logo alinea.id logo alinea.id

4 BUMN Karya catat kinerja tak memuaskan di awal 2019

Emiten BUMN konstruksi mencatat penurunan pendapatan dan laba bersih.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 22 Agst 2019 20:12 WIB
4 BUMN Karya catat kinerja tak memuaskan di awal 2019

Empat emiten BUMN konstruksi mencatatkan penurunan kinerja dari sisi pendapatan dan laba bersih pada semester I-2019. Bahkan, nilai kontrak yang berhasil diraup sangat jauh dari target sepanjang 2019.

Keempat BUMN konstruksi tersebut adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP).

PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) mencatatkan penurunan pendapatan usaha yang terdalam sebesar 35,39%. Emiten ini mencetak pendapatan sebesar Rp14,79 triliun pada semester I-2019, turun dari periode yang sama pada 2018 sebesar Rp22,89 triliun.

WSKT juga mengalami penurunan laba bersih pada semester I-2019 sebesar 66,65% jika dibandingkan dengan semester I-2018.  Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk Waskita pada semester I-2019 mencapai Rp997 miliar, lebih rendah dari Rp2,99 triliun pada semester I-2018.

Direktur Keuangan Waskita Haris Gunawan mengatakan melorotnya laba bersih Waskita disebabkan perseroan banyak mengambil proyek berskema turn key. Skema ini membuat perseroan baru mendapatkan keuntungan ketika proyek selesai dikerjakan.

"Proyek tol layang Jakarta-Cikampek misalnya, itu pekerjaan yg dilakukan secara turn key. Jadi begitu proyek selesai kita akan dibayar," kata Haris di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (20/8). 

Haris mengungkapkan, pada semester II-2019, WSKT baru memperoleh pembayaran dari proyek turn key tersebut. Menurut dia, proyek tol Sumatera yang kepemilikannya di bawah PT Hutama Karya bulan ini pengerjaannya selesai 100%. Dengan demikian, pada November atau Desember WSKT bisa mencairkan uang sekitar Rp12 triliun-Rp13 triliun dari proyek tersebut.

"Kemudian proyek LRT Palembang minggu ini kita masukkan tagihan sebesar Rp2,3 triliun. Minggu depan kita masukan lagi Rp600 miliar, jadi total kita akan terima Rp2,9 triliun dari LRT Palembang," tutur Haris.

Sponsored

Haris pun memperkirakan hingga akhir tahun Waskita akan mendapatkan keuntungan dari proyek-proyek turn key sekitar Rp26 triliun-Rp30 triliun.

Sementara itu, PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) mencatatkan penurunan pendapatan usaha sebesar 10,7% menjadi Rp5,426 triliun pada semester I-2019, dari Rp6,082 triliun pada periode yang sama tahun lalu. ADHI tercatat membukukan kenaikan laba bersih 1,41% menjadi Rp215 miliar pada semester I-2019 dari periode sama tahun lalu Rp212 miliar.

Emiten lainnya, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), juga mencatatkan penurunan pendapatan 12,43%. WIKA tercatat membukukan pendapatan sebesar Rp11,3 triliun pada paruh pertama 2019, menurun dari Rp12,9 triliun dari semester I-2018.

Namun demikian, WIKA mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 72,14% menjadi Rp890 miliar pada semester I-2019 ini. Laba bersih ini naik dari Rp517 miliar pada paruh pertama 2018.

Berbeda dengan tiga BUMN lainnya, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. (PTPP) membukukan kenaikan pendapatan usaha sebesar 12,79% menjadi Rp10,723 triliun pada paruh pertama tahun ini dari Rp9,507 triliun (yoy). 

Namun, perolehan laba bersih PTPP mengalami penurunan sebesar 24,2% pada paruh pertama tahun ini. Tercatat laba bersih PTPP pada semester I-2019 sebesar Rp363 miliar, menurun dari semester I-2018 dari Rp468 miliar.

Realisasi kontrak baru 

Realisasi kontrak baru keempat BUMN karya ini juga 19 masih berada jauh di bawah target perusahaan. 

