sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Laba bersih Alkindo Naratama meroket 79,2% kuartal I-2021

Laba bersih ALDO tercatat senilai Rp14,6 miliar di kuartal I-2021, tumbuh 79,2% dibandingkan dengan kuartal I-2020 yaitu Rp8,2 miliar.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 03 Jun 2021 17:41 WIB
Laba bersih Alkindo Naratama meroket 79,2% kuartal I-2021

Emiten produsen bisnis kertas dan bahan kimia PT Alkindo Naratama Tbk. (ALDO), mengalami pertumbuhan penjualan dari tren kenaikan e-commerce dan sektor fast-moving consumer goods (FMCG). Perseroan mencatatkan kenaikan penjualan sebesar 9,4% menjadi Rp340 miliar di kuartal I-2021,  dibanding kuartal I-2020 sebesar Rp311 miliar.

Hasil itu turut mendongkrak capaian laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk, yang tercatat senilai Rp14,6 miliar di kuartal I-2021, tumbuh 79,2% bila dibandingkan dengan capaian kuartal yang sama tahun sebelumnya yaitu Rp8,2 miliar.

Sementara dari sisi penjualan kuartal I-2021, komposisi penjualan masih didominasi oleh segmen paper sekitar 39%, sementara paper converting sebesar 26%, sehingga total dari industri paper sebesar 65%. Sementara, untuk sisanya dikontribusikan dari segmen polymer dan chemical. 

Melihat pertumbuhan belanja online serta food delivery, emiten berkode saham ALDO ini optimistis target pertumbuhan penjualan yang signifikan dari segmen kertas dan kertas konversi di tahun ini. Bahkan, pada kuartal I-2021, segmen kertas ALDO membukukan penjualan Rp126,7 miliar, atau tumbuh 33% dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu (YoY). 

Sementara, kontribusi penjualan dari segmen kertas konversi naik 14% atau senilai Rp90,4 miliar dibandingkan capaian kuartal I-2020.

Presiden Direktur Alkindo Naratama, H Sutanto menuturkan, untuk 2021, pihaknya memproyeksikan dapat meraih pertumbuhan yang signifikan, seiring dengan mulai pulihnya kondisi ekonomi dan kebiasaan baru yang berlaku di masyarakat.

“Kami melihat adanya prospek dari industri FMCG dan online business, karena penggunaan teknologi sudah menjadi tren sehingga memudahkan untuk pemesanan makanan dan pengiriman secara online yang tentunya akan memerlukan packaging," kata Sutanto dalam keterangan resmi, Kamis (3/6). 

Selain itu, lanjutnya, untuk prospek ke depan, ALDO melihat peluang dari bisnis pengiriman, karena Indonesia sebagai negara kepulauan yang cukup luas. Sehingga, pengiriman dari satu pulau ke pulau lainnya akan membutuhkan packaging yang bahan bakunya bisa perseroan sediakan.

Sponsored

Sebagai informasi, Alkindo sebagai paper converter baru-baru ini memperkenalkan produk baru, yaitu paper box untuk kemasan makanan dan paper bag untuk tas belanja, yang ditujukan bagi pelaku usaha ritel seperti toko swalayan, supermarket, dan lainnya.

Alkindo juga telah memproduksi papercore, yang biasa digunakan oleh perusahaan film, plastik dan flexible packaging. Sebagai informasi, saat ini bahan baku kertas yang digunakan oleh perusahaan, salah satunya berasal dari kertas bekas daur ulang atau recycled paper. Bahan baku tersebut dikumpulkan dan diproduksi oleh anak usaha ALDO, PT Eco Paper Indonesia (ECO).

Untuk target pertumbuhan, ECO diproyeksi akan memberi kontribusi yang paling besar karena produk brown paper-nya banyak digunakan oleh para corrugater untuk membuat dus atau packaging yang mendukung sektor FMCG dan sangat erat berhubungan dengan kondisi negara Indonesia sebagai negara kepulauan. Sehingga pengiriman barang banyak menggunakan paket dus. Kemudian kontribusi pertumbuhan lainnya berasal dari produk baru Alkindo, yaitu paper box dan paper bag.

ALDO juga membidik pertumbuhan dari lini bisnis lainnya. Dari lini usaha distribusi bahan kimia tekstil, melalui PT Swisstex Naratama Indonesia (SNI), ALDO juga melayani para pelaku industri produk tekstil. 

Selain itu, melalui PT Alfa Polimer Indonesia (API), entitas anak yang bergerak dalam bidang manufaktur waterbased polimer, ALDO juga menyasar pelaku industri kayu, mebel, kertas, cat dan roof coating dan lainnya. Permintaan dari industri mebel di AS juga sedang meningkat, sebagai akibat trade war AS-China, dengan impor furnitur mulai banyak dialihkan ke Indonesia.

Berita Lainnya