logo alinea.id logo alinea.id

Luhut minta Jepang percepat realisasi investasi perikanan

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan bertemu Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang Hiroshige Seko.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Jumat, 31 Mei 2019 11:55 WIB
Luhut minta Jepang percepat realisasi investasi perikanan

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan meminta pemerintah Jepang untuk mempercepat realisasi sejumlah kerja sama, seperti rencana budi daya perikanan di kawasan Natuna.

Hal itu ia sampaikan saat pertemuan dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang Hiroshige Seko, beberapa waktu lalu.

"Kita bicara mengenai budi daya ikan di Natuna maupun di Maluku Utara, juga akuakultur di Natuna maupun di Sabang. Kemarin dengan Minister Seko, saya tanya lagi, 'Kapan mau implementasi?' Daripada kita 'ngomong-ngomong' saja," kata Luhut di Jakarta, Kamis (30/5).

Luhut juga menyinggung realisasi kerja sama penjagaan laut (coast guard) dengan Jepang. Menurut dia, sejak pertemuan dengan PM Shinzo Abe tiga tahun lalu, wacana kerja sama di dua sektor itu masih belum tampak realisasinya.

Tidak hanya membahas mengenai rencana kerja sama dengan Jepang, pertemuan dengan Menteri Seko juga membahas sejumlah proyek strategis kedua negara seperti Pelabuhan Patimban, kelanjutan MRT Jakarta, hingga kereta Jakarta-Surabaya.

Mantan Menko Polhukam itu mengaku, dalam pertemuan dengan Menteri Seko, ia menekankan tentang pentingnya meningkatkan kandungan lokal.

"Local content yang ada sekarang itu harus ditigkatkan karena kami ingin industri kami semakin baik," ujarnya.

Pihak Jepang, disebut Luhut, telah sepakat untuk melakukan transfer teknologi untuk produksi kapal di PT PAL (Persero). Sementara itu, di proyek Pelabuhan Patimban, Jepang setuju untuk bisa meningkatkan kandungan lokal di sejumlah fasilitas pendukung.

Sponsored

"Patimban itu sekarang katanya sudah 69% target mereka untuk konten lokal, saya bilang, 'Tinggiin lagi deh.' Seperti pipa-pipa masih banyak kita impor, padahal kita punya banyak pabrik pipa. Dan mereka, saya lihat setuju. Kami bicara detail mengenai itu," ujarnya. (Ant)