sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

LPS prediksi kredit macet perbankan di kisaran 2,7%

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memprediksi non performing loan (NPL) masih bisa terjaga di bawah 3%.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 04 Nov 2019 21:25 WIB
LPS prediksi kredit macet perbankan di kisaran 2,7%

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyebut kredit macet (non-performing loan/NPL) perbankan masih akan berada di kisaran 2,6%-2,7% hingga akhir tahun 2019.

Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan, mengatakan ketika krisis global 2008 dan resesi global 2009, NPL bahkan berada lebih tinggi dari kisaran tersebut.

"Kita lihat dengan tingginya bantalan permodalan perbankan Indonesia, dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil, turunnya suku bunga rupiah, dan suku bunga global, NPL masih bisa terjaga di bawah 3%," kata Fauzi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (4/11).

Fauzi mengatakan, angka NPL masih bisa tetap naik. Namun, dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif aman, ancaman NPL naik tajam tersebut relatif kecil.

Adapun untuk proyeksi likuiditas perbankan pada 2020, Fauzi mengatakan hal tersebut akan membaik. Sebab, suku bunga global masih redah dan belum akan memperketat likuiditas global.

"Untuk sementara ini, tidak ada ancaman kenaikan suku bunga global tajam yang akan memperketat likuiditas global," ujar Fauzi.

Sebab, lanjut Fauzi, Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve telah memangkas suku bunga acuan sebesar 75 basis poin dari 2,5% menjadi 1,75%. Bahkan, lanjut Fauzi, pelaku pasar masih memperkirakan suku bunga acuan The Fed bisa turun 25 bps lagi.

"Kalau kita lihat, suku bunga acuan bank sentral Eropa, Tiongkok, dan Jepang, akan tetap stabil. Sehingga, suku bunga global setahun ke depan akan tetap rendah," tutur Fauzi.

Sponsored

Dengan demikian, lanjut Fauzi, investor global akan melirik negara dengan imbal hasil yang lebih tinggi di aset non-dollar AS, termasuk ke Indonesia. Sebab, suku bunga di beberapa negara sudah berada pada kisaran negatif.

"Dengan masuknya aliran modal ke pasar obligasi kita, otomatis imbal hasil turun. Ini membuat likuiditas mambaik," ujar Fauzi.