WIKA misalnya, membidik kontrak baru senilai Rp61 triliun sepanjang 2019. Dari target tersebut, WIKA baru mengantongi kontrak sebesar Rp15,2 triliun pada semester I-2019. Perolehan kontrak tersebut baru sekitar 24,9% saja dari target sepanjang tahun.

Direktur Utama Wijaya Karya Tumiyana di awal bulan ini mengatakan pertumbuhan kontrak baru di paruh pertama melambat karena siklus bisnis konstruksi biasanya mengalami pelambatan di awal tahun. Tumiyana pun yakin arus dana masuk akan mengalami lonjakan pada semester II-2019. 

"Sampai dengan kuartal III-2019 akan bergerak ke angka Rp37 triliun. Saya tak akan merevisi ulang untuk menurunkan target perolehan kontrak perseroan," kata Tumiyana.

Lalu, Adhi Karya mencatatkan perolehan kontrak baru sebesar Rp6,1 triliun hingga Juli 2019.  Perolehan kontrak baru ini hanya sekitar 20% dari target perolehan kontrak baru perseroan sepanjang tahun sebesar Rp30,4 triliun.

Kemudian, PTPP baru meraih kontrak Rp14,81 triliun sepanjang paruh pertama 2019. Perolehan kontrak baru ini setara dengan 29,62% dari total target sepanjang tahun Rp50 triliun.

Kontrak baru tersebut terdiri dari kontrak milik induk perseroan sebesar Rp13,15 triliun dan anak perusahaan sebesar Rp1,66 triliun. 

Walaupun masih jauh dari target, Direktur Utama PTPP Lukman Hidayat mengaku optimistis target kontrak baru perseroan sebesar Rp50 triliun sampai dengan akhir tahun akan tercapai.

"Sampai semester I-2019, perolehan kontrak baru sebesar Rp14,8 triliun. Lalu sampai Agustus ini jadi Rp23 triliun, sudah nambah di energi," ujar Lukman.

Sementara, emiten Waskita Karya selama semester I-2019, telah mengelola kontrak sebesar Rp74,3 triliun dengan perolehan kontrak baru senilai Rp8,40 triliun. Perolehan kontrak baru ini meningkat 9,8% dari Rp7,65 triliun dibandingkan dengan perolehan di semester I-2018.

Walaupun meningkat, perolehan kontrak baru ini masih jauh di bawah target perolehan kontrak baru perseroan yang ditargetkan sebesar Rp55 triliun tahun ini. Perolehan kontrak baru ini baru sekitar 15,27% saja.

Berharap proyek Jokowi

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan meskipun mengalami penurunan kinerja, valuasi keempat saham BUMN karya tersebut di jangka menengah panjang tetap menarik bagi investor. 

Nico melihat pidato Presiden Joko Widodo yang akan melanjutkan pembangunan infrastruktur bakal menguntungkan emiten-emiten plat merah tersebut. Pasalnya, kata Nico, proyek-proyek infrastruktur akan lebih banyak diberikan pada BUMN-BUMN tersebut daripada swasta.

"Ini akan jadi sentimen yang bagus untuk saham BUMN Karya karena Jokowi akan melanjutkan pembangunan yang boleh dibilang masih setengah," ujar Nico ketika dihubungi Alinea.id, Kamis (22/8).

Hanya saja, lanjut Nico, yang menjadi going concern dari BUMN konstruksi tersebut adalah terlambatnya waktu pembayaran yang diberikan oleh pemerintah kepada mereka.

"Prospeknya kalau kita bicara per 12 bulan, cukup oke kok, masih akan cukup menggeliat dan bergerak. Cuma kembali lagi, saham-saham BUMN karya ini kalau jangka pendek cukup tinggi volatilitasnya," kata Nico.

Namun, lanjut Nico, selama pelaku pasar nyaman saja dengan volatilitas tersebut, maka saham-saham tersebut akan menguntungkan dan tak ada masalah.

Nico pun menyarankan investor untuk masuk membeli saham-saham BUMN konstruksi tersebut karena menurutnya saat ini adalah momen yang tepat. Sebab, saham-saham ini akan mengalami kenaikan nantinya mengingat Jokowi akan melanjutkan pembangunan infrastrukturnya.