara berkembang

Selain hasil pilpres AS, market juga menanti solusi penanganan dari wabah Covid-19, di mana saat ini Eropa tengah mengalami gelombang kedua (second wave).

Kendati melihat peluang keuntungan di pasar saham jika Biden menang, Budi mengingatkan investor untuk siaga menyikapi volatilitas, terutama yang bersumber dari nilai tukar.

"Sejauh ini, investor asing menyukai SBN Indonesia dalam mata uang asing yang relatif aman terhadap risiko nilai tukar," ujarnya.

Untuk diketahui, posisi kepemilikan investor asing dalam SBN tercatat sebesar Rp952 triliun. Angka ini sudah naik dari posisi terendah Rp917 triliun, tetapi masih belum kembali melampaui posisi sebelum Covid-19 sejumlah Rp1.090 triliun.

Berita Lainnya

PPKM dan prokes ketat bisa tekan Covid-19

Senin, 25 Jan 2021 22:06 WIB

Polri harus telusuri motif dana asing ke FPI

Selasa, 26 Jan 2021 16:57 WIB

Polri diminta usut motif dana asing ke FPI

Selasa, 26 Jan 2021 13:05 WIB
×
img