logo alinea.id logo alinea.id

Kebutuhan gula rafinasi naik hingga 6%

Konsumsi makanan dan minuman diprediksi meningkat jelang Pemilu 2019. Sektor ini membutuhkan pasokan gula kristal rafinasi lebih banyak.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Rabu, 16 Jan 2019 07:39 WIB
Kebutuhan gula rafinasi naik hingga 6%

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksi kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman (mamin) serta industri farmasi naik sebesar 5%-6% per tahun. Peningkatan ini mengikuti pertumbuhan kedua sektor industri tersebut yang mampu di atas 7% per tahun.

Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono menjelaskan kinerja positif yang akan dicatatkan industri mamin di tahun ini karena adanya kegiatan Pemilu serentak pada 17 April 2019. 

“Momentum ini bakal membuat lonjakan terhadap konsumsi produk makanan dan minuman,” kata Sigit dalam keterangan resmi, Rabu (16/1).

Sigit mengungkapkan pada periode Januari-September 2018, industri mamin tumbuh mencapai 9,74%, sedangkan industri farmasi tumbuh 7,51% pada kuartal I-2018. Sehingga, Kemenperin memproyeksi pertumbuhan kedua sektor itu mampu di atas 7%-8% pada 2019.

“Sementara itu, kami perkirakan pertumbuhan industri farmasi mampu menembus level 7%-10%  di tahun 2019. Selain dipacu peningkatan investasi, kinerja positif industri farmasi terkatrol dengan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN),” paparnya.  


Impor gula

Pada 2018, realisasi penyaluran GKR untuk industri mamin dan farmasi sebesar 3,0 juta ton. Kebutuhan ini dipenuhi oleh pabrik GKR yang mengolah gula mentah (raw sugar/RS) impor sebesar 3,2 jt ton.

Sementara, Sigit mengatakan Kemenperin akan mengeluarkan rekomendasi impor gula mentah untuk industri yang mengolah gula mentah menjadi GKR.   
Menurut dia, impor gula mentah yang akan diolah menjadi GKR untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman pada  2019 sebesar 2,8 juta ton. 

Sponsored

Angka ini turun sekitar 12,5% dibandingkan 2018. Meskipun, pertumbuhan industri makanan dan minuman di tahun ini diprediksi tetap naik di atas 8 persen. 

“Impor gula mentah selama ini didatangkan dari India, Thailand, Australia, dan Brasil,” sebutnya.

Sigit menambahkan, pemerintah berupaya menekan volume impor dengan menggenjot investasi industri gula terintegrasi dengan kebun. Saat ini, sudah ada tiga investor yang menyatakan berkomitmen berinvestasi di sektor ini. 

“Pabrik gula terintegrasi yang selesai baru satu dari tiga yang saat ini sedang melakukan investasi,” ujarnya.

Di sisi lain, Anggota Komisi VI DPR Inas Zubir mengingatkan pentingnya revitalisasi pabrik dengan menggunakan mesin modern agar produksi gula dalam negeri menjadi lebih stabil dan impor makin berkurang.

Meski demikian, persoalan utama dalam pengadaan gula domestik bukan hanya pabrik gula yang tua, namun juga kestabilan produksi tebu karena makin berkurangnya lahan.

"Banyak lahan tebu berubah menjadi area bisnis bahkan perumahan. Ini adalah dampak dari otonomi daerah. Pemerintah Daerah mengubah lahan pertanian tebu menjadi fungsi lain," katanya, dikutip dari Antara.

Selama ini, masyarakat lebih menyukai gula impor yang harganya lebih murah karena harga gula dalam negeri lebih mahal dua sampai tiga kali lipat.

Berdasarkan data Statista, impor gula Indonesia mencapai 4,45 juta ton untuk periode 2017/2018 atau lebih tinggi dibandingkan China sebesar 4,2 juta ton dan AS sebanyak 3,11 juta ton.

 Prabowo dan halusinasi kuasa

Prabowo dan halusinasi kuasa

Kamis, 18 Apr 2019 20:53 WIB
Sisi lain keluarga Pierre Tendean

Sisi lain keluarga Pierre Tendean

Kamis, 18 Apr 2019 14:48 WIB