logo alinea.id logo alinea.id

Menaruh harap pada industri manufaktur

Industri manufaktur diharapkan bisa menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Cantika Adinda Putri Noveria Sabtu, 09 Feb 2019 21:08 WIB
Menaruh harap pada industri manufaktur

Dari tahun ke tahun, industri manufaktur menyumbang kontribusi sebesar 20% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2018, kontribusi manufaktur ke PDB mencapai 20,5% atau lebih tinggi dari kontribusi rata-rata industri lainnya. 

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas)  Bambang Brodjonegoro mengatakan industri manufaktur bisa diandalkan untuk menopang perekonomian Indonesia ke depan. 

Bambang mengatakan, langkah yang bisa dilakukan untuk mendorong industri ini adalah menetapkan satu produk manufaktur yang bisa menjadi andalan. Bambang menyebut pengembangan poduk manufaktur akan meningkatkan nilai tambah.

“Salah satu masalah di manufaktur saat ini adalah kompleksitas produknya masih rendah. Itu berimplikasi pada nilai tambah yang rendah,” ujar Bambang di Jakarta, Jumat (8/2). 

Dia juga menyebut, pemerintah tengah menggandeng Asian Development Bank (ADB) memetakan kebijakan untuk menudukung pembangunan sektor manufaktur tahun 2020-2024.

Direktur Jenderal Departemen Asia Tenggara Asian Development Bank Ramesh Subramaniam mengungkapkan Indonesia juga harus mengajak swasta untuk mengembangkan manufaktur di dalam negeri. 

Ramesh mengatakan beberapa langkah yang bisa ditempuh pemerintah untuk menggenjot industri manufaktur yakni membuat kebijakan yang tepat, beralih ke industri manufaktur yang berorientasi sumber daya alam, serta berhati-hati membuka industri manufaktur yang besar.
 
"Diversifikasi sektor manufaktur juga penting, untuk mencapai target perekonomian yang lebih tinggi. Pemerintah berperan penting dalam merevitalisasi sektor manufaktur melalui kerjasama yang lebih efektif dengan sektor ini," katanya. 

Sponsored

Kebijakan tumpul

Penasihat Departemen Penelitian Ekonomi dan Kerja sama Regional ADB, Jesus Felipe memandang, tenaga kerja industri manufaktur saat ini dominasi oleh pekerja berkemampuan rendah (90,45%). Hal ini yang membuat produktivitas sektor ini minim. 

Oleh sebab itu, kata dia, sektor swasta memiliki peran penting untuk meningkatan produktivitas ekonomi dari sisi tenaga kerja. Misalnya, melalui proses peningkatan keterampilan lewat program vokasi. 

Pemerintah juga disarankan untuk memikirkan kembali sistem insentif yang ditargetkan pada sektor manufaktur. 

"Untuk menyesuaikan insentif dengan karakteristik sektor tersebut, produksi padat karya dengan ekonomi berlimpah dengan perusahaan kecil untuk memproduksi produk yang tidak terlalu rumit," ujar dia.

Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan mengungkapkan selama ini pemerintah tidak memiliki arah kebijakan yang jelas dalam mendorong industrilisasi. 

Anton menyebut barang komoditas manufaktur yang dihasilkan Indonesia lebih banyak di hulu, sementara di hilir sedikit apalagi untuk barang antara. 

Dia juga tidak setuju jika Indonesia secara keseluruhan mengekspor semua barang-barang manufaktur. Indonesia juga tidak serta-merta harus berpindah dari sumber daya alam ke sektor olahan atau manufaktur. 

"Tetep manufacturing dikembangkan, tapi basednya adalah termasuk untuk energi, kita bisa kembangkan basednya dari natural resources," imbuhnya. 

Satu hal penting yang disoroti Anton adalah mengenai tata hukum untuk tenaga kerja. Salah satu hambatan yang dianggap cukup penting, baik untuk tenaga kerja dan asing adalah karena labor law yang kurang efisien dan fleksibel, termasuk produktivitasnya. Misalnya kata dia, pelatihan untuk meningkatkan produktivitas.

Senada, Ketua Divisi Industrial Kadin Indonesia Achmad Wijaya menilai, pengelolaan sektor manufaktur di Indonesia sekarang belum begitu baik. Meskpiun, saat ini pemerintah sedang giat membangun infrastruktur untuk mendorong industri. 

Pembangunan masif infrastruktur itu, kata Achamad, tidak pararel dengan industrilisasi. 

"Sehingga sekarang tolnya sudah jadi, barangnya tidak ada. Kan jadi kurang produktivitas di industri. Karena bahan baku banyak yang impor, apalagi dengan dollar yang kondisinya tidak menentu," ujar dia

Harapan pada manufaktur

Dalam buku 'Policies to Support The Development of Indonesia's Manufacturing Sector during 2020-2024' yang ditulis Bappenas dan ADB, industri manufaktur berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,68% pada 2020-2024, atau bisa mencapai 5,54% pada 2024. 

Bahkan, dalam skenario yang baik, potensi pertumbuhan ekonomi diprediksi meningkat hingga rata-rata 6,31% pada tahun 2020-2024. Selanjutnya, diproyeksikan mencapai 6,15% pada tahun 2024.

“Dalam skenario buruknya, pertumbuhan ekonomi rata-rata bisa mencapai 5,52% pada 2020-2024 dan sebesar 5,38% pada 2024,” ditulis dalam buku tersebut.

Meski demikian, Bappenas dan ADB memprediksi, apabila sektor manufaktur bisa dikelola dengan baik, tetap saja pertumbuhan ekonomi sampai 2024 tidak mampu mencapai 7% sesuai target Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Hal itu karena adanya akumulasi dari pendapatan perkapita masyarakat Indonesia dan tingkat pertumbuhan populasi usia kerja, yang ada di dalam semua skenario yang dirancang oleh Bappenas dan ADB.