logo alinea.id logo alinea.id

KEIN optimistis Indonesia masih jauh dari resesi

Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menyatakan ekonomi Indonesia masih kuat di tengah krisis dunia.

Ardiansyah Fadli
Ardiansyah Fadli Jumat, 13 Sep 2019 17:46 WIB
KEIN optimistis Indonesia masih jauh dari resesi

Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta mengatakan Indonesia masih jauh dari ancaman resesi. Hal ini disebabkan ketahanan ekonomi nasional yang masih kuat di tengah perlambatan ekonomi global.

"Capital outflow (arus modal keluar) pasti implikasinya yang paling cepat tuh transmisinya adalah kepada nilai tukar, sementara beberapa hari ini kan rupiah kita bahkan menguat," kata Arif di Jakarta, Jumat (13/9).

Menurut Arif, ketahanan ekonomi Indonesia ditopang konsumsi rumah tangga yang signifikan. Dia menyebut konsumsi menyumbang hampir 55% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Meski demikian, Arif menjelaskan Indonesia harus tetap waspada terutama dalam menjaga stabilitas politik agar capital outflow yang diprediksi oleh Bank Dunia tidak terjadi. 

"Kita hargai warning dari yang disampaikan oleh bank dunia, tetapi kalau kita lihat secara fundamental kita masih memiliki ketahanan. Secara market dalam konteks capital market, kita masih lebih kompetitif dari sisi return sampai dengan saat ini pemerintah juga masih disiplin fiskalnya kuat," ujarnya.

Untuk diketahui, menurut riset Bank Dunia bertajuk Global Economic Risks and Implications for Indonesia, Indonesia berada pada ancaman capital outlow (arus modal keluar) yang besar. Hal ini dapat membawa Indonesia turut terkena ancaman dari resesi global.

Ancaman capital outflow tersebut semakin urgent mengingat current account deficit (CAD) Indonesia per kuartal II-2019 mencapai US$8,4 miliar atau 3% dari PDB.

World Bank juga memproyeksikan CAD Indonesia pada akhir tahun bakal mencapai US$33 miliar. Adapun penanaman modal asing (PMA) menuju Indonesia baru mencapai US$22 miliar, sedangkan penanaman modal oleh Indonesia di luar negeri baru mencapai US$5 miliar dalam setiap tahunnya.

Sponsored

Untuk itu, Indonesia membutuhkan capital inflow sebesar US$16 miliar dalam rangka menutup defisit. Kebutuhan capital inflow bisa lebih tinggi apabila capital outflow memang benar-benar terjadi.