sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

'Legitnya' budi daya buah saat pandemi Covid-19

Konsumsi buah-buahan meningkat saat pagebluk.

Fatah Hidayat Sidiq
Fatah Hidayat Sidiq Minggu, 09 Agst 2020 06:27 WIB
'Legitnya' budi daya buah saat pandemi Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 266845
Dirawat 60431
Meninggal 10218
Sembuh 196196

Budi daya buah-buahan menjadi potensi saat pandemi coronavirus baru (Covid-19). Pangkalnya, kaya akan vitamin C, serat, dan antioksidan, dan kandungan lain yang menguatkan sistem kekebalan tubuh (imunitas).

Hal tersebut, ungkap Direktur Buah dan Florikultura Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Liferdi Lukman, memicu tingginya permintaan masyarakat saat pagebluk. Bahkan, menjadi "tulang punggung" pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2020.

"Di saat pandemi, seluruh sektor mengalami minus. (Pertumbuhan ekonomi) kita -5,32%. Namun, sektor pertanian tumbuh 16,24%," ucapnya dalam webinar "Tabulampot: Alternatif Pertanian Perkotaan," Sabtu (8/8).

Dirinya mengungkapkan, budi daya tanaman buah dalam pot (tambulapot) memiliki beberapa benefit secara bisnis. Alasannya, keuntungan lebih besar, tingkat keberhasilan tinggi, dapat berbuah di luar musim, mudah dipindah, dan dapat dikembangkan di berbagai lahan.

"Saat pandemi, Toko Trubus mencatat penjualan meningkat 300%. Kalau diseriusi, ini bisa menjadi sumber pendapatan utama karena menjanjikan, apalagi sekarang perekonomian sedang turun dan banyak pekerja kehilangan pendapatan di-PHK atau dirumahkan karena Covid-19," tuturnya.

Pengembangan buah-buahan di pekarangan rumah pun memiliki manfaat lain, seperti menurunkan stres; meningkatkan imunitas tubuh, kesehatan mental dan fisik, kualitas udara, serta produktivitas dan konsentrasi; dan fungsi kongnitif menjadi lebih baik.

"Jadi selain keuntungan ekonomi, tambulapot juga menjadi makanan 'kebatinan' bagi kita," jelas dia.

Liferdi pun mengajak masyarakat untuk membudidayakan buah-buahan di pekarangan rumahnya. Lantaran tren konsumsi kian meningkat seiring tingginya kesadaran masyarakat menjaga kesehatan dan baru 50% masyarakat yang memenuhi kecukupan anjuran.

Sponsored

"Pada dasarnya semua buah-buahan layak tabulampot. Namun, saya sarankan kita harus prospektif, menanam buah-buahan yang unggul, eksotik, komersial, dan produktivitasnya tinggi," ucapnya.

Tanaman buah berprospek tinggi secara ekonomi tersebut seperti golden melon, kelengkeng kateki, jambu air citra, srikaya rovi, durian bawor, jambu kristal, dan alpukat cipedak.

Eks Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat (BPTP Jabar) ini lantas membuat simulasi keuntungan yang diraup dengan budi daya kelengkeng kateki secara tabulampot.

Jika sebuah desa yang terdiri dari 3.000 kepala keluarga (KK) dan setiap KK menanam 20 pohon kelengkeng, maka tertanam 60.000 pohon. Apabila produktivitas optimal tanaman 20 kilogram (kg) per pohon per tahun, sehingga memproduksi 1.200 ton per tahun.

"Sehingga, jika setiap KK memproduksi 20 kilogram per tahun dengan harga Rp30.000 per kilogram, maka desa itu mendapatkan Rp36 miliar setiap tahunnya dari budi daya kelengkeng kateki," urainya.

"Kalau ongkos produksi selama dua tahun sebesar Rp18 miliar atau untuk benih, prasarana, dan pemeliharaan sebesar Rp300.000 per pohon, maka kentungan yang didapat pada tahun pertama panen mencapai Rp18 miliar. Ini sangat menjanjikan," sambungnya.

Liferdi melanjutkan, Ditjen Hortikultura tengah menggencarkan Program Gerakan Mendorong Peningkatan Produksi, Berdaya Saing, dan Ramah Lingkungan (Gedor) Horti. 

"Produktivitas digenjot melalui pengembangan kawasan di agroklimat, baik di lahan sempit, lahan tidur, maupun lahan marjinal. Semua lahan kita intensifkan. Di setiap wilayah kita masifkan penanaman satu varietas unggul yang berorientasi ekspor," urainya.

Dalam pelaksanaannya, Kementan melibatkan kelompok tani (poktan) dan pihak-pihak berkepentingan (stakeholder) lainnya dengan target investasi Rp6,35 triliun. Adapun sumber investasi permodalan dari negara 3-5%, kredit usaha rakyat (KUR) 42,65% atau Rp2,73 triliun, dan sisanya dari daerah, swasta, serta badan usaha milik negara (BUMN).

Sementara itu, penerapan teknologi ramah lingkungan direalisasikan melalui penguatan kelembagaan perlindungan, penerapan pengendalian hama terpadu (PHT), mewujudkan desa organik, serta menggalakkan gerakan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).

"Untuk meningkatkan daya saing, kami penerapkan sertifikasi GAP (good agricultural practices), GHP (good handling practices), dan organik. Kemudian, mengembangkan hilirisasi, baik pascapanen, pengolahan, standardisasi mutu, sampai pemasan," ujarnya.

"Upaya berikutnya, mendorong investasi dan pemanfaatan KUR. Juga pengembangan SDM (sumber daya manusia) dan Program Sejuta Petani Horti Milenial," imbuh Liferdi.

Pada tahun ini, Ditjen Hortikultura fokus mengembangkan lima komoditas di sejumlah daerah. Mencakup pisang, mangga, salak, nanas, dan manggis.

Berita Lainnya
×
img