sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kementerian BUMN: Pertamina penyetor dividen terbesar

"Pertamina menjadi kasir paling besar BUMN karena setorannya besar."

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 12 Des 2019 17:22 WIB
Kementerian BUMN: Pertamina penyetor dividen terbesar

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan PT Pertamina (Persero) menjadi kasir terbesar atau penyumbang dividen terbesar bagi Kementerian BUMN.

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Budi Gunawan Sadikin menjelaskan earning before interest, tax, depreciation and amortization (EBITDA) Pertamina menjadi yang terbesar di BUMN sebesar US$9 miliar pada tahun lalu.

"Kalau ditanya dividen, Pertamina menjadi kasir paling besar BUMN karena setorannya besar," ujar Budi di Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (12/12).

Adapun hingga akhir 2018 Pertamina mencatatkan total pendapatan hingga US$57 miliar. Kemudian, Pertamina pada 2018 juga mampu mencetak laba bruto sebesar US$9,2 miliar dan laba bersih senilai US$2,5 miliar. Pertamina tercatat memberikan dividen hingga US$558 juta atau setara Rp7,9 triliun kepada pemerintah Republik Indonesia. 

Sementara hingga semester I-2019 ini, Pertamina meraup pendapatan hingga US$25 miliar berkurang 3,8% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$26 juta. Namun, Pertamina mencatatkan kenaikan laba bruto sebesar 2,9% menjadi US$3,5 miliar dari US$3,4 miliar secara tahunan (year-on-year/yoy). Laba bersih Pertamina pun tercatat naik 111% menjadi US$659 juta dari US$311 juta (yoy)

Budi pun membandingkan EBITDA Pertamina dengan PT Freeport Indonesia yang hanya sebesar US$4 miliar. Jumlah dividen perusahaan minyak dan gas (migas) pelat merah tersebut jauh melebihi Freeport.

"Keuangan Pertamina enggak ada masalah," ujar Budi.

Selain itu, Budi mengatakan sejak April Pertamina juga sudah tak mengimpor solar lagi. 

Sponsored

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan Pertamina sudah menurunkan impor solar dan avtur hingga 25 juta barel.

"Jika dirupiahkan, itu Rp37 triliun dan untuk ekspor avtur sepanjang 2019. Jadi kontribusi untuk meringankan current account defisit (CAD) sudah mulai terlihat," ujar Nicke. 

Ekspansi ke Abu Dhabi

Sementara itu, Pertamina akan menguatkan kinerja hulu migas di tahun depan dengan menjajaki akuisisi lapangan milik Mubadala dan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Nicke Widyawati mengatakan akuisisi ini akan difokuskan ke wilayah kerja (WK) yang telah melakukan produksi.

"Akuisisi luar negeri kami fokus ke WK yang produksi, untuk mengurangi risiko. Ini sudah kita jajaki di Abu Dhabi," ujar Nicke.

Di Abu Dhabi, Pertamina mengincar potensi Participating Interest (PI) atau hak dan kewajiban sebagai kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk WK yang sudah berproduksi.

Nicke mengatakan untuk mencegah kasus hukum yang terjadi sebelumnya dengan mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan, Pertamina akan berkonsultasi dengan aparat penegak hukum. Kerja sama dengan aparat penegak hukum tersebut dilakukan sejak tahap perencanaan.

Selain menjajaki akuisisi tersebut, strategi Pertamina ke depan untuk menguatkan hulu migas adalah meningkatkan produksi sumur-sumur yang dimiliki perseroan.

Nicke mengatakan peningkatan produksi tersebut akan dilakukan baik dengan pengembangan area baru di satu WK, maupun melakukan enhanced oil recovery (EOR) dengan menggunakan chemical injection.

"Kami melakukan seismik di area baru. Sejak dua tahun yang lalu kan setiap operator baru kalau ada WK baru, mengalokasikan dana Komitmen Kerja Pasti (KKP) untuk seismik di open area," ujar Nicke.

Berita Lainnya