sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

KPPU curigai adanya permainan harga beras

Indikasi tersebut muncul karena pasokan ke pasar induk beras Cipinang menurun saat di sejumlah daerah malah panen.

Syamsul Anwar Kh
Syamsul Anwar Kh Minggu, 25 Feb 2018 13:58 WIB
KPPU curigai adanya permainan harga beras
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Mekanisme pengamatan harga beras selama ini, dinilai hanya terpaku di Pasar Induk Beras di Cipinang, Jakarta. Padahal, di pasar tersebut hanya ada beberapa pedagang beras besar. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pun khawatir persoalan itu memicu munculnya sistem yang tidak adil dalam usaha.

Terlebih dalam catatan KPPU, Indonesia memiliki sekira enam daerah sebagai produsen beras nasional, yakni Jawa Timur yang memproduksi 17% dari total produksi nasional. Lalu Jawa Tengah 15%, Sulawesi Selatan 7,5%. Selain itu Sumatera Selatan sebesar 5,6%, Sumatera Utara 5,6% serta Riau dan Nusa Tenggara Barat masing-masing 5% dari total sekitar 41 juta produksi beras nasional.

Sedangkan KPPU, memantau penurunan volume beras di Pasar Induk Cipinang sejak Desember 2017 hingga pertengahan Januari 2018. Dari biasanya sekitar 5.000 ton setiap Senin dan rata-rata 2.500 ton untuk Selasa hingga Kamis, menurun menjadi di bawah 5000 ton atau di bawah 2.500 ton di luar hari Senin. Di saat yang sama, sejumlah daerah di Indonesia memasuki masa panen raya.

"Dugaan kami adalah jangan-jangan ada sekelompok pelaku usaha sengaja kurangi pasokan ke pasar yang buat harga bertahan di tingkat tinggi," kata Ketua KPPU RI Syarkawi Rauf seperti dikutip dari Antara, Minggu (25/2).

Karena itu, KPPPU meminta instansi yang berwenang dalam bidang statistik untuk mempublikasikan data produksi beras agar bisa dijadikan patokan bagi lembaga lain. Rauf menambahkan, pihaknya juga mendorong agar dibangun pasar induk baru di luar Jakarta untuk memperkaya referensi beras seperti di Jawa Timur, mengingat provinsi itu sebagai salah satu produsen beras terbesar di Tanah Air.

Selanjutnya, dalam jangka waktu menengah, daerah lain juga bisa menjadi pasar induk beras seperti di Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan atau Sumatera Utara. Menurutnya, selama ini tata niaga beras nasional, lebih banyak "bertamasya" karena beras dari Jawa Timur harus dibawa ke Jakarta terlebih dahulu sebelum dipasarkan ke daerah lain.

"Kenapa tidak langsung dari Jatim ke daerah tujuan? Kalau seperti begitu akan menambah biaya transportasi tinggi, biaya gudang dan itu yang buat harga beras naik," ucapnya.

Sponsored

Persoalan lain pada komoditas beras ialah rantai distrubusi yang panjang. Menurut Syarkawi, tata niaga beras di Indonesia setidaknya melalui lima hingga enam titik sebelum sampai di konsumen. Bermula dari petani, kemudian berpindah ke pengepul lalu ke penggilingan dan selanjutnya masuk ke pedagang besar.

Sedangkan dari penggilingan besar masuk ke distributor beras besar yang memberi label atau merek selanjutnya masuk ke ritel hingga akhirnya dilempar ke pasaran atau konsumen.

"Jika ada marjin di setiap titik, maka tidak bisa dihindari 'gap' (celah) antara harga beras di petani, penggilingan dan di konsumen itu sangat besar," jelas Rauf.
 

Berita Lainnya