sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Krakatau Steel rancang akuisisi perusahaan baja ambruk

Emiten pelat merah PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. berencana akuisisi sejumlah perusahaan baja nasional yang tengah dalam kondisi ambruk.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Jumat, 23 Nov 2018 22:15 WIB
Krakatau Steel rancang akuisisi perusahaan baja ambruk
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 76981
Dirawat 36636
Meninggal 3656
Sembuh 36689

Emiten pelat merah PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. berencana akuisisi sejumlah perusahaan baja nasional yang tengah dalam kondisi ambruk.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim menjelaskan, cara tersebut sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan pertumbuhan kinerja perseroan dengan pola anorganik. 

"Bicara soal bisnis, kita ada pertumbuhan natural dan non natural, seperti mengakuisisi. Kami sedang mengkaji untuk mengakuisisi beberapa pabrik yang sedang collaps," ujar Silmy di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jumat (23/11). 

Dari sisi organik, emiten bersandi saham KRAS tersebut akan mengoperasikan pabrik blast furnace pada akhir Desember 2018. Pengoperasian itu ditargetkan akan menambah produksi bahan baku baja. 

Tidak hanya itu, mantan bos PT Pindad (Persero) itu mengungkapkan, perseroan tengah menyelesaikan pembangunaan pabrik hot strip mill II yang akan beroperasi April dan Mei 2019. "Ini bisa menambah produksi 1,5 juta ton," jelasnya. 

Tahun depan, dia berharap dapat mendukung target pemerintah untuk memenuhi 10 juta ton dari kluster industri baja Cilegon. 

Hal itu diakuii Silmy guna memperbaiki perseroan yang dalam lima tahun terakhir merugi. Dia optimistis, KRAS bisa membukukan kinerja yang positif pada tahun depan. 

Hingga kuartal III-2018, perseroan berhasil mengurangi rugi bersih menjadi US$37,38 juta (Rp560,07 miliar, kurs Rp15.000/US$) dibanding dengan rugi pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$75,04 juta (Rp1,12 triliun).

Sponsored

Pada periode tersebut, perusahaan berhasil meningkatkan penjualannya 22,71% menjadi US$1,27 miliar (Rp19,14 triliun) dari posisi di akhir September 2017 senilai US$1,03 miliar (Rp15,59 triliun).

Dengan demikian, nilai rugi per sahamnya juga mengalami penurunan menjadi US$0,0019/saham dari sebelumnya sebesar US$0,0039/saham. Pada perdagangan Jumat (23/11), saham KRAS stagnan pada level Rp378 per lembar dengan kapitalisasi pasar Rp7,3 triliun.

Berita Lainnya