sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kredit macet BRI naik, ada utang Duniatex dan Krakatau Steel

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatat kenaikan non performing loan (NPL) pada kuartal III-2019.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 24 Okt 2019 17:45 WIB
Kredit macet BRI naik, ada utang Duniatex dan Krakatau Steel

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatatkan angka kredit macet atau non performing loan (NPL) sebesar 3,08% pada kuartal III-2019, atau naik dari periode yang sama tahun sebelumnya 2,5%.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan NPL tertinggi ada di segmen korporasi. Menurut dia, BRI melihat ada beberapa sektor industri manufaktur yang menghadapi masalah bisnis seperti industri semen dan tekstil. 

Untuk mengantisipasi kredit macet dari dua sektor tersebut, BRI telah mencadangkan coverage sebesar 60%. Sementara, untuk kredit macet di industri semen dan Duniatex, BRI telah mencadangkan dana hingga 100%.

"Kami berani mengeluarkan biaya cadangan untuk meng-cover risiko. Apabila nanti restrukturisasi berhasil dan risiko tidak terjadi, maka akan memperkuat laba kita di waktu mendatang," tuturnya.

Sunarso juga mengungkapkan pihaknya mencatat beberapa perusahaan besar dan pelat merah masih memiliki utang ke BRI, seperti PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. dan Duniatex Group. 
Dari data Debtwire yang diakses Alinea.id pada Kamis (24/10), Duniatex berutang melalui anak usahanya, PT Delta Merlin Dunia Textile (DMDT) 1,433 triliun ke BRI. 

Sementara, Krakatau Steel tengah mengupayakan restrukturisasi utang dengan total nilai US$2,2 miliar. Sebanyak US$1,13 miliar di antaranya merupakan pinjaman jangka pendek. Utang tersebut berasal dari sejumlah bank negara termasuk BRI.

Untuk diketahui, akibat meningkatnya angka kredit macet, BRI mencatat pertumbuhan laba bersih hanya single digit pada kuartal III-2019. 

BRI mencetak laba bersih sebesar Rp24,8 triliun pada kuartal III-2019 atau tumbuh 5,36% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan laba bank pelat merah ini melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 14,6%.

Sponsored

Sunarso mengatakan perlambatan pertumbuhan laba tersebut disebabkan karena perseroan meningkatkan biaya cadangan untuk mengantisipasi kredit macet.

"Ada kenaikan NPL, maka ada kenaikan biaya cadangan sehingga pertumbuhan laba kami hanya single digit. Pertumbuhan laba memang turun, tapi labanya tetap naik," kata Sunarso.

Berita Lainnya