sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Menko Darmin: Rupiah bisa menguat

Rupiah di pasar keuangan ditutup menguat pada level Rp14.082 per dollar AS. Sebelumnya, pagi tadi dibuka pada level Rp14.177 per dollar AS.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Senin, 07 Jan 2019 18:41 WIB
Menko Darmin: Rupiah bisa menguat

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan level rupiah saat ini masih tergolong di bawah nilai fundamental atau under value. Darmin mengatakan rupiah masih bisa menguat, namun tidak dengan cepat.

"Rupiah masih undervalue, bisa menguat lebih lanjut tapi tidak otomatis. Di dunia ini kan gonjang-ganjing juga. Kadang begini, kadang begitu. Tapi, pelan-pelan arahnya akan masih menguat," ujar Darmin di Jakarta, Senin (7/1).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar keuangan ditutup menguat pada level Rp14.082 per dollar AS pada Senin (7/1). Sebelumnya, pagi tadi dibuka pada level Rp14.177 per dollar AS. Namun, penguatan rupiah masih tergolong undervalue. 

Senada, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah mengatakan, penguatan rupiah juga diwarnai optimisme atas prospek hasil negosiasi kesepakatan sengketa dagang antara Amerika dan China. 

Selain itu, hal tersebut juga disebabkan perubahan sikap Chairman FOMC The Fed atas lintasan suku bunga Amerika Serikat. Tidak seperti sebelumnya, The Fed dengan tegas menyebut akan menaikkan suku bunga dua kali di 2019.

"Pasca jatuhnya harga saham di AS, kali ini The Fed menyiratkan akan lebih fleksibel dan akan menunggu perkembangan data ekonomi ke depan," kata Nanang. 

Terpisah, Wakil Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, volatilitas rupiah masih dibayangi ketidakpastian global. Terlebih kebijakan Presiden AS, Donald Trump yang tidak bisa ditebak seperti apa. 

Shinta mengatakan pengusaha berharap rupiah bisa menguat ke level sampai Rp13.000 per dollar AS. 

Sponsored

"Sebenarnya, yang jadi persoalan terhadap rupiah kata dia adalah persoalan fluktuasi level rupiah.  Karena kalau tidak stabil sangat merugikan. Karena kita banyak ekspor dan impor. Yang penting kita bisa remain stabil," kata Shinta. 

Saat ini, kata Shinta, pengusaha sedang berusaha untuk tidak tergantung menjalankan bisnisnya menggunakan mata uang dollar. 

"Jadi sudah mulai menggunakan mata uang asing seperti yuan. Sekarang yuan sudah di recognized, jadi bagaimana caranya bahwa perdagangan bisa menggunakan mata uang selain dollar AS," kata Shinta.