sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Bappenas: Kelautan dan perikanan solusi tekan defisit transaksi berjalan

Indonesia mestinya bisa memanfaatkan luas lautnya yang besar. Dari situ, banyak produk yang bisa dibuat.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Rabu, 14 Nov 2018 20:22 WIB
Bappenas: Kelautan dan perikanan solusi tekan defisit transaksi berjalan

Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional atau Bappenas, Bambang Brodjonegoro, mengatakan sektor keluatan dan perikanan bisa menjadi alternatif bagi pemerintah untuk menekan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).  

"Bisa membantu itu. Misalnya ekspor banyak ke ikan segar untuk mengompensasi defisit migas,” kata Bambang saat ditemui di Jakarta pada Rabu (14/11). 

Bambang meyakini, Indonesia unggul dalam sektor pangan dan pertanian. Namun, jika hendak diekspor, Bambang menyarankan jangan berupa bahan mentah. Melainkan harus diolah terlebih dahulu setidaknya menjadi barang setengah jadi.  

“Jadi bagaimana hasilnya jangan cuma mentah. Jangan sampai sub sektor hanya untuk konsumsi dalam negeri. Tapi kita bicara pertanian, ada nilai tambah dan bisa di ekspor,” ujarnya. 

Bambang mengatakan, Indonesia mestinya bisa memanfaatkan luas lautnya yang besar. Dari situ, banyak produk yang bisa dibuat antara lain ikan, udang, dan lainnya secara kemasan. Namun, produk tersebut haruslah sudah dalam bentuk jadi atau sudah dikemas dalam kemasan kalengan. Produk tersebut haruslah menjadi bisnis unggulan. 

"Jadi kalau ada udang kalengan, abalone kalengan, crab kalengan. Karena kita wilayah laut yang besar. Jadinya ekonomi bisa dapat nilai lebih dari lautnya," ujar Bambang. 

Selain menambah pemasukan negara, kata Bambang, industri sektor kelautan bisa menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat Indonesia. Dengan begitu, diharap produk-produk yang bersumber dari kelautan bisa masuk ke negara-negara lain.

"Industri ini bisa jadi tulang punggung perekonomian nasional. Selain menciptakan produksi pangan, juga dapat membuka lapangan kerja dan mengurangi angka kemiskinan,” kata Bambang. 

Sponsored

Evaluasi Bappenas

Terkait persoalan kelautan dan perikanan, Bappenas mencatat, ada 5 hal yang perlu menjadi fokus dalam membangun kemaritiman dan kelautan. Pertama, belum adanya kesepahaman dan kesepakatan standar pengukuran batas maritim antar negara. 

Kedua, masih adanya peluang praktik pencurian ikan, baik oleh kapal perikanan domestik maupun asing. Ketiga, masih tingginya biaya input produksi perikanan, terutama pakan ikan, pengaruh cuaca, dan iklim, serta penyakit ikan. Keempat, cuaca kemarau basah yang mempengaruhi produksi garam konsumsi.  Terakhir, masih tingginya tingkat kerusakan ekosistem di wilayah pesisir. 

Oleh karena itu, Bappenas merekomendasikan beberapa hal antara lain dengan meningkatkan diplomasi dan perundingan dalam rangka mempercepat penyelesaian batas maritim dengan 9 negara tetangga. 
Serta, meningkatkan ketaatan pada pelaku usaha perikanan melalui penguatan koordinasi pemberatan IUU Fishing dan peningkatan integrasi sistem perizinan kapal antar pusat dan daerah. 

Selain itu, juga meningkatkan pengawasan terhadap peredaran garam impor dan meningkatkan pengelolaan kawasan konservasi perairan dan rehabilitasi kawasan pesisir secara efektif. 

Usulan Kadin 

Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia, menilai industri kelautan dan perikanan nasional, perlu ditingkatkan lebih jauh untuk bersiap menghadapi era revolusi Industri 4.0, melalui peningkatan daya saing dan produktivitas.  Hal tersebut berkaitan erat dalam rangka penyusunan Rancangan Teknokratik RPJMN Kelautan dan Perikanan 2020-2024.

Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto, menjelaskan kualitas SDM sektor kelautan dan perikanan perlu terus didorong, penerapan teknologi dan inovasi juga tentu sangat menentukan. 

"Yang kami harapkan juga sekarang ini adalah peningkatan investasi serba dukungan regulasi yang pro bisnis," ujarnya. 

Secara regulasi, kata Yugi, Bappenas bisa memberikan masukan ke pemerintah yang baru nanti karena regulasi yang ada saat ini harus diperbaiki dan dioptimalkan.