sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Langkah Bank Indonesia hadapi rupiah yang memburuk

Nilai tukar rupiah memburuk menembus level psikologis Rp15.000 per dollar Amerika Serikat. Apa langkah Bank Indonesia?

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 04 Okt 2018 06:02 WIB
Langkah Bank Indonesia hadapi rupiah yang memburuk

Nilai tukar rupiah memburuk menembus level psikologis Rp15.000 per dollar Amerika Serikat. Apa langkah Bank Indonesia?

Dalam usaha menghadapi fenomena melemahnya rupiah, Gubernur BI Perry Warjiyo ingin agar semua pihak termasuk pemerintah untuk bekerja dan melakukan usaha bersama. Salah satu caranya adalah dengan menakar apa yang sedang terjadi dan membandingkannya dengan kejadian serupa di negara lain.

“Kita bandingkan dulu rupiahnya, supaya kita tidak melihat Rp15.000 itu kayaknya sudah kiamat gitu ya,” jelas Perry di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (2/10).

Sebelumnya dalam acara yang sama, Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Rizal Ramli berpendapat bahwa Indonesia harus berkaca pada Thailand yang sejak 10 tahun lalu mewajibkan seluruh ekspor masuk ke sistem. Bagi Rizal, sistem tersebutlah yang mendorong ekonomi mereka menjadi stabil.

Menimpali hal ini, Perry mengatakan, perbandingan antara Indonesia dan Thailand bukanlah perbandingan yang setara, terutama karena Thailand mengalami surplus sedangkan Indonesia mengalami devisit. Perbandingan yang sepadan harus dengan negara-negara yang mengalami devisit serupa.

Menurut BI, sampai hari ini nilai tukar rupiah melemah 9,82%, namun tetap harus dilihat bahwa kondisi ini lebih baik dari rupee milik India yang mengalami pelemahan 12,4%. Kemudian beberapa negara seperti Filipina dengan pesonya yang melemah 8,2%, Turki dengan tingkat kelemahan lira sebesar 37,3%, real Brazil 17,6%, rand Afrika Selatan 13,8%, dan ren Tiongkok 5,3% juga dapat dijadikan perbandingan.

Dalam hal berusaha bersama, Rizal memuji langkah BI yang meningkatkan tingkat bunga 0,25% sampai 0,5%. Selebihnya, kata Rizal, pemerintah belum mengambil langkah-langkah lain yang dapat membuat stabilitas ekonomi dengan usaha seimbang dari semua pihak.

“Mesin ini pincang, yang jalan itu hanya BI. Untuk menghadapi krisis ini, BI harus jalan, menteri ekonomi sektoral harus jalan, Menkeu harus jalan, baru akan jalan bekerja,” kata dia menjelaskan.

Sponsored