logo alinea.id logo alinea.id

OJK kerek target pertumbuhan kredit perbankan jadi 13%

Setelah Bank Indonesia memangkas suku bunga, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya menaikkan target pertumbuhan kredit perbankan menjadi 13%

Ardiansyah Fadli
Ardiansyah Fadli Rabu, 24 Jul 2019 17:22 WIB
OJK kerek target pertumbuhan kredit perbankan jadi 13%

Setelah Bank Indonesia memangkas suku bunga, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya menaikkan target pertumbuhan kredit perbankan menjadi 13% pada 2019.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengaku optimistis pertumbuhan kredit perbankan pada tahun ini dapat menyentuh angka 13% secara tahunan (year-on-year/yoy). OJK memproyeksikan pertumbuhan kredit tahun ini berada pada rentang 11%-13% yoy.

Awal tahun ini, OJK sempat memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan mencapai 14%-15%. Namun kemudian OJK merevisi target itu hingga 9%-11% yoy. 

Kini, OJK kembali optimistis setelah BI menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah sebesar 0,5% dan memangkas suku bunga acuan 7-days reverse repo rate sebesar 25 basis poin ke level 5,75%.

"Ini adalah amunisi yang bagus untuk kita tetap optimistis di target pertumbuhan kredit di akhir tahun kurang lebih 12% plus minus 1%. Oleh karena itu, proyeksi sampai akhir tahun kami optimistis bisa tercapai, kemarin kami pesimistis karena belum ada tanda-tanda pelonggaran," kata Wimboh dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Rabu (24/7).

Lembaga pengatur dan pengawas industri perbankan itu juga memperhitungkan kemungkinan penurunan kembali suku bunga acuan Bank Sentral pada lima bulan terakhir di tahun ini sesuai sinyalemen yang disampaikan BI dalam beberapa hari terakhir.

Dalam paparannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada pertengahan Juni 2019 lalu, Wimboh melontarkan bahwa dampak perang dagang global telah menekan pertumbuhan permintaan ekspor dan ekspansi dunia usaha. Sehingga pada saat Juni 2019 lalu, OJK merevisi target pertumbuhan kredit menjadi 9%-11% yoy pada tahun ini.

"Kemarin (kami) pesimistis karena belum melihat tanda-tanda pelonggaran kebijakan moneter. Sekarang optimistis bisa mencapai target pertumbuhan kredit di 12% plus minus 1%," tambah dia.

Sponsored

Wimboh berharap penurunan suku bunga kebijakan Bank Sentral segera direspons pelaku pasar, sehingga dapat berdampak pada suku bunga simpanan serta kredit perbankan. Jika pelonggaran suku bunga kebijakan Bank Sentral berhasil ditransmisikan ke suku bunga simpanan perbankan, maka tantangan likuiditas yang mendera industri perbankan selama semester I-2019, bisa berkurang di semester II-2019.

"Soal likuiditas saya harap tidak ada masalah lagi. Suku bunga kredit selama ini cenderung flat, dan trennya akan turun juga. Jadi tidak ada masalah dengan yang sebelumnya," ujar dia.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana menambahkan pihaknya sejauh ini masih terus memantau dampak menurunnya ekspor dan impor Indonesia akibat perang dagang terhadap kemampuan bayar para debitur perbankan. Menurut Heru, belum ada dampak signifikan dari perang dagang dan perlambatan ekonomi global yang merembet ke kinerja bisnis perbankan.

"Sejauh ini belum ada pengaruhnya ke Rasio Kredit Bermasalah (Non Performing Loan/NPL). Mereka (perbankan) juga sudah menyiapkan rencana dan antisipasi untuk dampak dari perang dagang," ujar dia.

Per Juni 2019, kredit perbankan masih bertumbuh di 9,92% yoy, namun melambat jika dibandingkan Mei 2019 yang sebesar 11% yoy. Pertumbuhan kredit itu ditopang penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang naik sebesar 7,42% yoy karena meningkatnya pertumbuhan deposito dan giro perbankan.

Dari kualitas kredit, terlihat NPL sebesar 2,5% atau terendah pada posisi akhir Semester-I dalam lima tahun terakhir.