sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kurs rupiah anjlok tembus Rp14.400 per dollar AS, mengapa?

Nilai tukar rupiah kembali anjlok menembus Rp14.400 per dollar Amerika Serikat, terburuk sejak Oktober 2015. Apa penyebabnya?

Sukirno
Sukirno Kamis, 28 Jun 2018 22:08 WIB
Kurs rupiah anjlok tembus Rp14.400 per dollar AS, mengapa?

Nilai tukar rupiah kembali anjlok menembus Rp14.400 per dollar Amerika Serikat, terburuk sejak Oktober 2015.

Pada perdagangan Kamis (28/6), kurs rupiah di pasar spot ditutup anjlok 1,52% sebesar 215 poin ke level Rp14.394 per dollar AS. Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot seperti dikutip dari Bloomberg terus tertekan sejak awal perdagangan.

Sejak awal tahun, kurs rupiah sempat menyentuh level terlemah Rp14.213 per dollar AS pada 23 Mei 2018, dan terkuat Rp13.263 per dollar AS pada 25 Januari 2018.

Saat bersamaan, nilai tukar rupiah juga ambrol di pasar spot yang dikutip dari Yahoo Finance. Bahkan, rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang hari perdagangan di level Rp14.434 per dollar AS, terburuk dalam setahun terakhir.

Kurs rupiah terdepresiasi 1,5% sebesar 212 poin ke level Rp14.385 per dollar AS. Pergerakan nilai tukar rupiah berada pada rentang Rp14.171-14.434 per dollar AS.

Sementara Bank Indonesia mematok kurs tengah mencapai Rp14.271 per dollar AS. Kurs mata uang Garuda itu terdepresiasi 108 poin atau 0,76% dari sehari sebelumnya Rp14.163 per dollar AS.

Kurs jual ditetapkan Rp14.342 per dolar AS, sedangkan kurs beli berada di Rp14.200 per dollar AS. Selisih antara kurs jual dan kurs beli adalah Rp142.

Adapun, kurs rupiah menyentuh posisi Rp14.271 per dollar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Nilai tukar tersebut melemah 108 poin atau 0,76% dari posisi Rp14.163 per dollar AS.

Sponsored

Kurs rupiah di pasar spot (Yahoo Finance)

Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Kamis petang, ditutup melemah 215 poin menjadi Rp14.394 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.179 per dollar AS.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, depresiasi rupiah masih dominan dipengaruhi faktor eksternal yaitu terkait potensi perang dagang AS dan China.

Selain itu, pelemahan rupiah terhadap dollar AS belum mampu terangkat oleh sentimen domestik yang masih terbatas. "Selain karena sentimen perang dagang, sentimen dari dalam negeri masih minim yang dapat mengangkat Rupiah," ujar Reza dilansir Antara, Kamis (28/6).

Pasar sendiri saat ini masih menunggu kebijakan Bank Indonesia yang diprediksi akan kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur BI yang akan digelar Jumat (29/6) besok.

Terpisah, Ekonom Institute for Development for Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira, memprediksi bank sentral akan kembali mengerek BI-7DRRR sebagai langkah pengetatan moneter.

Depresiasi rupiah, sambungnya, terjadi lantaran Index Dollar AS melonjak dan menguat terhadap seluruh mata uang dunia. Penguatan dollar AS terjadi lantaran adanya proyeksi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve hingga 4 kali. 

 

IHSG turut terjungkal

Merespons anjloknya rupiah, Indeks harga saham gabungan (IHSG) turut terjungkal. IHSG bahkan terjerembab 2,07% sebesar 120,23 poin ke level 5.667,32.

Tekanan IHSG terus berlanjut seiring aksi jual bersih (net sell) yang dilakukan oleh investor asing. Sepanjang hari ini, investor asing mencatatkan net sell Rp691,7 miliar.

Penambahan capaian net sell investor asing tersebut mempertebal pelepasan bersih portofolio di lantai bursa sejak awal tahun mendekati Rp50 triliun. 

Koreksi dalam IHSG membuat penurunan yang terjadi di lantai bursa sejak awal tahun semakin curam. IHSG tercatat terkoreksi 10,82% year-to-date (ytd).

"Ketidakjelasan seiring dengan potensi perang dagang antara AS dan Tiongkok membuat pelaku pasar mengamankan posisi untuk sementara waktu," kata Reza Priyambada.

IHSG pada saat pembukaan perdagangan menguat, tetapi tak lama kmudian bergerak melemah dan berada di zona merah sepanjang hari.

Kejenuhan akan berita-berita global yang negatif terutama dari aksi Presiden Trump yang membuat kekhawatiran akan terjadi perang dagang tdinilai masih membuat pelaku pasar turut terpengaruh sehingga kembali melakukan aksi jualnya.

IHSG ditutup merosot 2,07% sebesar 120,23 poin ke level 5.667,32. (Bursa Efek Indonesia)

 

Berita Lainnya