sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kementan pastikan stok pangan aman meski kemarau dan pandemi

Stok akhir pangan pada Desember 2020 diprediksi 7,1 ton.

Ardiansyah Fadli
Ardiansyah Fadli Selasa, 25 Agst 2020 17:55 WIB
Kementan pastikan stok pangan aman meski kemarau dan pandemi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 404.048
Dirawat 60.569
Meninggal 13.701
Sembuh 329.778

Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan stok dan produksi pangan aman meskipun sejumlah daerah mengalami kekeringan saat kemarau 2020. Pun tengah terjadi pandemi coronavirus baru (Covid-19).

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri, menjelaskan, terdapat berbagai komoditas yang stoknya aman. Beras, jagung, bawang merah, cabai besar, cabai rawit, ayam, telur, dan minyak goreng, misalnya. 

"Kita ini memiliki data neraca perkiraan ketersediaan pangan. Selalu kita meyakini, neraca pangan kita aman," kata Kuntoro Boga dalam Alinea Forum bertajuk "Memperkuat Pertanian kala Pandemi" di Jakarta, Selasa (25/8).

"Terutama untuk beras, jagung, bawang merah, cabai besar, cabai rawit, ayam, telur, minyak goreng. Kalau kita lihat sampai dengan Desember, tidak ada masalah," sambungnya.

Secara kumulatif, perkiraan produksi dan stok pangan hingga Desember 2019 mencapai 5,94 juta ton. Sementara itu, produksi dari Januari-Juni 2020 mencapai 17 juta ton.

"Sehingga, kita memiliki stok akhir sampai Juni 2020 sebanyak 7,83 juta," ujarnya.

Saat ini, musim tanam kedua (MT II), pertanaman di Indonesia luasnya mencapai 5,6 juta hektare (ha). Sekitar 60% di antaranya sudah digarap hingga Agustus 2020.

"Sisanya, Agustus sampai dengan November, kita bisa capai target luas tanam 5 juta hektare," ucapnya.

Sponsored

"Kita harap bisa hasilkan pada periode musim tanam kedua ini sekitar 12 juta ton, sehingga stok akhir kita masih memiliki 7,1 juta ton," lanjutnya.

Boga menambahkan, sebanyak 80% luas tanah tersebar di delapan provinsi, macam di Jawa, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan. 

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Indonesia tengah mengalami ancaman kekeringan. Ini berdampak terhadap minimnya hasil tanam di beberapa daerah, terutama di Jawa. 

Karenanya, Kementan akan terus berupaya menjaga stabilitas ketersediaan pangan dan memaksimalkan produksi di daerah-daerah yang tidak mengalami kekeringan. 

"September itu puncak kekeringan di Jawa dan sebagian Indonesia timur. Dan Oktober, insyaallah, kita masuki musim hujan. Jadi, kondisi prediksi kekeringan itu normal seperti kita ketahui. Jadi, enggak ada ancaman kekeringan seperti kita khawatirkan. Ini prediksi dari BMKG yang kita terima," papar Boga.

"Tapi, kami harap akhir September atau awal Oktober, kita sudah memasuki musim penghujan di daerah di beberapa sentra produksi tanaman pangan kita," imbuh dia.

Di sisi lain, Boga mengaku, beberapa produk pangan tidak bisa diproduksi secara masif di dalam negeri. Sehingga, masih bergantung produk impor, seperti gula pasir, bawang putih, dan daging. 

"Daging kita masih sekitar 40% itu impor. Kemudian, gula pasir untuk konsumsi sekitar 30% impor," ungkapnya.

Meski demikian, Kementan berjanji, akan terus berupaya menekan ketergantungan terhadap impor dengan meningkatkan produksi di dalam negeri. 

Berita Lainnya