Memulihkan pariwisata Lombok dari cedera pascagempa

Lombok dalam status tanggap bencana selama tiga pekan. Para pelaku usaha pariwisata masih berupaya agar Lombok tetap ramah bagi pendatang.

Memulihkan pariwisata Lombok dari cedera pascagempa Aerial kondisi Gili Trawangan, Lombok Utara, NTB, Kamis (9/8)./Antara Foto

Lombok berduka. Musibah gempa bukan hanya meratakan ribuan rumah dan menewaskan warga. Pariwisata yang menjadi sektor andalan Lombok juga ikut terguncang. Setelah gempa pertama (28/7) terjadi, disusul gempa besar berikutnya pada (5/8), warga dan wisatawan panik.

Bukan tanpa alasan Lombok dijuluki mutiara dari timur Indonesia. Keindahan alam Lombok memang tak tertandingi. Jangan pula buru-buru membandingkannya dengan Pulau Dewata. Lombok cantik dengan alamnya sendiri. Matahari terbenam sempurna di Senggigi dan strawberry tumbuh segar di Sembalun kaki Rinjani.

Daya tarik Lombok sudah mencuri perhatian wisatawan, baik dari mancanegara dan Indonesia. Tercatat, pada 2013 hingga 2017 jumlah wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus) ke Lombok terus meningkat.

Kini, Lombok dalam status tanggap bencana selama tiga pekan. Di tengah situasi ini, para pelaku usaha pariwisata masih melakukan sejumlah upaya untuk menjaga Lombok tetap ramah bagi pendatang. 

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia NTB, Lalu Abdul Hadi Faishal, mengatakan, kepanikan terjadi saat isu tsunami pecah di Nusa Tenggara Barat. Seluruh warga berbondong-bondong meninggalkan pemukiman. 

Tidak hanya itu, wisatawan juga berhamburan meninggalkan tempat peristirahatan dan penginapan. Menurut dia, kepanikan seperti ini biasanya tidak terjadi jika hanya ada gempa. 

“Sebetulnya eksodus tidak akan terjadi kalau isu tsunami tidak digemborkan. Tapi isu ini terlanjur menyebar. Wisatawan di pulau-pulau Gili pada malam hari langsung meninggalkan tempat wisata untuk mencari bukit atau tempat yang lebih tinggi,” kata Hadi saat dihubungi Alinea.id dari Jakarta, Rabu (8/8).

Selain itu, para wisatawan yang sudah memesan kamar hotel juga melakukan pembatalan saat isu tsunami menyebar. Hadi mengakui tingkat keterisian kamar (okupansi) hotel sempat turun hingga 70%. Padahal biasanya rata-rata okupansi kamar berada di kisaran 80%. Apalagi memasuki tengah tahun hingga akhir tahun saat high season, okupansi kamar hotel di NTB semakin meningkat.

“Kami boleh berbangga karena rata-rata okupansi kamar di Provinsi Nusa Tenggara Barat ini paling tinggi di antara daerah lain di Indonesia,” kata dia.

Meski demikian, Hadi mengatakan masih banyak turis yang memutuskan tetap tinggal dan menikmati wisata Lombok. Sekitar 15% dari total pengunjung masih berada di sekitar Senggigi, Kota Mataram, dan Mandalika. Bahkan, banyak wisman yang baru berdatangan ke Lombok saat bencana alam itu terjadi.

Berdasarkan hal tersebut, Hadi optimistis pariwisata Lombok akan pulih dalam sepekan ke depan. Apalagi, para pengelola pariwisata sudah memiliki sejumlah langkah antisipasi pascabencana tersebut.

“Seminggu ke depan akan pulih kembali karena kami pelaku pariwisata sangat tangguh menghadapi hal demikian. Kami siap melakukan recovery pascabencana. Selain itu, kami terus melakukan promosi dan menjelaskan sejarah serta karakteristik (geografis) Lombok, bahwa gempa sempat terjadi 45 tahun lalu, tapi tsunami belum pernah ada,” katanya.

Ke depan, Hadi berharap agar pemerintah lebih tanggap dan siaga jika terjadi bencana alam, khususnya di kawasan pariwisata yang sangat reaktif terhadap isu bencana. Selain itu, dia juga meminta pihak-pihak lain termasuk masyarakat untuk tidak menyebarkan isu bohong (hoax) terkait bencana alam.

Menurut Hadi, para pengusaha di sektor pariwisata berusaha membantu pemerintah untuk mewujudkan target kunjungan wisman sebanyak 4 juta pada 2018. Dari data Dinas Pariwisata NTB, selama tahun lalu, jumlah kunjungan wisman ke NTB mencapai 3,8 juta. 

