logo alinea.id logo alinea.id

Laba BTN naik tipis capai Rp723 miliar

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) mengantongi laba bersih Rp723 miliar selama kuartal I-2019.

Sukirno
Sukirno Rabu, 24 Apr 2019 00:26 WIB
Laba BTN naik tipis capai Rp723 miliar

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) mengantongi laba bersih Rp723 miliar selama kuartal I-2019. Capaian itu tumbuh 5,67% (year on year/yoy) dibanding periode yang sama 2018 sebesar Rp684 miliar.

Direktur Utama BTN Maryono mengatakan laba perseroan ditopang pertumbuhan pendapatan bunga sebesar Rp6,42 triliun atau naik 21,69% (yoy) dibanding periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp5,27 triliun.

Namun, secara bersih, pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) BTN hanya tumbuh 1,44% atau menjadi Rp2,4 triliun, yang di mana salah satu penyebabnya adalah tekanan dalam biaya dana (cost of fund) perseroan.

"Sementara, pertumbuhan penyaluran kredit naik 19,57% (yoy), dari Rp202,5 triliun pada triwulan I 2018, menjadi Rp242,13 triliun," kata Maryono dalam paparan kinerja perseroan di Jakarta, Selasa (23/4).

Menurut Maryono, pertumbuhan kredit bersumber dari pasar andalan perseoran yakni lini sektor perumahan dan non perumahan. Di sektor perumahan, kredit tercatat tumbuh 19,11% (yoy) dari Rp184,46 triliun pada akhir Maret 2018, menjadi Rp219 triliun di akhir Maret 2019.

Meskipun pertumbuhan kredit secara keseluruhan sebesar 19,57%, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) BTN berada di sekitar 2%.

Fungsi intermediasi BTN tersebut ditopang penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang sebesar Rp215,8 triliun atau tumbuh 10,98%. Pertumbuhan DPK itu jauh lebih lambat dibanding pertumbuhan kredit yang sebesar 19,5%.

"DPK tumbuh lebih lambat dibanding kredit karena yang pertama, adalah tren kondisi di awal tahun. Banyak nasabah yang untuk memenuhi kebutuhan likuiditas. Banyak juga deposan (pemilik deposito) yang bertransaksi di akhir tahun. Dan kita juga ingin menurunkan biaya dana (cost of fund)," kata dia.

Sponsored

Pertumbuhan kredit dan penghimpunan DPK BTN itu mendorong kenaikan aset perseroan sebesar 16,47% (yoy) dari Rp258,73 triliun pada kuartal I 2018 menjadi Rp301,34 triliun.

Usaha patungan

Sementara itu, manajemen BTN masih menunggu tuntasnya kajian terkait dengan pembentukan anak usaha asuransi PT Asuransi Jiwasraya (Persero), PT Jiwasraya Putra.

Selain itu, BTN juga masih menanti hasil kajian terkait peran perseroan sebagai pembeli siaga (stand by buyer) dari penerbitan surat utang jangka menengah (Medium Term Notes/MTN) oleh Jiwasraya.

"Hasil kajian ini kan semuanya menggunakan konsultan. Hasil konsultannya kami bicarakan bagaimana prospeknya, potensinya, dan sebagainya," ujar Maryono.

Maryono mengaku memang sedang ada pembicaraan yang intensif terkait pembentukkan anak usaha Jiwasraya dan penerbitan instrumen utang MTN. Namun, Maryono memilih irit berkomentar, sembari menunggu tuntasnya hasil kajian dari konsultan.

"Ini kan semuanya menggunakan konsultan. Hasil konsultannya kami bicarakan bagaimana prospeknya, potensinya, dan sebagainya," jelasnya.

Adapun langkah pembentukan anak usaha Jiwasraya dan penerbitan MTN merupakan langkah penyelesaian kewajiban pembayaran klaim pemegang polis Jiwasraya yang sudah jatuh tempo pada Oktober 2018 sebesar Rp802 miliar.

Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Hexana Tri Sasongko mengungkapkan bahwa pihaknya akan memprioritaskan penyelesaian pembayaran polis yang telah jatuh tempo itu.

Penyelesaiannya akan dilakukan bertahap mulai Kuartal II 2019 dan ditargetkan selesai paling lambat pada kuartal II 2020

Perseroan memiliki beberapa strategi dalam menyelesaikan kewajiban kepada nasabah.

Beberapa startegi itu antara lain, Jiwasraya akan membentuk anak usaha, Jiwasraya Putra yang akan melibatkan empat BUMN yakni, BTN, PT Pegadaian (Persero), PT KAI (Persero), dan PT Telkomsel (Persero). Targetnya, anak usaha itu akan terbentuk pada Juni 2019.

Jiwasraya juga berencana menerbitkan surat utang untuk membayar kewajiban klaim.

Kemudian, Jiwasraya akan mengekspansi digitalisasi dalam bisnis perseroan. Selanjutnya Jiwasraya akan mengoptimalisasi aset properti perusahaan yang menganggur. (Ant).