logo alinea.id logo alinea.id

Kepala BKPM prediksi shortfall pajak capai Rp200 triliun

Penerimaan negara akan meleset karena shortfall pajak dan anjloknya harga komoditas.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Senin, 07 Okt 2019 14:03 WIB
Kepala BKPM prediksi shortfall pajak capai Rp200 triliun

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memprediksi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 kembali defisit karena penerimaan negara dari pajak meleset.

Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong memperkirakan ada selisih antara target dan realisasi (shortfall) penerimaan negara dari pajak sebesar Rp200 triliun pada akhir 2019. 

Di samping itu, kondisi perekonomian global memperparah penerimaan negara dari sejumlah komoditas ekspor.

"Saya ingin tekankan kondisi APBN cukup ketat dan cukup berat. Per hari ini kelihatannya outlook untuk APBN 2019 itu mungkin kepleset dari segi target penghasilan pajak hingga Rp200 triliun," katanya di Kantor BKPM, Jakarta, Senin (7/10).

Thomas mengungkapkan kondisi ini menyebabkan Indonesia tidak mampu mencukupi kebutuhan pembangunan infrastruktur dengan mengandalkan APBN saja.

Untuk itu, katanya, dibutuhkan skema pembiayaan alternatif dengan melibatkan pihak swasta untuk mengurangi ketergantungan pada APBN dalam membangun infrastruktur.

Salah satunya, kata Lembong, adalah dengan menggunakan skema kerjasama pemerintah dengan badan usaha (KPBU), seperti yang dilakukan untuk pembangunan Bandara Singkawang di Kalimantan Barat.

"Poinnya adalah kita sejauh mungkin harus mulai bergeser dari ketergantungan yang berlebihan dari APBN," ucapnya.

Sponsored

Tujuannya, ujar Lembong, adalah untuk mendukung daya saing Indonesia di kawasan regional. Kedua, adalah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. 

Lembong menuturkan, meskipun target periode kedua Presiden Joko Widodo adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM), namun pembangunan infrastruktur tetap harus digenjot dan bila perlu diakselerasi.

"Meskipun kita lari kencang dan kerja keras untuk terus bangun infrastruktur, negara tetangga kita kan tidak berdiri diam, mereka pun lari kencang," tuturnya. 

Dia mencontohkan hal yang dilakukan  Thailand dengan proyek eastern economic trade war dalam kerja sama pembangunan kereta cepat yang berbiaya US$33 miliar dan menggandeng China, Jepang, dan Eropa.

"Sebagai contoh meskipun Thailand sudah di depan kita mereka sekarang sedang kencang membangun yang namanya eastern economic di timur Thailand yang tulang punggungnya jalur kereta cepat yang menghubungkan Selatan sampai masuk ke Tiongkok," ujarnya.