Senada dengan PHRI, Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) optimistis kondisi pariwisata Lombok akan normal kembali dalam waktu seminggu. Ketua ASITA NTB, Dewantoro Umbu Joka, mengatakan, memang terjadi pembatalan kunjungan dari wisatawan untuk 4-5 hari ke depan. Namun setelah itu, dia berharap tidak ada lagi pembatalan pemesanan.

"Kami bisa memaklumi bila ada pembatalan saat ini. Namanya juga bencana alam. Namun pemesanan untuk dua minggu sesudahnya semoga tidak ada pembatalan. Kami juga terus proaktif menyampaikan informasi valid kepada calon wisatawan," ujar Dewantoro.

Sebab itu, lanjut Dewantoro, pihaknya terus berkoordinasi dengan lembaga Pemerintah untuk mendapatkan informasi terbaru. Hal ini juga untuk menangkal hoax dari orang yang tidak bertanggung jawab yang beredar.

"Setiap hari kita tongkrongin crisis center Kementerian Pariwisata yang ada di Dinas Pariwisata NTB dan kami pantau terus informasi-informasi dari BMKG dan kepolisian," ungkapnya.

Dewantoro melanjutkan, keyakinan pihaknya berlandaskan informasi valid tersebut. Ditambah, infrastruktur yang ada di objek-objek wisata hanya mengalami kerusakan ringan. 

"Kami sudah mendapatkan informasi bahwa infrastruktur di objek wisata tidak begitu parah. Baik itu aksesnya maupun fasilitasnya," ujar Dewantoro.

Dalam waktu dekat ini, pihaknya akan terus mempromosikan wisata yang ada di NTB. Untuk agenda-agenda atraksi yang akan digelar di NTB, sampai saat ini juga belum mengalami perubahan jadwal dan lokasi.

"Nanti kami akan lanjut berpromosi dan jualan paket ke calon wisatawan. Dengan terus berkoordinasi bersama crisis center. Memang ada sejumlah agenda MICE yang dialihkan ke Makassar saat ini. Namun untuk agenda atraksi wisata belum ada perubahan," pungkasnya.

Travel advice dari 15 negara

Hingga Rabu (8/8), terhitung 15 negara yang mengeluarkan travel advice ke Lombok. Adapun 15 negara tersebut adalah Prancis, Selandia Baru, Inggris, Siprus, Luxemburg, Belgia, Jerman, Kanada, Tiongkok, Australia, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Brasil, dan Swiss. Hal ini tentunya memberi dampak langsung pada pariwisata Indonesia, khususnya jumlah kunjungan wisman.

Menpar Arief Yahya telah menghitung imbas dari gempa bumi ini yaitu sekitar 100.000-an wisman. “Begini, perbandingan jumlah wisman Bali dan Lombok itu 5:1, jika di Bali setahun dibulatkan 5 juta, di Lombok 1 juta. Lalu masa bencana di Bali lebih lama, dibandingkan Lombok, perbandingan 2:1. Maka jika di Bali 2017 lalu berdampak 1 juta kunjungan, di Lombok 1:10-nya, atau 10%-nya, jadi 100.000-an,” kata Menpar Arief Yahya. 

Penurunan jumlah wisman ini tentunya juga memberi dampak ekonomis. Dengan asumsi satu wisman mendapat US$1.000 per kunjungan, penurunan bisa mencapai US$ 100 juta. Jumlah ini ditambah lagi dengan kunjungan wisnus dengan spendingnya sekitar Rp 850.000 per kunjungan.

Di lokasi bencana, Kementerian Pariwisata merespons cepat bencana gempa di Lombok dengan mengaktivasi Tim Crisis Center Kemenpar. Pusat penanganan bencana ini bertugas memantau Akses, Amenitas dan Atraksi (3A) yang terkait langsung dengan para wisatawan di Lombok dan Bali.

Tim Tourism Crisis Center masih siaga melakukan penanganan wisatawan hingga Rabu (08/08). Tim TCC bersama Kadisparprov NTB melakukan penyisiran di Kepulauan Gili (Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno) untuk berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, guna memantau dan memastikan wisman yang masih berada di Kepulauan Gili dalam keadaan aman.

Tim TCC Kemenpar juga melaporkan penerbangan dari dan menuju LOP beroperasi normal, walaupun jumlah wisatawan yang berada di bandara semakin berkurang. Tourist Information Lombok (TIC) juga masih membuka pelayanan untuk menangani turis di LOP.
 


Berita Terkait