sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Laba BTN kuartal III-2019 anjlok 64,17% jadi Rp810 miliar

Laba bersih PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) pada kuartal III-2019 anjlok 64,17% menjadi Rp810 miliar dari Rp2,2 triliun.

Sukirno
Sukirno Kamis, 14 Nov 2019 21:01 WIB
Laba BTN kuartal III-2019 anjlok 64,17% jadi Rp810 miliar

Laba bersih PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) pada kuartal III-2019 anjlok 64,17% menjadi Rp810 miliar dari Rp2,2 triliun.

Ambrolnya laba bersih tersebut terjadi lantaran perseroan meningkatkan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sebesar 21,34%. Peningkatan CKPN itu dilakukan untuk persiapan mengikuti aturan baru Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71 pada 2020.

Plt. Direktur Utama Bank BTN Oni Febriarto Raharjo mengatakan nilai CKPN BTN itu naik 21,34% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp1,79 triliun menjadi Rp2,18 triliun pada September 2019. Secara rasio, CKPN perseroan naik ke level 52,67% pada September 2019 dari 38,58% di bulan yang sama tahun lalu.

Adapun Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71 merupakan standar internasional untuk pelaporan keuangan (International Financial Reporting Standards/IFRS) yang dikeluarkan oleh International Accounting Standard Board (IASB) dan akan diikuti perbankan pada 2020.

"Dengan peningkatan alokasi ke CKPN tersebut, laba bersih kami berada di posisi Rp801 miliar pada kuartal tiga ini. Hingga akhir tahun, kami membidik rasio CKPN terus naik ke level di atas 70%," kata Oni dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (14/11).

Oni mengklaim perolehan laba bersih tersebut disumbang pendapatan bunga perseroan serta efisiensi yang dilakukan. Pendapatan bunga BTN naik sebesar 17,97% (yoy) menjadi Rp19,3 triliun atau berada di atas pertumuhan kredit yang sebesar 16,75% (yoy).

BTN menerapkan efisiensi dengan menekan pertumbuhan biaya operasional di luar CKPN yang hanya sebesar 1,3% (yoy) per September 2019. Angka tersebut turun di bawah kenaikan biaya operasional di luar CKPN pada 2018 sebesar 11,2% (yoy). Kenaikan beban biaya operasional tersebut berbanding terbalik dengan pertumbuhan aset 16,1% (yoy) per September 2019.

Oni merinci pendapatan bunga Bank BTN ditopang penyaluran kredit perseroan yang naik sebesar 16,75% menjadi Rp256,93 triliun. Kenaikan kredit tersebut ditopang pertumbuhan positif pada KPR Subsidi sebesar 25,54% (yoy) dari Rp88,92 triliun menjadi Rp111,64 triliun per kuartal III-2019.

Sponsored

Menurut Oni, hingga akhir tahun nanti, BTN tetap mengutamakan prinsip kehati-hatian, perbaikan kualitas, dan penyesuaian dengan likuiditas dalam penyaluran kreditnya. Dengan fokus tersebut, dia mengklaim perseroan membidik pertumbuhan kredit yang lebih realistis yakni 8%-10% (yoy).

Untuk menopang intermediasi, pada kuartal III-2019, BTN mencatatkan pertumbuhan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 18,1% (yoy) menjadi Rp230,35 triliun. Dengan capaian penyaluran kredit dan penghimpunan DPK, aset BTN naik 16,12% (yoy) dari Rp272,3 triliun pada kuartal III 2018 menjadi Rp316,21 triliun.

Sementara itu, Per September 2019, BTN juga mengucurkan kredit perumahan untuk 610.526 unit rumah atau senilai Rp50,74 triliun. Menurut Oni, pencapaian tersebut setara 76,31% dari total target BTN dalam mendukung program nasional ini.

"Secara total, hingga akhir tahun nanti, BTN membidik akan menyalurkan kredit perumahan untuk 800.000 unit rumah," kata dia.

Adapun, penyaluran tersebut terdiri atas kredit perumahan untuk 315.845 unit hunian subsidi senilai Rp9,17 triliun. Kemudian, untuk segmen non-subsidi, BTN telah memberikan kredit perumahan untuk 135.791 unit rumah atau setara Rp14,99 triliun. (Ant)

Berita Lainnya